Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 10 of 24
Like Tree13Likes

Thread: Kisah Tragis Dibalik Lagu "Hymne Guru"


  1. #1
    Senior Member
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    2,181
    Rep Power
    6

    Kisah Tragis Dibalik Lagu "Hymne Guru"

    Siapa yang tak kenal lagu ini lirik hymne guru berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa“? Masih terngiang betapa di era 1980-an, lagu ini sangat sering dinyanyikan di sekolah-sekolah. Sebab setiap upacara bendera pada hari Senin, lagu ini selalu dinyanyikan.



    Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan kemudian menjadi ikon yang disematkan kepada para guru. Siapa sangka bila “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya dialami si pencipta lagu tersebut. Ya, Sartono, pencipta lagu yang juga guru itu di masa senjanya hidup dalam kesederhanaan. Laki- laki asal Madiun yang genap berusia 72 tahun, 29 Mei ini, tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun. Sejak ia mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun pada 1978, hingga “pensiun” pada 2002 lalu, Sartono tetap menyandang guru honorer. Ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

    Kawan-kawan sesama guru sempat membantu mengajukan dia menjadi PNS. “Katanya sih sering diajukan nama saya, tetapi sampai saya pensiun dari tugas sebagai guru, PNS untuk saya kok tidak datang juga,” kata Sartono.

    Sartono memang minder dengan latar belakang pendidikannya yang tak tamat SMA. Ia mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus, berbekal bakatnya di bidang musik. Sartono yang beragama Islam itu melamar di Santo Bernadus berbekal sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah.

    Hidup serba dalam kesempitan, tak membuat Sartono meratapi nasib. Ia merasa terhibur, dengan kebersamaan dengan Damiyati, BA, 59 tahun, isterinya yang guru PNS. Damiyati dinikahi Sartono pada 1971. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

    Kehidupan sehari-harinya kini hanya dari pensiun istrinya yang tak lebih dari dari Rp 1 juta. Sartono sendiri kala masih aktif mengajar, gajinya pada akhir pengabdiannya sebagai guru seni musik cuma Rp 60.000 per bulan. “Gaji saya sangat rendah, bahkan mungkin paling rendah diantara guru-guru lainnya,” katanya mengenang masa lalunya.

    Kala masih kuat, Sartono menambal periuk dapurnya dengan mengajar musik. Sepekan sekali, Sartono yang pandai bermain piano, gitar, dan saksofon, ini rutin mengajar kulintang di Perhutani Nganjuk, sekira 60 kilometer dari rumahnya di Madiun.



    BERMULA DARI LOKANANTA


    Jalan menjadi guru berawal dari kegemarannya bermain musik. Putra sulung dari lima bersaudara ini sebenarnya lahir dari keluarga cukup berada. Maklum, ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sartono kecil memang suka bermain musik secara otodidak. Namun, hidup nyaman tak bisa dirasakan berlama-lama. Ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat.

    Sartono, bersama empat adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti, tak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia sendiri putus sekolah kala kelas dua di SMA Negeri 3 Surabaya. Ia kemudian bekerja di Lokananta, perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

    Selepas kerja di Lokananta, Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian. “Di sana selama tiga bulan,” jelasnya.

    DARI SECARIK KORAN

    Ihwal penciptaan lagu himne guru itu boleh dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1980, Sartono tengah naik bis menuju Perhutani Nganjuk, untuk mengajar kulintang. Di perjalanan, secara tidak sengaja ia membaca di secarik koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Waktu yang tersisa dua pekan, untuk merampungkan lagu.

    Sartono yang tak bisa membaca not balok ini, mulai tenggelam dalam kerja keras mengarang lagu saban harinya. “Saya mencermati betul seperti apa sebenarnya guru itu,” jelas Sartono sambil memulai membuat lagu itu.

    Waktu sudah mepet, lagu belum juga jadi. Sartono pusing bukan kepalang. Syairnya masih amburadul. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Ia bahkan tak turut beranjang sana mengantar istri dan dua keponakannya silaturrahmi ke orangtua dan sanak famili. “Saat itu kesempatan bagi saya untuk membuat lagu dan syair secara serius,” katanya. “Waktu itu saya merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.”

    Awalnya, lirik yang ia ciptakan kepanjangan. Padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. Sartono pun berkali- kali mengkajinya untuk mengetahui mana yang harus dibuang. “Karena panjang sekali, maka saya harus membuang beberapa syairnya,” jelas Sartono. Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

    “Guru itu juga pahlawan. Tetapi selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara,” katanya.

    Persoalan tak begitu saja beres. Lagu ada, Sartono kebingungan mengirimnya ke panitia lomba di Jakarta. Sebab ia tidak punya uang untuk biaya pengiriman via pos. “Akhirnya saya menjual jas untuk biaya pos,” katanya. Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer,” kata Sartono.

    PENGHARGAAN MINIM

    Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih. Nampak piagam berpigura dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang diberikan pada 2005. Pak Gubernur juga memberikan bantuan Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

    Piagam lainnya diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin pada 2000. Kemudian piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo pada 2005, plus bantuan uang. “Isinya enam ratus ribu rupiah,” kata Sartono.

    Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

    Meski minim perhatian, Sartono tetaplah bangga, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

    http://indonews.org/kisah-tragis-dib...gu-hymne-guru/
    Last edited by bemine; 26-11-11 at 02:30 PM.
    maspras and shintas like this.

  2. #2
    Senior Member
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    1,239
    Rep Power
    0
    Last edited by priyatin; 28-11-11 at 06:19 AM.
    shintas likes this.

  3. #3
    Senior Contributor
    Join Date
    Dec 2010
    Posts
    7,427
    Rep Power
    0

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    kasian sekali ya..
    di masa tuanya dia hidup sangat sederhana..

  4. #4
    Member SMARTNEWZ's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Boyolali
    Posts
    775
    Rep Power
    0

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    salut ane kepada bapak, jasa begitu besar...............

  5. #5
    Junior Member INERTSEVEN's Avatar
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    475
    Rep Power
    0

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    wah jadi gitu ya........ salut dah ane......... patut dicontoh tuh......

  6. #6
    Contributor Taiko-san's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    3,399
    Rep Power
    16

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    biasanya orang seperti ini tidak perlu dikasihani..
    apalalgi kalo hanya berdasarkan kekurangan materi..
    mereka mempunyai persfektif yg berbeda tentang kekayaan..

    perhatikan aja wajahnya di kedua gambar di atas..
    apa itu tampang yg minta dikasihani??
    wajah itu menggambarkan ketulusan..
    percaya diri..
    gairah kehidupan..
    dia begitu menikmati hidup..

    takarannya bukan materi..
    sebab..
    dia seorang "seniman"..
    shintas likes this.

  7. #7
    Senior Member Mr.Shock's Avatar
    Join Date
    Feb 2008
    Posts
    1,513
    Rep Power
    9

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    Kenapa yah, orang Indo suka dengan gelar pahlawan, ada pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan devisa.
    Bukankah kedua "pahlawan" yang dimaksud itu adalah profesi ?
    Apakah tentara yang gugur di medan perang itu pahlawan ? Bukankah itu resiko profesi namanya ?

    Pahlawan menurut wikipedia

    http://id.wikipedia.org/wiki/Pahlawan
    shintas likes this.

  8. #8
    Senior Member Mr.Shock's Avatar
    Join Date
    Feb 2008
    Posts
    1,513
    Rep Power
    9

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    Kenapa yah, orang Indo suka dengan gelar pahlawan, ada pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan devisa.
    Bukankah kedua "pahlawan" yang dimaksud itu adalah profesi ?
    Apakah tentara yang gugur di medan perang itu pahlawan ? Bukankah itu resiko profesi namanya ?

    Pahlawan menurut wikipedia

    http://id.wikipedia.org/wiki/Pahlawan
    shintas likes this.

  9. #9
    Contributor tamandewi's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    http://tips-cara.info
    Posts
    3,803
    Rep Power
    7

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    wah mestinya dapat tunjangan dari pemerintah tuh...

  10. #10
    Junior Member
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    177
    Rep Power
    0

    Re: Kisah Tragis Dibalik Lagu “Hymne Guru”

    wah, nice post banget
    terharuu.. memang sepantasnya dapet penghargaan lebih
    tapi sepertinya penghargaan lebih bisa dirasakan Sartono ketika orang2 menyanyikan lagu ciptaanya.

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0