|
|
|
|||||||
| PORTAL | FORUM | RULES | Register | FAQ | Members List | Calendar | ARCADE | Search | Today's Posts | Mark Forums Read |
| Nasional Diskusi mengenai beragam peristiwa dan isu nasional. |
|
Selamat Datang di KompasForum! Saat ini Anda masih berstatus tamu di KompasForum dan hanya mendapatkan akses terbatas pada diskusi, fasilitas serta layanan yang ada. Dengan menjadi anggota KompasForum, Anda dapat berinteraksi dan berpartisipasi secara aktif, serta memanfaatkan seluruh fitur yang ada. Proses registrasinya mudah, cepat, dan gratis. Jadi tunggu apalagi, klik disini untuk daftar menjadi member KompasForum!. |
![]() |
|
|
LinkBack | Thread Tools | Display Modes |
|
|||
|
Ini adalah fenomena baru dalam dunia politik praktis di tanah air, para mantan aktivis mahasiswa yang dulu lantang mengecam pemerintah dan parlemen, sekarang sebagian mereka ikut sibuk pengen masuk parlemen.
Taktis, Pragmatis, atau Petualangan http://www.kompas.com/read/xml/2008/...au.petualangan Selasa, 26 Agustus 2008 | 06:34 WIB Selain artis dan anggota keluarga pengurus inti partai politik, daftar sementara calon anggota legislatif peserta Pemilihan Umum 2009 juga diisi sejumlah aktivis gerakan mahasiswa tahun 1998. Apakah ini menjadi salah satu tanda positif dari proses demokratisasi di Indonesia, khususnya terkait dengan kaderisasi kepemimpinan nasional? Aktivis 1998 yang menjadi caleg itu antara lain mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko serta Pius Lustrilanang dan Desmond J Mahesa. Dua nama yang terakhir adalah korban selamat dari penculikan aktivis prodemokrasi 1997-1998. Langkah mereka seolah ingin mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah lebih dahulu mencicipi kursi parlemen, seperti Anis Matta (Partai Keadilan Sejahtera) dan Nusron Wahid (Partai Golkar). Sebagai persiapan berebut kursi legislatif, Budiman Sudjatmiko sudah membuka kantor di Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah, tempat daerah pemilihannya pada Pemilu 2009. Di kedua kantor itu, dia memusatkan komunikasi dan pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat setempat, seperti pemuda, petani, dan mahasiswa. “Kebetulan saya lahir dan melewatkan masa kecil di Cilacap. Tahun 1990-1994, saya juga terlibat dalam pengorganisasian buruh perkebunan dan petani daerah itu sehingga saya relatif tidak kesulitan masuk ke Cilacap dan Banyumas, dan memperjuangkan aspirasi warga kedua daerah itu jika kelak akhirnya dapat duduk di DPR,” papar Budiman. Perjuangan Budiman untuk menjadi anggota DPR sudah dimulai ketika pada 3 Desember 2004 dia bersama 51 rekannya di PRD memutuskan menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). ”Saya masuk politik praktis, dalam hal ini parpol, karena untuk menciptakan perubahan yang nyata dibutuhkan kekuatan politik. Jika dahulu saya berjuang lewat demonstrasi, sekarang semoga dapat melalui DPR,” ucapnya. Pendapat hampir senada disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) Adian Napitupulu. ”Salah satu rekomendasi Pertemuan Nasional Pena 98 pada Juni 2007 adalah berusaha masuk ke ruang politik legal untuk memastikan ada perubahan seperti yang diharapkan. Sebab, setelah direfleksikan, gerakan kami selama ini punya satu kekurangan, yaitu kami tidak punya kemampuan untuk melaksanakan kebijakan. Kami mencoba mengatasi masalah itu dengan masuk ke parlemen,” kata Adian. Sebagai bagian dari pelaksanaan rekomendasi tersebut, lanjut Adian, sebagian anggota Pena 98 sekarang tersebar menjadi caleg di 23 provinsi, baik untuk tingkat pusat maupun provinsi, dengan berbagai nomor urut dan partai politik. Pius Lustrilanang, salah satu korban selamat dari penculikan aktivis 1997-1998, juga memutuskan masuk daftar caleg dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) karena berpandangan, pelaksanaan perubahan membutuhkan kekuatan politik. Saat disinggung bukankah anggota Gerindra antara lain Prabowo Subianto dan Muchdi Pr, dua mantan perwira tinggi TNI yang harus melepaskan jabatannya karena diduga ikut bertanggung jawab dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998, Pius menjawab, ”Dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi. Selain itu, keterlibatan mereka dalam kasus itu sudah selesai secara hukum.” Bahkan, lanjut Pius, bergabungnya dia di Gerindra sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi nasional, yang merupakan salah satu modal penting yang dibutuhkan Indonesia untuk maju. ”Mereka yang mengaku reformis sekarang sikapnya juga banyak yang sama dengan Orde Baru, keras kepala dan otoriter. Jadi, akhirnya semua tergantung orangnya, dengan komitmennya,” tegasnya. Sebelum bergabung dengan Gerindra, Pius pernah menjadi anggota PDI-P dan Partai Demokrasi Pembaruan, serta mendirikan Partai Persatuan Nasional. Selain didorong oleh cita-cita untuk melakukan perubahan, ada juga aktivis yang memutuskan menjadi caleg karena ingin memperoleh pengalaman berpolitik. ”Selain ingin belajar, kebetulan ada peluang kuota 30 persen perempuan sehingga saya memanfaatkannya,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat Agung Putri. Kaderisasi Apa pun alasan atau pertimbangannya, dalam alam demokrasi seperti sekarang sah-sah saja para mantan aktivis itu terjun ke politik praktis. Itu adalah bagian dari hak politik mereka sebagai warga negara. Keputusan mereka terjun menjadi caleg ini pun dinilai penting bagi kaderisasi kepemimpinan nasional. Dalam sistem politik yang terbuka seperti saat ini, perbaikan kehidupan berbangsa tidak cukup dilakukan dengan berteriak-teriak, memberikan koreksi dari luar sistem. Dibutuhkan sejumlah orang baik dan berkualitas untuk masuk ke dalam sistem guna memperbaiki dari dalam. Bahkan, kebangkitan Indonesia diyakini akan lebih cepat terjadi jika ada jaringan kerja dan komunikasi yang intensif antara mereka yang berada di dalam dan luar sistem. Namun, di sisi lain, masuknya para aktivis yang rekam jejaknya masih relatif bersih dan muda ini dalam daftar caleg juga menguntungkan parpol pengusungnya. Para aktivis itu dapat ”menutup” sejumlah catatan buruk parpol di masa lalu. Bahkan, parpol itu dapat dinilai ”reformis” atau menjanjikan perubahan. Citra itu tentu dibutuhkan untuk menambah perolehan suara di Pemilu 2009. Keberadaan para mantan aktivis itu juga akan menambah posisi tawar parpol yang bersangkutan ketika kelak harus membangun koalisi atau bekerja sama dengan kekuatan politik lain. Akhirnya, kelak waktu yang akan menjelaskan alasan utama dan sebenarnya dari bergabungnya para mantan aktivis itu menjadi caleg. Apakah sungguh karena alasan taktis, yaitu untuk mengefektifkan perjuangan membangun Indonesia yang lebih baik? Atau hanya karena alasan pragmatis, yaitu karena tidak tahan untuk mencoba menikmati manisnya madu kekuasaan? Atau, bisa juga hanya bagian dari upaya pemenuhan hasrat petualangan belaka. Yang jelas, aktivis 1966, Soe Hok Gie, pernah menyayangkan sikap sebagian temannya yang mulai melupakan komitmennya karena terlalu menikmati nyamannya naik sedan Holden. Semoga kekecewaan itu tidak kembali terulang.… ![]() |
|
||||
|
Waktulah yang akan menjadi saksi apakah aktivis2 mahasiswa ini tetap menjadi seorang idealis,vokal (positif),pionir perubahan atau sama seperti2 pendahulu2 mereka yg ketika telah berada dalam lingkaran kekuasaan orientasinya lebih ke kepentingan partai dan pribadi...
hanya manusia2 yg mempunyai mental pejuang dan cinta tanah air yg akan merubah bangsa ini ke arah yg lebih baik...![]() |
|
|||
|
Quote:
Seperti juga kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan dan sebagainya kalau dipikir juga sudah terjadi sejak jaman Majapahit, tetapi sampai sekarang juga masih terjadi kan. ![]() |
|
|||
|
fenomena ini sebenarnya sudah berlangsung sejak negara kita belum merdeka, aktivis yang gigih memperjuangkan kemerdekaan itu juga kan di pelopori oleh para aktivis mahasiswa, bedanya kalau dulu mayoritas kuliahnya di Walanda, kalau sekarang aktivis kampus maupun non kampus kalau sudah menjadi Wakil Rakyat di Senayan itu sudah pada lupa apa yang pernah di lontarkan semasa menjadi aktivis, mungkin karena fasilitas yang memadai sebagai anggota Dewan sehingga lupa mau meyuarakan aspirasi masyarakat yang dulunya pernah di kumandangkan.
|
|
||||
|
kalau trus mempertahankan idealisme jadi aktivis kantongnya kering
nach kalau ikutan duduk di senayan kan enak, rumah gratis, listrik, air, telpon gratis......gaji gedhe , belom lagi uang sidang, uang cuti, uang ini itu dan bonus jalan2 ke LN... siapa yang gak tergiur bo'.... ![]() ![]() ![]() ![]()
__________________
c yau
|
|
|||
|
Tapi kalo emang mo bekerja untuk rakyat, kenapa gak masuk di eksekutif aja kan lebih jelas. DPR karyanya apa??? RUU hampir semuanya dari eksekutif, yang melaksanakan juga eksekutif, DPR tinggal bahas dan menyetujui aja. Penegakan hukum di tangan eksekutif dan yudikatif, justru legislatif yg akhir2 ini jadi korban. Terus hasil pekerjaan DPR yg konkrit apaan..? Study banding ke LN pun juga gak jelas hasilnya. DPR lebih banyak bikin ribet aja.
|
|
||||
|
Quote:
__________________
Enjoy while you can! |
|
||||
|
Quote:
Positive thinking saja lah ................. Jika masuk senayan tanpa melalui perjalanan hidup sebagai aktifis mahasiswa, mau dibawa kemana Indonesia? Paling tidak para aktifis mempunyai idealisme, daripada hanya yang bermodal kepopuleran semata. |
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|