Kelanjutan dari fatwa BBM bersubsidi yang gagal diharamkan, kini kembali lagi dengan satu penetapan yang sudah di gaungkan untuk merealisasikan pelarangan pemakian BBM bersubsidi pada para pengendara mobil pribadi.
Kecuali motor walaupun pemakiannya sifatnya pribadi masih diperbolehkan menikmati BBM bersubsidi padahal justru pemakai motor pribadi sepertinya banyak yang sudah memakai BBM non subsidi, karena dengan 3 liter sudah bisa keliling Jakarta dan sekaligus untuk perawatan mesin agar selalu oke.
Mungkin akan timbul modus2 baru dalam penyelewengan kebijakan ini, dengan munculnya makelar2 bensin bersubsidi untuk menjadi pengusaha perminyakan dengan menggandeng para petugas2 SPBU tidak menutup kemungkinan akan menjamur SPBU botolan yang biasa dikonsumi oleh angkot2 yang biasa belinya bensinnya terbatas jarang sekali mobil pribadi yang membeli bensin botolan.
Fenomena ini akan terbalik dimana para angkot akan selalu masuk SPBU dengan mengisi full tank yang kemudian disedot menjadi bensin botolan yang akan dikonsumsi oleh mobil pribadi yang tariff per liternya bisa lebih mahal Rp.1000 sebagai keuntungan per liternya alias menjadi Rp.5.500 masih lebih murah dari Pertamax yang harganya Rp.8.500/liter maka rumus hitung dagangtetap dipakai……ada yang murah kenapa harus beli yang mahal….hehehe
Kalau masyarakat nantinya banyak memilih bensin botolan yang harganya Rp,5.500 kenapa tidak langsung saja tidak usah malu2 naikin harga BBM itu dari pada ribet pelaksanaannya, atau memang ada wacana untuk bekerja sama dengan produsen BBM import , kemungkina Petronas juga jadi laku kali yak yang selama ini kalau saya lihat SPBU Petronas selalu sepi???? Bahkan ada yang tutup.
Mudah mudahan ini hanya April mop….![]()



20Likes
LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks