Mengapa Masih Saja Berdusta?
Dusta menyebabkan kebakaran di mana-mana, tetapi kejujuran memadamkannya.
Tertarik dengan pernyataan ini atau mungkin kagum dan dibuat terpesona olehnya?
Kemudian berpikir bahwa pencetusnya tentu hebat dan luar biasa padahal itu saya?
Ha ... ha ... ha ... saya tentu saja tak sehebat itu karena pernyataan di baris pertama
Dusta menyebabkan kebakaran di mana-mana, tetapi kejujuran memadamkannya,
Sejatinya dimodifikasi dari pernyataan filsuf besar yang pernah getarkan jagat raya.
Dia berkata begini ’tahayul menciptakan kebakaran di mana-mana, hanya untungnya
Filsafat (sukses) memadamkannya’, dan tampaknya apa yang disampaikan beliaunya
Benar adanya karena siapa yang menekuni filsafat rasanya menjauhi tahayul serta
Semua konsep-konsep ikutannya; dan ini sama halnya dengan kejujuran dan dusta.
Dusta boleh saja menciptakan kebakaran di mana-mana tetapi kejujuran pasti bisa
Memadamkan kapan saja dan di mana saja ... tidak percaya? ... ha ... ha ... ha ....
Percayalah, kejujuran itu pasti mengalahkan dusta, sama seperti air yang niscaya
Selalu mampu mengalahkan api, hanya saja orang-orang di negeri ini kadang kala
Aneh dan tidak cerdas, kalau ada sekelompok orang jujur dikalahkan para pendusta,
Lalu diambil kesimpulan bahwa kejujuran tak lagi menang terhadap para pendusta,
Atau kalau ada air tidak dapat memadamkan api lalu dikatakan air tak lagi berjaya.
Dalam versi aslinya seperti yang disabdakan sang guru pada murid kesayangannya
Ketika mengajarkan hal yang kasih dan tidak kasih, bahwasanya kasih senantiasa
Menang dari yang tidak kasih sama seperti air selalu menang dari api, hanya saja
Kalau gagal memadamkan segerobak api dengan semangkok air, mereka berkata
Ah ... jaman sekarang air tak lagi menang atas api, kasih tak lagi berjaya pada apa
Yang bukan kasih ... wah ... memang menggelikan simpulan semacam ini karena
Rahasianya jika ingin memadamkan segerobak api ya gunakan segerobak tirta.
Api pasti padam, kasih pasti menang, dusta pasti tak lagi berjaya di hati manusia.
Pendusta ada di mana-mana karena manusia mana yang tak pernah berdusta?
Mungkin hanya para bijak dan nabi yang tak pernah atau paling sedikit berdusta.
Manusia mungkin tak cocok disebut mahluk pendusta tetapi mencari satu saja
Manusia yang tak pernah berdusta rasanya tak cuma susah tapi mustahil adanya.
Singkat kata semua manusia rasanya pernah dan pernah berdusta tapi manakala
Seorang berani menyandang jabatan negara, maka yang pertama-tama dibuatnya
Haruslah sekuat tenaga berusaha ’tuk tidak dan tidak berdusta di depan rakyatnya.
Karena kalau ini saja gagal dlakukan lalu sih apa bedanya sang pejabat negara
Dengan penjahat biasa yang tentu saja piawai berdusta paling tidak pada dirinya?
Pejabat negara jelas bukan penjahat biasa karena pantang di mulutnya ada dusta
Seperti yang akhir-akhir semakin kerap ditontonkan bahkan langsung lewat media
Yang jangkauannya ke pelosok nusantara, dan sepertinya ingin lantang berkata
Ini lho contoh pejabat negara yang piawai membungkus dusta dalam kata-kata.
Semua rasanya memang pernah berdusta tetapi manakala tekad sudah membaja
Ingin mengabdi pada negara dengan pasang bahu siap sandang tugas negara
Maka yang pertama harus dipastikan adalah adanya tekad berani tak berdusta.
Berbuat apa saja jika landasannya bukan dusta pasti menyenangkan hasil akhirnya.
Melakukan apa saja jika pondasinya adalah dusta pasti ribetlah hasil ikutannya.
Tidak percaya? Simak saja kemelut yang melanda the ruling party di ini negara.
Jika pesta sukan ya rebana bendera – jika suka dusta ya lahirkan bencana negara.
Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com



1Likes
LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote




Bookmarks