Puluhan direksi badan usaha milik negara di sektor perkebunan dan kehutanan mungkin sedang gelisah, mau makan atau tidur pun susah. Nasib jabatannya sedang dipertaruhkan dalam sebuah drama restrukturisasi yang disutradarai Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan. Akankah nasibnya selamat, atau turun jabatan. Malah mungkin bisa juga pensiun dini.
Baru saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan agar BUMN, perusahaan milik pemerintah itu, agar ditata kembali sehingga bisa memiliki kinerja lebih baik. Sejurus kemudian, Menteri Dahlan menyambutnya dengan sebuah pengumuman yang tampaknya sudah dipersiapkan dengan matang. Sebanyak 20 perusahaan plat merah dihentikan masa edarnya. Berarti, kemugkinan ada puluhan direksi yang kehilangan posisi.
Rinciannya, kata Menteri Dahlan, 15 PT Perkebunan Nusantara akan dilebur jadi satu perusahaan. Begitu juga dengan Perhutani, BUMN di sektor kehutanan, akan disatukan juga sehingga berkurang 5 perusahaan. "Lalu kalau BUMN farma disatukan akan minimal ada 20 yang berkurang," ujarnya, Rabu (8/2/2012).
Mantan Dirut PLN ini mengungkapkan, intinya di tahun ini pemerintah akan mengurangi paling sedikit 20 BUMN dalam rangka perampingan (right sizing). Dahlan berharap agar induk perusahaan yang disebutkan itu sudah rampung bulan depan.
Pada kesempatan terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan bahwa target pemerintah hanya ada 25 BUMN di 2025. Perampingan dilakukan terkait program restrukturisasi dan revitalisasi BUMN.
Hatta menilai, banyaknya jumlah BUMN menyebabkan tugas perusahaan plat merah tersebut tidak fokus. Pasalnya, terdapat beberapa BUMN yang memegang sektor yang sama.
Dalam Roadmap BUMN berdasarkan rekomendasi konsultan independen dinyatakan jumlah BUMN terlalu banyak dan tidak efisien dengan total BUMN sebanyak 141 BUMN.
Kementerian BUMN merencanakan untuk membentuk holding sektoral dengan tim manajemen yang kuat dan terfokus. Untuk itu perlu dilakukan rightsizing, baik melalui marger, privatisasi, sectoral holding maupun likuidasi. Menurut roadmap tersebut di 2014 diharapkan menjadi 78 BUMN dan di 2025 hanya menjadi 25 BUMN.
Hatta mengeluhkan masih adanya BUMN yang terus merugi. Saat ini tercatat ada 141 BUMN, namun yang sudah memiliki laba hanya 131 BUMN, sedangkan sudah bisa menghasilkan deviden sebanyak 67 BUMN.



LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote



Bookmarks