Kabut-Kabut Dendam
Memberi maaf adalah ajaran agama yang tak ternilai harganya.
Tetapi berapa banyak insan manusia yang mampu melakukannya?
Apalagi jika yang harus dimaafkan adalah orang yang kita benci,
Orang yang dianggap melakukan kesalahan tak terampuni!
Dua hari lagi tahun baru.
Menunggu memang terasa menjemukan. Bahkan menunggu dua hari sekali pun. Sulastri sedang menunggu waktu yang dua hari yang akan segera tiba. Tepat jam dua belas tengah malam tahun baru nanti, janji yang pernah diucapkan sepuluh tahun lalu itu akan segera menjadi kenyataan.
Sepuluh tahun yang lalu keadaannya tepat persis seperti sekarang ini. Cuma kalau dulu dia tidak seorang diri, sekarang dia seorang diri. Barata adalah laki-laki yang selama ini selalu muncul dalam mimpinya. Sedangkan Kartini adalah gadis kecil tempat dia bisa mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, berada di sisinya kala itu.
Mereka berdua telah pergi. Yang satu pergi untuk tidak kembali, sedangkan yang satu … Sulastri menutup muka dengan kedua tangannya. Barata dicintai dan dikenangnya, tetapi juga sekaligus dibencinya. Dendamnya sedalam lautan pada laki-laki itu.
Barata memberinya Kartini, tetapi laki-laki itu juga yang mengambilnya. Mengambil untuk selama-lamanya. Jalan hidupnya tidak pernah rata dan lurus. Selalu bengkok dan bergelombang. Kadang dia harus melangkah tertatih-tatih, merambah jalan hidupnya yang ada bersama-sama dengan dendamnya terhadap laki-laki itu.
Betapa inginnya dia, laki-laki itu hadir ketika dendamnya sedang membara. Akan dicincangnya, akan dilumatkan semua yang ada pada laki-laki itu, termasuk hatinya. Begitu juga ketika rindunya menyesak dada. Sulastri mengharapkan Barata muncul dihadapannya. Semua kehangatan jiwanya akan diserahkan ke pelukan laki-laki itu. Tetapi Barata tidak pernah muncul. Yang muncul cumalah bayangan dan gema janjinya yang diucapkan sepuluh tahun yang lalu.
“Apapun yang terjadi, aku akan kembali tepat sepuluh tahun dari sekarang!” kata Barata waktu itu. “Tepat ketika dentang lonceng tahun baru bergema, aku pasti akan muncul di hadapanmu, Lastri. Kau boleh melakukan apa saja padaku waktu itu!”
Sulastri gemetar, menahan marah dan dendamnya waktu itu. Barata telah merenggut semua kebanggaan yang pernah dipujinya dan sekarang dirinya harus menunggu.
“Tenangkan dan kuatkan hatimu,” hibur Sulastri pada dirinya sendiri. “Sepuluh tahun engkau mampu menanti, dan sekarang cuma tinggal dua hari lagi, mustahil engkau gagal melewati waktu yang dua hari ini! Kobarkan semangat dan kemauanmu. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dua hari memang lama bagi orang yang menunggu, tetapi sebentar kalau dibandingkan dengan penderitaanmu selama ini….”
Kalimat itu tidak sekali diucapkan Sulastri untuk dirinya. Berulang-ulang. Berkali-kali. Sulastri kembali menutup wajahnya, sedangkan tubuhnya berayun ke belakang, jatuh ke sofa yang empuk. Tidak ada isakan, tidak ada air mata, yang ada cuma kesedihan, dendam, dan rasa cinta, berbaur menjadi satu tanpa pernah sekaligus benar-benar menyatu.
Sulastri baru larut dalam kesenyapan ketika tanpa disadarinya tertidur. Sementara itu persoalan dalam benaknya cuma untuk sementara dilupakan. Ya, cuma untuk sementara!
Sejak jam 9 malam itu, Sulastri duduk tepekur di sofa, menatap tepat ke arah jam dinding. Tidak ada jarum detik yang bergerak, yang ada cuma jarum pendek, jarum panjang dan pendulum yang bergerak teratur ke kanan dan kekiri. Pendulum terus bergerak. Mata Sulastri terus nyalang terbuka. Jam dinding itu penentu segalanya. Sekarang malam tahun baru. Malam ini Barata berjanji akan datang. Masih ingatkah laki-laki itu akan janjinya?
“Dia pasti tidak akan pernah melupakannya!” Sulastri menjawab sendiri pertanyaan itu.
Sulastri tahu siapa Barata. Laki-laki yang tahu dirinya luar dalam, sama seperti dia tahu diri Barata luar dalam. Barata adalah laki-laki yang teguh dengan janji. Lastri tahu dan tidak pernah meragukannya.
Tetapi bagaimana kalau sekarang, atau tepatnya malam ini, Barata tidak datang. Sepuluh tahun waktu yang cukup panjang untuk mengubah seseorang, betapa pun tangguhnya orang itu.
“Tidak!” bantah Sulastri, “Sepuluh tahun belum cukup untuk mengubah Barataku! Bahkan seratus tahun pun belum cukup!”
Sementara matanya menatap pendulum jam dinding yang terus bergerak, kenangan akan Barata, kenangan akan Kartini, terus bermain-main di benak Sulastri. Sulastri masih ingat, bagaimana Kartini sering merengek kalau keinginannya tidak dituruti. Bagaimana Barata selalu membela gadis kecil itu, meskipun laki-laki itu mestinya tahu, memanjakan seorang anak bukan perbuatan bijaksana. Tetapi Barata selalu akan berkata pada dirinya, kadang-kadang langsung, kadang-kadang dengan bisikan.
“Biarlah dia untuk sekali ini ….” Barata selalu begitu. Dia selalu mengatakan, “Biarlah dia untuk sekali ini….” Tetapi anehnya dirinya selalu menuruti kata-kata Barata, selalu akhirnya mengalah dan menuruti kemauan Kartini.
Waktu terus bergerak, tidak pernah menunggu.
Mata Sulastri tidak berkedip. Ketegangan dalam dadanya terasa memuncak, ketika waktu perjanjian semakin dekat. Waktu itu, yang muncul bukan lagi rasa rindu atau rasa cinta, tetapi dendam. Dendam kebencian yang bergerak menutup mata hatinya, persis seperti kabut tebal yang membutakan segala-galanya. Barata harus menerima luapan dendamnya. Sepuluh tahun dendam itu berhasil dibendungnya. Sekarang dia akan menikmati bagaimana semua dendam yang menyesakkan dada itu mengalir ke luar. Senyum kepuasan muncul di sudut-sudut bibir Sulastri.
Jarum panjang dan jarum pendek sudah hampir menjadi satu.
“Sebentar lagi … sebentar lagi …!” gumam Sulastri lirih. “Akan kubalas semuanya …!”
Kemudian … teng … Gema lonceng dinding yang pertama mengejutkan Sulastri. Disusul oleh dentang lonceng yang kedua. Teng … teng …
Sulastri menghitungnya. Pelan. Matanya berbinar semakin tajam.
“Engkau harus muncul Barata … engkau harus muncul Barata …!”
Bisikan cemas itu muncul disela-sela penghitungan dentang lonceng dinding. Sebelas … teng … dua belas ….
Sulastri melihat berkeliling. Pandangan wanita itu terhenti. Entah sejak kapan, seorang laki-laki muda berdiri di sana. Pakaiannya abu-abu. Sandal kulit yang dikenakan laki-laki itu masih dikenal dengan baik oleh Sulastri. Itulah model sandal kulit yang disenangi Barata. Seleramu belum berubah, kata Sulastri dalam hati.
Perlahan-lahan wanita itu berdiri. Gaunnya sedikit berkerut di bagian belakang. Tetapi siapa yang akan peduli pada sedikit kerutan di gaun, sementara peristiwa besar yang terpendam selama sepuluh tahun akan segera digelar.
“Kau datang juga …!” suara Sulastri tersendat.
Laki-laki itu melangkah maju tiga tindak. Berhenti sambil tersenyum.
“Aku selalu menepati janji, tidak terkecuali untuk dirimu!”
Suara laki-laki itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rendah tetapi lembut.
“Kau bawa ke mana Kartini?” tanya Sulastri.
“Kau lupa dengan keteranganku sepuluh tahun yang lalu?” laki-laki itu balik bertanya.
“Aku tidak lupa!” balas Sulastri cepat. Ketenangannya sudah kembali. Rasa debaran tegang, telah mulai diganti oelh rasa marah. Dendamnya mulai melompat-lompat, mencari jalan ke luar. “Tetapi aku ingin sekali lagi mendengarnya dari mulutmu sekarang. Kartini adalah segala-galanya bagiku, tetapi engkau bawa dia pergi untuk tidak kau kembalikan padaku. Ke mana kau bawa Kartini, dan di mana dia sekarang?”
Sejenak laki-laki muda itu tertunduk. Ketika kepalanya terangkat, sinar matanya tetap sayu, memandang ke arah Sulastri.
“Akan kuceritakan sekali lagi, kalau engkau menginginkannya,” kata laki-laki itu. “Aku pergi mengajaknya memancing pagi itu. Aku memang sengaja tidak memberi tahu dirimu. Karena aku ingin membuat sebuah kejutan untukmu. Aku ingin Kartini pulang dengan membawa seekor ikan tangkapannya sendiri. Bukankah engkau akan terkejut, karena tidak pernah menduga Kartini pergi memancing dan bisa memancing?”
Suara laki-laki itu bergema pelan. Sulastri tetap tidak bergeming dengan sikapnya. Wanita itu menunggu. Keterangan yang sama seperti keterangan sepuluh tahun lalu, kecuali mungkin beberapa perubahan kecil.
“Kami berdua berangkat dengan gembira,” laki-laki itu melanjutkan. “Bagi Kartini ini memang pengalaman yang pertama. Kau tahu, ia berjalan sambil melompat-lompat bahkan bernyanyi. Kartini rupanya teman memancing yang menyenangkan. Seandainya kau tahu, mungkin sejak dulu sudah kuajak dia menemaniku memancing. Kau sendiri, sama sekali tidak mau menemaniku. Memancing seorang diri, bukan hal yang menyenangkan. Memancing terasa lebih nikmat dan menyenangkan kalau berteman.”
“Sampan kecil menunggu kami berdua. Umpan untuk memancing juga sudah kusiapkan. Kami berdua berangkat dengan hati gembira. Laut tenang dan langit bersih. Pertanda akan banyak ikan di laut. Ikan tidak akan segan-segan bermain ke permukaan kalau laut cerah seperti itu. Setelah cukup ke tengah, mulailah kami memancing. Kartini bertanya banyak sekali. Dia gadis kecil yang cerdas. Semua yang kuterangkan, dipraktekkannya dengan betul. Beberapa ekor ikan mulai mengisi sampan kecil kami.”
“Kami terus asyik memancing, sehingga tanpa kami sadari, sampan semakin menjauh ke tengah. Semuanya baru kusadari setelah kami puas memancing dan bermaksud pulang. Garis pantai tidak kelihatan. Aku sempat di buat panik waktu itu, meskipun kepanikan itu tidak kutunjukkan pada Kartini.”
Sampai di sini laki-laki itu berhenti. Mungkin menarik nafas, mungkin karena sebab yang lain. Sulastri diam. Menunggu. Keterangan yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Semuanya seperti kembali ke keadaan sepuluh tahun yang lalu.
“Teruskan ceritamu! Tidak perlu berlama-lama!” kata Sulastri ketus ketika Barata tidak juga melanjutkan kata-katanya.
Tenggorokan laki-laki itu bergerak naik turun. Bibirnya sedikit bergetar.
“Kau mestinya masih ingat kelanjutan ceritaku!” kata Barata lemah. “Sampan kami terbalik dihempas ombak, yang entah sejak kapan datang. Angin kencang yang datang berhembus sama sekali tidak membantu kami. Aku mencoba menggendong Kartini, sekuat aku bisa. Tetapi …!”
“Tetapi engkau lepaskan anakku, bukan? Kau lepaskan dia agar engkau bisa lebih bebas berenang ke pantai dan menyelamatkan diri? ******* engkau! Engkau laki-laki ******* dan pengecut. Kau cuma sayang jiwamu. Kau tidak sayang jiwa anakku. Kau … kau ….”
Sulastri tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Sepuluh tahun yang lalu juga begitu.
Kemarahan yang mendesak, membuat tenggorokannya tersekat. Batara menggelengkan kepalanya.
“Aku bukan pengecut. Aku cinta Kartini sama seperti aku mencintai dirimu dan diriku sendiri. Semua yang aku bisa telah kulakukan. Tetapi aku gagal. Maafkan aku, Lastri! Sekarang aku datang, seperti janjiku sepuluh tahun yang lalu itu ….”
“Aku tidak punya maaf untukmu!” kata Sulastri tajam. Bibirnya bergetar semakin keras, bahkan sekarang badannya ikut berguncang. “Kau harus menerima balasan karena tindakan pengecutmu. Kalau Kartini tidak berhasil kau selamatkan, kau juga tidak pantas untuk tetap selamat! Kau harus mati …!”
Barata tersenyum aneh. Kata-kata Sulastri sama sekali tidak mengejutkannya.
“Kau boleh mengatakan apa saja padaku, kecuali satu hal. Pengecut! Aku tidak suka kata itu. Aku bukan pengeut, Lastri. Sama sekali bukan. Aku memang bukan laki-laki yang pemberani, tetapi aku juga bukan seorang pengecut. Tarik kembali kata-katamu yang satu ini, dan selanjutnya, semuanya terserah padamu!”
“Aku tidak akan menariknya!” balas Sulastri keras. “Kau bagiku tetap laki-laki pengecut selama tidak engkau mampu mengembalikan Kartini!”
“Betapa inginnya aku saja yang mati sedangkan Kartini bisa kembali. Tetapi sayang aku tidak berdaya. Aku telah mencoba semua kekuatan pada diriku tetapi aku gagal. Maafkan aku Lastri.”
“Kau harus mati Barata …!” Sulastri sama sekali tidak memperdulikan kata-kata Barata.
Kembali senyuman aneh mengenai di bibir Batara.
“Mungkin satu hal aku lupa memberitahukan padamu, Lastri! Yah, kupikir, pukulan berat bagi dirimu kalau sejak semula kukatakan. Tetapi sekarang sepuluh tahun sudah berlalu. Engkau pasti telah semakin tabah menghadapi hidup ini …”
“Aku tidak peduli akan semuanya. Cepat kau katakan, sebelum kurobek-robek dadamu!”
“Kau tidak perlu merobek-robek dadaku, sementara hatiku telah terkoyak-koyak sejak kejadian dulu itu. Aku tahu rasa sedih macam apa yang ada dalam hatimu. Aku tidak mungkin melupakan hal itu bahkan ketika hatiku sedang sedih. Sepuluh tahun aku menderita di dunia ini, sementara aku, sepuluh tahun juga menderita di sana. Aku kembali cuma untuk memenuhi janjiku, juga untuk mengatakan hal yang sepuluh tahun yang lalu aku tidak berani mengatakannya.”
Barata berhenti sejenak. Ketika Sulastri hendak membuka mulut, dengan cepat Barata melanjutkan kata-katanya:
“Kau berpikir aku sendiri yang selamat dan meninggalkan Kartini sendirian ditelan laut? Kau salah besar Lastri! Benar-benar salah besar! Tetapi aku tidak berani menyalahkan dirimu, karena kesalahan sebenarnya tertanggung di atas pundakku. Kartini gagal kuselamatkan dan aku sendiri juga gagal menyelamatkan diriku. Apa yang kau tuduhkan padaku tidak akan pernah kulakukan. Kalau Kartini tidak berhasil kuselamatkan, diriku sendiri juga tidak pantas kuselamatkan.”
“Seharusnya hal ini kukatakan sepuluh tahun yang lalu. Tetapi aku khawatir Lastri, Aku khawatir kau tidak tahan. Jadi biarlah dendam memberimu nyala kehidupan karena siapa tahu, ketabahan akan melahirkan pengertian. Ibuku mati karena bunuh diri dan aku tidak ingin hal itu terjadi pada dirimu. Hidup memang kadang-kadang tidak berarti lagi tetapi seseorang harus tetap setia pada tugas hidupnya. Bukankah kita lahir di dunia ini semata-mara karena kehendakNya ketika sebuah peran dipercayakan pada diri kita?”
Sulastri tidak memperhatikan keterangan lanjutan Barata. Yang diperhatikannya cuma satu. Barata juga tidak berhasil menyelamatkan diri? Tetapi siapa yang muncul dihadapannya sepuluh tahun yang lalu dan kemudian juga siapa yang berdiri dihadapannya ini?
“Lastri!” Barata memanggilnya pelan.
Tetapi Lastri tidak bergeming. Mungkin tidak didengarnya panggilan itu.
“Aku harus kembali sekarang, Lastri! Waktuku telah habis untuk terus berada di dunia ini. Kekekalan abadi di sana, adalah duniaku sekarang! Selamat tinggal Lastri!”
Perlahan-lahan laki-laki itu menghilang. Tinggal Sulastri seorang diri. Dari matanya tidak lagi ada air mata. Dendam sepuluh tahun telah menguras segala-galanya. Dendam yang salah. Dendam yang tidak berguna.
“Barata … Kartini …!”
Cuma dua nama itu yang disebut-sebut Sulastri kemudian.
Jalan hidupnya masih panjang. Tetapi mampukah Sulastri melangkah menempuh dunia ini, sesuai dengan harapan Barata? Nyala dendam dalam dada wanita itu mampu membuatnya bertahan selama sepuluh tahun. Tetapi sekarang, setelah nyala dendam itu padam, masih mampukah Sulastri bertahan?
Tidak ada yang tahu. Bahkan mungkin Sulastri pun tidak. Cuma Dia yang di sana yang tahu segala-galanya. Ya, cuma Dia!
Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – Poznan, Poland (editing)


LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks