Yang ini bukan pendapat saya secara pribadi; "sebagian orang" menganggap bahwa orang homo adalah orang yang sakit secara mental.
Tanggapan saya; bagaimana mungkin anda mengajak orang berobat, jika orang tersebut tidak mengakui bahwa dirinya "sakit".
Saya pikir itu cara Irshad menyatakan siapa dia sebenarnya. Dia berusaha jujur, kepada dirinya dan juga kepada publik.
Dan mungkin kiranya dia mengajak publik (senasib) untuk berlaku jujur pula.Now to the really controversial part: lesbian. I could have been dishonest and hidden that part of myself. But as a creature of Allah, I decided it is better to pay tribute to God's wisdom.....
Mohon maaf, jangan ada yang tersinggung yah, saya cuma memberi tanggapan yang kiranya masuk akal bagi "sebagian orang" tersebut.
Satu hal lagi yang patut untuk diingat; banyak orang merasa tidak senang dengan kaum ini disebabkan dalam pemikiran mereka terbayang cara kaum ini berinteraksi seksual. Jadi di otak ini ketika mendengar kata homo, pikiran sudah mengarah yang tidak-tidak. Tapi banyak yang lupa menyertakan satu kata tambahan,.....cinta; dan membubuhkan kata tersebut di pikiran mereka.
Saya tidak bisa bicara banyak masalah yang satu ini, karena saya sendiri masih bingung juga, apa arti kata tersebut yang sesungguhnya.
Tapi yang jelas unsur cinta tidak boleh anda kesampingkan bila kita bicara mengenai kaum tersebut, dan saya kira itu sangat kompleks sekali, bahkan bagi kaum itu sendiri, mungkin.
Kok mungkin?![]()
Kalau sudah jelas, apanya yang diperdebatkan?
Peeeace 4 all
NB:
Omong-omong, apa yang dia utarakan itu sedikit banyak sedang diperdebatkan di threat sebelah; masalah free will (tahu sendirilah). Lha kalau manusia ini tidak punya free will, apa yang harus didebat? Wong, semuanya ada dalam kuasa-Nya.
Last edited by bingnyata; 15-05-12 at 12:43 AM. Reason: NB
who am I ?
Paswa. Lalu apa solusinya? Apakah berarti Irshad Manji lebih baik menjadi 'murtad' ketimbang ia menjadi seorang muslimah yang berorientasi sexual berbeda (sexualitas menyimpang ini sebenarnya banyak, tidak terbatas hanya LGBT, tetapi pada jaman dulu sexualitas masih tabu dan tidak terbuka seperti saat ini)? Padahal pemurtadan adalah sesuatu yang juga sangat dibenci Allah. Apakah benar cinta Allah itu bersifat kondisional sehingga ia tidak sanggup membalas cinta seseorang yang 'tidak sempurna'?
Diskusi hal demikian tidak akan ada konklusinya, karena it is part of the voyage. Dimana manusia akan selalu berdiskusi, bertanya, menantang intelektualitasnya, untuk memahami dirinya sendiri.
+++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++
Tri, kalau solusi “murtad” yang diambil IM “Cinta yang berakhir dengan kebencian” yang seharusnya “Kebencian itu yang melahirkan Cinta” dan untuk mendapatkan cinta yang benar murni butuh perjuangan dimana dalam perjuangan itu ada musuh yang paling sangat berbahaya yang sukar kita melawan adalah diri sendiri, dan IM tahu musuh itu adalah kelainan pada dirinya.
Saya tertarik tulisan @bingnyata yang saya quote dibawah ini :
Yang saya bold itulah pokok persoalan, apakah kelainan ini oleh IM dianggap hal yang biasa?? Dan mengajak untuk berlaku jujur??? tentunya kejujuran ini ditujukan kepada sesama manusia yang berujung ingin mendapatkan pengakuan manusia pula, kalau kepada Tuhan tidak perlu ada pengakuan kejujuran itu karena ada sifat Tuhan Yang Maha Tahu dan Tuhan tetap pada firmannya.Originally Posted by bingnyata
Kembali kesolusi Apakah Cinta itu harus disandingkan dengan sex, apalagi cinta kepada Tuhan mengapa IM tidak mengadop dari sikap dan pendirian Biarawati yang memang tugas ingin menjadi pelayan Tuhan tanpa berurusan dengan sex???
Dengan mengesampingkan hasrat sexualitasnya untuk mewujudkan Cintanya dengan memerangi kelainan pada dirinya dimana penyaluran hasrat ini justru terlarang mungkin disini bisa dikatakan jihad, IM sangat sangat mengetahui hukum dan firman Tuhan itu , Dan Tuhan tidak pernah salah dalam menurunkan kodratNya karena kalau ada penyimpangan bukan dari Tuhan kodrat itu turun tapi dari akal dan pemikiran yang berkembang yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri.
Cinta itu perlu pengorbanan????…. kembali pada sikap pribadi apakah IM ingin melakukan pengorbanan dengan meredam hasrat Sex yang terlarang???? DEMI CINTA PADA ALLAH, atau mengambil jalan MURTAD karena hasrat Sex yang tinggi ??? tapi kalau mengajak untuk berdemo dan mempertanyakan kodratnya kepada Tuhan mungkin ini hal yang lucu , karena kelainan itu bukan dari kodrat Tuhan tapi dari halusinasi akal dan pikiran manusia.itu sendiri.
Last edited by paswa; 15-05-12 at 08:02 AM.
Diskusinya semakin menarik. Saya ikut minta dikritisi lagi.
Sepanjang pengetahuan saya, LGBT sendiri tidak dapat disamaratakan. Lesbian, gay, bisexual di satu sisi berbeda dengan transeksual di sisi lain. Pembedaan ini sudah sangat mengemuka di kalangan komunitas dan juga pengamat LGBT. Sumber pembedanya biasanya dikaitkan dengan faktor psikologis dan faktor medis-biologis. Ada banyak penelitian mengenai hal ini, silahkan tanya sama um gugle jika berkenan.
Tanpa memahami sumber2 psikologis dan biologis ini, rasanya mustahil bagi kita untuk mencari solusi bagi kalangan LGBT. Pun juga akan sangat naif jika serta merta mencela dan mencerca mereka.
Saya tidak tahu masalah mana yang mendorong IM memilih untuk menjadi lesbian, entah itu psikologis atau psikis. Namun saya percaya bahwa sebenarnya dia punya pilihan untuk "mengobati" dorongan lesbian dia.
Jika kita melihat argumen2 IM mengenai lesbian, saya merasa bahwa argumen IM lebih didorong pada penolakan terhadap "kekakuan" interpretasi muslim terhadap islam. Berikut petikan kalimat pada halaman https://www.irshadmanji.com/support ;
IM menggunakan kata "reconcile", ada dorongan untuk "mendamaikan" dorongan seksual lesbian dia dengan spiritualitas dia. Dalam konteks ini menurut saya ada kesalahan besar yang dilakukan oleh IM pada kerangka berpikirnya. IM terlanjur mengidentifikasikan diri sebagai lesbian dan lalu mencari pembenaran dari tuhan.If you're a gay or lesbian Muslim who wants to know how I reconcile my sexuality with my spirituality, here are some materials for you to read:
Pemikiran IM dimulai dengan pertanyaan "Kenapa saya lesbian?" bukan pada pertanyaan "Kenapa saya harus straight?". Oleh karenanya, argumen-argumen IM soal lesbian lebih terasa "mencari celah pembenaran". Dia merasa lesbian dan dia ingin diterima oleh Tuhan. Oleh karena itu pula IM berkata "saya tidak perlu penerimaan dari kalangan muslim tentang pilihan saya menjadi lesbian, saya hanya perlu penerimaan dari tuhan dan nurani saya".
Saya hargai proses yang dialami oleh IM dan semoga dia dituntun oleh-Nya agar dapat menemukan jalan untuk menjadi straight.
Andai IM memulai dengan pertanyaan "Kenapa saya harus straight?", saya yakin IM akan bisa mendapatkan jawaban yang lebih "penuh cinta" dari tuhan.
Dalam satu argumen, IM menyebutkan bahwa dorongan sexual dalam islam sesungguhnya merupakan salah satu anugerah terbesar dari tuhan. Dorongan sexual juga disebutkan oleh IM tidak hanya berujung pada kebutuhan untuk berkembang biak (pro-creation) tapi juga kenikmatan (pleasure). Saya setuju dengan argumen ini, tapi bagi saya rahmat paling besar justru pada konteks sex sebagai kebutuhan pro-creation.
Manusia diciptakan berpasangan, lalu menikah dan lalu dianugerahi anak. Sungguh sebenarnya hal ini merupakan rahmat yang sangat besar dari tuhan. Ketika kita menjalani proses itu, kita dipercaya oleh tuhan untuk membawa misi "meneruskan kekhalifahan manusia di muka bumi". Dianugerahi anak untuk kemudian dididik dan dibimbing agar dapat menjadi manusia yang mampu menjadi khalifah di muka bumi.
Sungguh ini merupakan salah satu bukti cinta tuhan kepada mahluknya.
Andai IM memahami ini, saya yakin IM akan berusaha untuk menjadi straight demi mengejar cinta tuhan yang satu ini.
(.... saatnya kembali bekerja)
Nah, ini.... anda telah rancu mengenai cinta dan sex. Sebagian sudah di uraikan oleh bos luciddream di atas posting saya yang ini.
Tapi satu hal yang jelas Irshan tidak membahas masalah sex, dari apa yang ia tulis lebih tersirat kepada "cinta".
Stop disini dulu,...
Musti berangkat kerja
Peeeace 4 all
who am I ?
Sorry kalau ada kerancuan mengenai cinta dan sex, sejak awal saya tidak ingin mengupas isi bukunya tapi hanya sebatas sosok pribadinya yang tak terkondisikan dengan kodrat hanya itu, mungkin saya akan berterima kasih kalau ada ungkapan yang lebih jelas lagi mengenai kerancuan itu karena kalau sepotong dan terburu buru berangkat kerja sepertinya agak belum lengkap tulisannya
Koq berangkat kerjanya jam 3 yak mungkin dapat jadual shift ya oke de selamat bertugas, saya baca komentar luciddream yang sebelumnya dan yang terakhir komentarnya ini saya tertarik seperti quote dibawah ini :
Tapi justru kejujuran inilah yang membuat penolakan, karena pastinya menurut saya kejujuran itu diperuntukan untuk meminta izin pada manusia atau kata halus harap dimaklumi??? tapi kalau pada Tuhan kembali lagi pada tulisan yang saya tulis diatas Tuhan Maha Tahu tanpa diungkapkan dan Firman Tuhan adalah merupakan kebenaran dan pasti, apakah cara IM untuk jujur dapat merubah ayat atau firman Tuhan???....dunia ini sudah lengkap dengan segala ilmu telah tercurah dari akal pikiran manusia begitu juga ilmu kedokteran dan ilmu physikology haruslah IM memanfaatkan ini.Originally Posted by luciddream
Last edited by paswa; 15-05-12 at 03:58 PM.
Mengingat latar belakang IM yang multi-kultur (ibu mesir, bapak gujarat-india, besar di uganda, dewasa di canada dan New York, US), saya pikir dia orang yang relatif "tidak terkekang" oleh norma sosial. Saya pikir cukup bisa dipahami jika kemudian dia mengatakan tidak meminta penerimaan dari masyarakat muslim soal putusannya menjadi lesbian.
Jika bung paswa mengungkapkan argumen "Firman Tuhan adalah merupakan kebenaran dan pasti" kepada IM, akan sangat mudah bagi dia untuk mendebat argumen ini. IM setuju bahwa Firman Tuhan adalah benar dan pasti, namun IM menjawab bahwa firman tuhan selalu multi tafsir (di agama mana pun). Kritik IM justru ditujukan bagi kelompok muslim yang merasa bahwa tafsir merekalah yang paling benar.
Terkait dengan kata2 IM; "saya hanya meminta penerimaan dari Tuhan dan Nurani", saya beranggapan bahwa IM terinspirasi dari pendekatan tasawuf. IM menyatakan lebih baik memelihara cinta kepada tuhan daripada takut kepada tuhan. Hal ini juga senada dengan pemikiran Jalaludin Rumi, Ghazali, atau pun Rabiah al adawiyah. Saya tidak bilang IM ahli tasawuf, karena sepanjang yang saya baca, tulisan IM tampak terasa masih dangkal.
Kalo menurut saya, IM pun sebenernya masih rancu mendefiniskan cinta dan sex dalam argumennya![]()
Yah inilah saya, bos.
Batman. Eh....bukan Badman yah( Mungkin agak mad dikit
) Berjuang untuk sesuap nasi dan bermimpi untuk sepiring berlian
.
Ok, gini.... Di pengertian secara bahasa dari lesbian; A woman whose sexual orientation is to women. Rancunya disitu.
Disitu tidak disertakan kata "love".
Kita perlu merunut dulu dari awal mengapa seorang wanita bisa menyukai sesama wanita, yang umumnya terjadi disebabkan dia pernah mengalami pengalaman tidak mengenakan dari kaum pria. Dia kemudian bertemu dengan sesama wanita, yang mungkin pernah mengalami hal yang serupa. Wanita ini bisa mengerti dia, memahami dia dan dia dapat mengerti dan memahami wanita itu. Dari situ timbul rasa sayang dan berlanjut ke rasa cinta,............katanya. Kok katanya? Belum pernah merasakan cinta soalnya, selain "kasih ibu kepada beta"![]()
Itu awalnya, sex cuma produk lanjutan dari cinta tersebut, ....namanya juga manusia.
Nah sekarang ada kasus berbeda, bahwa ada wanita yang senang melakukan hubungan sex dengan sesama, tapi dengan pasangan yang berlainan.
Kita bicara masalah pikiran. Cinta dan nafsu (sex) berawal dipikiran. Bila cinta itu mengarah keatas (kemuliaan), sedang nafsu (sex) mengarah ke bawah (tahu sendirilah). Batasan kedua hal ini dipikiran sangat tipis sekali, cuma kita saja inginnya keatas atau kebawah. Itu bisa dilatih, tapi orientasi wanita itu tetap juga dengan wanita.
Nah yang jadi perdebatan hebat itu masalah cinta atau nafsu (sex)-nya?
Semisal dia menikah dengan seorang pria, tapi hatinya tidak mencintai pria tersebut, apakah hal tersebut menjadi suatu masalah bagi publik? Jawabannya pasti, tentu tidak! Itu memang seharusnya, itu sudah tradisi, hukum alam mengatakan hal tersebut, etc etc.
Tidakkah anda berpikir mengenai perasaan wanita tadi yang sesungguhnya? Bahwa bila ia melayani suaminya tersebut, karena terpaksa. Bahwa sesungguhnya dia merasa diperkosa. Dia menangis di dalam hati.
Dan kita berteriak lantang sekali, "Itu memang seharusnya,..... itu sudah tradisi, ......hukum alam mengatakan hal tersebut,..... seharusnya kamu menikmatinya, hmmm-ah, hmmm-ah,....gitu".
Begitukah?
Saya pernah menulis sesuatu mengenai masalah ini, anda dapat menyuruh seseorang mewarnai darah dengan warna biru, tapi anda tidak akan dapat menyuruhnya mengganti imaji yang ada dalam pikirannya mengenai warna darah yang sesungguhnya.
Ilmu kedokteran dan psikologi cuma bisa menganalisa masalah, mereka tidak bisa mengobati.
Karena itu pula saya pertanyakan apakah kebenaran itu cuma bisa dirasa segelintir orang? Apakah orang seperti Irshad tidak boleh merasakannya? Bila dia kemudian diperbolehkan, kemudian dia mengajak yang senasib dengannya untuk ikut merasakan, salahkah yang ia perbuat?
Bolehkah?
Peeeace 4 all
NB: Ini juga mengomentari masalah bila ia (Irshad) dan mengapa tidak mencoba straight.
Last edited by bingnyata; 16-05-12 at 12:49 AM. Reason: NB
who am I ?
Bookmarks