Mengenai kisah nabi Luth dan negeri Sodom, baik Quran maupun Injil sama-sama membahasnya. Namun IM memiliki tafsir berbeda mengenai ayat2 tersebut. IM dan kalangan LGBT beranggapan bahwa kaum Sodom menerima hukuman karena kerusakan moral lainnya. Sejumlah ayat lain tentang kaum ini memang menggambarkan sebagai kaum yang menolak firman tuhan dan berlaku kasar kepada sesama.
Bagi saya, argumen IM ini tetap lemah. Mungkin kita bisa memiliki banyak tafsir tentang kenapa tuhan menghukum kaum sodom. Tapi ini tidak bisa menafikan ketentuan bahwa homosexuality ini sendiri memang salah. Dari beberapa ayat Quran yang membahas kaum sodom, ayat Quran (7:80) sangat eksplisit menyebutkan homosexuality sebagai hal yang dibenci tuhan.
Oleh karenanya, terlepas dari keraguan tentang kaum sodom. Argumen untuk membenarkan homosexuality berdasarkan Quran jelas terbantahkan.
Kedokteran dan psikologi tidak akan mendapat predikat sebagai ilmu jika mereka tidak memiliki manfaat (mengobati).
Dalam filsafat ilmu, setiap disiplin ilmu memiliki ontologi (batasan/ruang lingkup), epistemologi (metode), aksiologi (manfaat/tujuan).
Jadi rasanya, tidak tepat untuk berputus asa bahwa tidak ada "obat" untuk menjadi
straight.
Logika paling mudahnya begini, jika ada terapi hormon untuk merubah gender maka harusnya ada terapi hormon untuk menguatkan gender.
Argumen utama yang ingin saya angkat sebenarnya bahwa kita tidak serta mencela kaum LGBT jika kita tidak mengerti permasalahan yang dialami oleh mereka. Dan lebih baik memberikan solusi daripada mencela kaum LGBT.
Cerita tentang burungnya menarik gan

Jika burung liar itu bilang inilah hidupku, inilah aku, maka IM menggunakan kalimat "untukmu agamamu, untukku agamaku" atau "tafsirku untukku, tafsirmu untukmu"
Menarik buat diperhatikan sebenarnya ungkapan IM berikut ini:
Ketika dia bilang dia tidak tahu apakah dia benar atau tidak sebenarnya merupakan indikasi bahwa dia sendiri dalam posisi "selalu" mencari jawaban.
Menurut pendapat saya, seharusnya IM berhenti pada argumen dia yang menyatakan umat islam harus kritis dan harus mampu berijtihad. Argumen ini berada di level fundamental. IM seharusnya tidak berkampanye pada sisi-sisi aplikasi dari argumen fundamental tersebut, terutama jika dia sendiri masih dalam konteks "mempertanyakan".
Bookmarks