1336902178926975493.jpg
Penulis sangat terkejut membaca berita yang dilansir Detik dengan judul “Ditemukan Jenazah Berparasut Tergantung di Pohon, Diduga Pilot Sukhoi.” Beritanya mengacu keterangan dari salah satu team SAR, Sertu Abdul Haris, pimpinan regu dari Kopassus yang mengatakan, dia bersama 6 orang rekan kesatuan tengah berupaya menuruni tebing curam dengan tingkat kemiringan 85 derajat, tim baret merah itu berhasil menemukan jasad yang diduga pilot pesawat.
Abdul Haris menjelaskan kepada wartawan Sabtu (12/5), di Posko evakuasi Embrio, Bogor, ”Saat menuruni tebing kita melihat ada jasad di atas pohon bergelantungan di parasut.” Haris dan tim menduga jasad yang ditemukan tidak utuh tersebut adalah pilot pesawat nahas. Dugaan kuat itu dilihat dari ciri wajah depan yang sebagian masih terlihat utuh dan rambut putih. “Di dompet yang kami temukan di celana tertera nama orang asing,” ujarnya.
Berita ini sepintas kecil dan sederhana, tetapi menurut teori penerbangan sangat penting dalam penyelidikan sebuah kecelakaan pesawat. Sayang penjelasan yang diberikan tidak menyertakan data surat keterangan atau identitas yang mereka temukan dan foto parasut tersebut. Yang jelas apabila berita tersebut dibuat apa adanya, menurut penulis harus menjadi salah satu fokus investigasi. Disatu sisi, Sertu Abdul Haris sebagai anggota pasukan khusus (Kopassus) yang dipastikan juga seorang penerjun, jelas faham dan tidak mungkin salah mengenali bahwa jenazah tersebut tergantung di pohon dengan menggunakan parasut.
Kini timbul pertanyaan dibenak penulis, tidak wajar seorang penerbang pesawat angkut komersial menggunakan parasut. Parasut bagi seorang penerbang hanya dipergunakan mereka yang terbang dengan pesawat tempur. Jadi hal ini harus diselidiki lebih lanjut dan sebaiknya menjadi fokus dari team KNKT dan Basarnas. Spekulasi bisa berkembang menjadi bermacam-macam.
Yakini dahulu bahwa jenazah tersebut memang Captain Pilot Alexander Yablontsev, dari pengamatan sekilas Abdul Haris secara fisik memang mereka perkirakan orang tersebut pilotnya. Ataukah di pesawat tersebut terdapat orang lain yang sudah mempersiapkan diri dengan parasut, yang mempunyai niat tidak baik? Apakah ada Hijacking? Nah, spekulasi seperti ini bisa saja terjadi. Dengan 14.000 jam terbang, Yablontsev bukanlah penerbang sembarangan, dia penerbang handal dan terbaik yang dimiliki oleh Sukhoi. Pesawat SSJ100 tersebut juga dilengkapi dengan peralatan yang super modern yang mampu memonitor hambatan cuaca buruk dan sebuah medan berbahaya di sebuah ketinggian. Apakah sesederhana dan semudah itu Yablontsev dan SSJ100 yang super modern itu menabrak gunung?
Apabila informasi tersebut benar, terbukti ada jasad yang menggunakan parasut, ini bisa merupakan salah satu pintu masuk terhadap kecelakaan yang sangat mengherankan tersebut. Team ahli Rusia kini sebanyak 77 orang sudah datang, mereka adalah para ahli yang khusus dikirim oleh pemerintah Rusia. Bersama mereka juga dikirim dua helikopter serta peralatan investigasi lainnya. Kita sebaiknya menyampaikan setiap rinci informasi kepada mereka, karena mereka yang sangat faham dengan kemampuan dan kerawanan pilot serta pesawatnya.
Memang kini kita sebaiknya tidak berspekulasi dalam menyatakan penyebab kecelakaan tersebut. Sebagai insan udara dan anggota kelompok ahli BNPT, penulis merasakan ada sebuah keganjilan disini. Pemikiran ini hanyalah sebuah masukan sebagai sense of intelligence. Semoga semua tabir gelap ini terkuak, ada apa sebenarnya dibelakang ini semuanya. Kasus ini demikian penting bagi bangsa Indonesia dan Rusia. Selamat bertugas.
http://hankam.kompasiana.com/2012/05/13/pilot-sukhoi-pakai-parasut-ada-hijacking/
===============
yang saya bold, harus diselidiki nih eeemm.... ada apa nih???
btw, disini saya lihat ada beberapa member yang gak asing lagi dengan dunia penerbangan. siapa tau bisa mencoba menganalisa soal seperti ini?
UPDATE! parasut itu memang ada!
btw, agak panjang nih artikelnya, dibaca aja biar paham. dibacanya juga gak bosen kok
yang saya baca dari artikel ini http://hankam.kompasiana.com/2012/05...ssus-dibantah/
bahwa si penulis ini percaya info tersebut bahwa keterangan Sertu Haris sebagai anggota pasukan elit yang dibanggakan informasinya tidak salah. Salah satu syarat menjadi anggota Kopassus adalah sudah mengikuti Separkoad (Sekolah Para dan Komando TNI AD), artinya dia juga penerjun. Nah, disitulah asumsi penulis mengatakan bahwa Haris faham dan bisa membedakan yang namanya parasut dengan perlengkapan terbang lainnya. Penjelasan Sertu Abdul Haris dapat disimak dari video ini (di menit 2.16)
Aneh, itulah yang kita rasakan, bahwa informasi kecil itu akan menjadi sangat penting dalam penyelidikan kecelakaan pesawat terbang.
Memang setelah menemukan jasad yang diduganya penerbang pesawat para anggorta Kopassus jelas dengan susah payah menurunkan dari pohon dan melepaskan dari parasut yang katanya menggantung. Setelah itu jenazah di angkat dan digeser ke posko dengan susah payah, hingga sempat menginap semalam di perjalanan dan baru keesokan harinya ketujuh anggota itu sampai ke Posko. Pembantahan soal parasut juga terjadi di RS Polri, tidak ada jenazah pakai parasut. Secara logika, para anggota Kopassus tadi tidak mungkin membawa jenazah serta parasutnya. Tugas mereka melakukan evakuasi korban, dan lagipula, pada lereng yang demikian terjal, siapa yang berfikir untuk menyelamatkan parasut yang juga berat. Disitulah logika berfikirnya. Bagi mereka yang pernah mengikuti latihan gunung hutan pasti bisa merasakan betapa beratnya medan sangat terjal dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Nafas sampai di leher dan kaki serasa mau putus, itu yang penulis rasakan saat mengikuti Introduction Latihan Komando Paskhasau.
Penjelasan soal adanya parasut yang mengembang di lokasi jatuhnya Sukhoi SSJ100 dibenarkan dan dijelaskan oleh Ketua KNKT Rusia, Serge Korostiev, yang mengatakan parasut memang menyatu dengan peralatan untuk bertahan hidup (survival kit), yang disimpan pesawat bersama peralatan lainnya.”Parasut berada di dalam satu boks kontainer yang merupakan survival kit kalau pesawat harus mendarat secara darurat,” kata Korostiev melalui penerjemah saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa (15/5).
Survival kit itu berisi minuman, makanan dan peralatan obat. “Adanya ledakan, banyak spare part pesawat banyak jatuh dari tempat kecelakaan dan parasut secara otomatis terbuka,” katanya. Dia menjelaskan bahwa parasut itu bukanlah alat untuk menyelamatkan diri pilot seperti yang ada di pesawat tempur. ”Parasut ada, tapi bukan untuk pilot meloncat dari pesawat, bukan untuk eject seperti di kursi pilot. Tapi sebagai survival kit.” demikian penjelasannya.
Kini kita menjadi jelas bahwa SSJ100 tersebut memang dilengkapi dengan parasut, berarti informasi dari Sertu Abdul Haris benar adanya. Hanya yang belum jelas dan perlu penjelasan bagaimana parasut terpasang ketubuh pilot itu. Yang jelas parasut dengan survival kit terlempar saat terjadi impact dan mungkin terlempar bersama-sama dengan pilot, atau pilot sudah memakai parasut sebelum terjadinya impact. Itulah misteri yang belum terjawab, dan ini penting sekali nilai informasi intelijennya.
Apa yang terpenting dari kasus ini? Pimpinan team penyelamat selain melakukan evakuasi juga sebaiknya memberikan pembekalan kepada anggota team apa yang harus dikerjakan, kalau bisa dengan bukti foto. Setiap informasi yang dikumpulkan oleh team lapangan diterima dan menjadi fakta oleh analis. Bisa saja terjadi sebuah kecelakaan karena sebuah pembajakan dan pesawat ditabrakkan ke gunung oleh pembajak. Peristiwa 911 adalah pelajaran yang sangat berharga dan mungkin saja itu terjadi disini. Juga kemungkinan lain adanya sabotase. Jangan dikesampingkan kemungkinan-kemungkinan ekstrim seperti ini.
Ini adalah proyek prestise bangsa Rusia, merupakan kebangkitan investasi dan pembangunan industri penerbangan pesawat komersial yang proyeknya berharga milyaran dollar. Ini bukan sebuah proyek kecil, tetapi proyek raksasa dan merupakan masa depan sebuah negara. Tidak semua pihak menyukai kesuksesan kecermelangan proyek Sukhoi Superjet 100 ini. Kita semua faham, apakah tidak mungkin ada tangan-tangan jahil dan berlumuran darah yang berusaha menggagalkannya. Kenapa di Indonesia? Tolong diukur, apakah sistem sekuriti penerbangan dan bandara sudah memadai? Sangat mungkin sesuatu digarap di Indonesia karena sense of security kita lemah.
====
ehmm.. logikanya bener juga yaa..
tapi terlepas dari itu semua, black box udah ketemu kan ya.. jadi diharapkan terungkap semua..


LinkBack URL
About LinkBacks






Reply With Quote





Bookmarks