Tipe kamera ini masih relatif sangat baru. Panasonic G1, tipe pertama dalam kelas ini, diluncurkan akhir 2008, hanya sekitar 25 bulan lalu. Pada saat itu, DSLR masih mengharuskan pengguna mengintip dari viewfinder dan berukuran besar. Panasonic G1 menghilangkan viewfinder optik, menghilangkan cermin di bagian dalam, dan secara otomatis memperkecil ukuran kamera. Cara kerja kamera ini tidak berbeda dengan kamera compact DSLR-like. Namun bedanya, lensa kamera ini dapat dilepas-pasang.
Saat ini, pilihan tipe yang tersedia sudah lebih banyak dari tahun 2008, meskipun tetap masih sangat sedikit. Karena hanya 5 produsen yang memproduksi kamera tipe ini, kami akan menjabarkan kelas kamera ini per produsen.
Olympus
Tipe terkini Olympus adalah Pen E-P2 dan Pen E-PL1. Keduanya hampir tak berbeda kecuali pada materi casing dan built-in flash yang tersedia. Mungkin mengejutkan bahwa tipe yang lebih terjangkau, yaitu E-PL1, justru memiliki lebih banyak feature. Namun bentuk kamera ini memang kurang menarik jika dibandingkan E-P2.
Berbeda dengan lini DSLR Olympus, lini kamera hybrid-nya dinamakan Micro Four-Thirds (MFT). Berkat kolaborasinya dengan Panasonic dalam pengembangan standar kamera ini dan kompatibilitasnya dengan berbagai aksesoris DSLR Olympus, dapat dibilang bahwa MFT Olympus merupakan kamera hybrid paling menarik saat ini. Selain itu, E-PL1 juga merupakan satu-satunya kamera dalam kelas ini yang dihargai di bawah 6 juta rupiah di pasaran.
Performa E-P2 dan E-PL1 termasuk baik. Kedua kamera ini memiliki respon autofokus yang cukup cepat dan kualitas gambar baik di ISO tinggi. Keduanya juga dilengkapi dengan peredam getar pada sensor dan hot-shoe. Pada hot-shoe, Anda dapat memasangkan beragam aksesoris khusus MFT, seperti viewfinder atau mic. Hot-shoe juga kompatibel penuh dengan seluruh flash Olympus.
Kesimpulan: E-P2 bagus, tetapi tidak memberikan value yang baik dibandingkan harga jualnya. Sebaliknya, dengan dana 6 juta rupiah, Olympus E-PL1 dapat memberikan lebih banyak feature daripada DSLR yang senilai. Tidak ada salahnya mencoba kamera ini jika harganya masuk dalam rentang budget Anda. Namun, perlu diingat bahwa kedua kamera ini sudah berumur 1 tahun. Sangat mungkin di pertengahan 2011 nanti, Olympus akan meluncurkan tipe terbaru dalam lini MFT-nya.
Panasonic
Tahun ini, Panasonic meluncurkan empat tipe kamera MFT dan menurut pendapat pribadi kami, keempatnya layak masuk dalam posisi 5 besar di kelas kamera hybrid. Namun, yang paling menarik adalah dua kamera terkini, Lumix GH2 dan Lumix GF2. Kedua kamera ini membanggakan perekaman video Full HD (1920x1080pixel) dan layar touch screen dalam ukuran kamera yang benar-benar berbeda. GH2 lebih besar dan memiliki lebih banyak feature. Kamera ini juga menggunakan sensor baru 16 megapixel, berbeda dengan Lumix G lain yang masih 12 megapixel.
Panasonic GF2 adalah pengembangan lebih lanjut dari GF1 yang sangat populer. Dengan memindahkan banyak fungsi tombol ke layar sentuh, Panasonic dapat lebih jauh memperkecil ukuran kamera. GF2 kini adalah kamera hybrid kedua paling mungil, hanya sedikit lebih besar dari Sony NEX-5. Performa GF2 juga sangat baik, salah satu yang tercepat di kelas kamera hybrid.
Panasonic G2 dan G10 yang diluncurkan awal 2010 sangat serupa dari bentuk maupun feature. Keduanya hanya berbeda pada feature layar. G2 dilengkapi layar sentuh yang dapat diputar, sementara G10 hanya dilengkapi layar biasa. Keduanya hanya dapat merekam video HD (1280×1080 pixel) dengan mic built-in mono, sementara GF2 dan GH2 dilengkapi mic stereo. Namun, selain perbedaan feature video, G2/G10 memiliki feature foto yang nyaris sama dengan GH2/GF2.
Kesimpulan: Panasonic GF2 adalah kamera paling menarik dari keempat Lumix G terkini. Ukuran GF2 sangat kecil, dilengkapi layar touch screen, dengan feature foto dan video yang sangat baik. Namun, GF2 baru tersedia di pasaran Januari 2011 nanti. Harganya pun masih belum diumumkan. Jika Anda mencari kamera ukuran medium, salah satu dari ketiga Lumix G yang lain adalah pilihan terbaik saat ini. Sesuaikan saja dengan dana Anda.
Ricoh
November 2009 Ricoh memperkenalkan GXR, kamera modular yang unik. Pada Ricoh GXR, Anda tidak hanya dapat mengganti lensa, tetapi juga sensor kamera. Konsep GXR memisahkan bodi kamera, yang terdiri dari layar dan grip, dengan modul imaging, yang terdiri dari kesatuan sensor dan lensa. Berkat sistem modular ini, ukuran sensor dapat disesuaikan dengan spesifikasi lensa. Selain itu, menggantinya jauh lebih mudah dan lebih aman dari debu. Tipe terkini adalah modul P10 dengan lensa 28-300mm dan modul A12 dengan lensa 28mm f/2,5.
Kesimpulan: Inovasi Ricoh perlu dikagumi, Ricoh GXR adalah sebuah kamera unik yang menyelesaikan banyak masalah dalam sistem kamera hybrid. Namun, harga yang tinggi serta distribusi yang kurang baik menjadikan Ricoh GXR tidak menarik.
Samsung
Samsung mulai terjun ke dunia hybrid di Juni 2010 dengan Samsung NX10. Kamera ini adalah tipe kamera yang lebih “serius” dengan viewfinder elektronik dan built-in flash. Samsung menggunakan ukuran sensor yang sama dengan yang digunakan pada DSLRnya. Sensor format APS-C ini lebih besar ketimbang sensor pada kamera MFT. NX10 juga dilengkapi dengan komponen elektronik terbaik, seperti layar AMOLED dan viewfinder resolusi 1 juta dot. Performa autofokusnya termasuk yang paling cepat.
September lalu, Samsung meluncurkan kamera hybrid keduanya, yaitu NX100. Kamera ini adalah tipe kamera yang lebih fun, dengan garis-garis melengkung yang menarik. Performa NX100 dapat dibilang sama dengan NX10, dengan feature yang tak jauh berbeda. Perbedaan terletak hanya pada built-in flash dan viewfinder karena batasan ukuran NX100 yang lebih kecil. Karena itu, untuk NX100 tersedia aksesoris flash dan viewfinder elektronik yang sama mungilnya dengan kameranya. NX100 juga dipasarkan dengan lensa khusus yang mendukung i-Function. i-Function memungkinkan Anda mengatur parameter pemotretan dengan tombol yang terletak pada lensa dan tak tersedia pada NX10.
Kesimpulan: Dua kamera hybrid Samsung sebenarnya sangat bagus, tetapi cukup membingungkan karena perbedaan kompatibilitas lensa dan aksesoris. Jika Anda tak berencana mengembangkan sistem kamera Anda, silahkan saja pertimbangkan salah satu dari kedua kamera bagus ini. Namun, bagi kebanyakan calon pengguna, keterbatasan pilihan lensa mungkin akan mengurungkan niat membeli.
Sony
Sony NEX adalah kamera hybrid paling tipis dan paling kecil saat ini. Padahal, kamera ini memiliki sensor dan layar yang besar, salah satu yang paling besar. Sony memasarkan dua varian, yaitu NEX-3 dan NEX-5, tetapi kami tak mengerti alasannya. Kedua kamera ini begitu serupa bentuk dan featurenya sehingga kadang petugas Sony Center pun kesulitan membedakannya. Kedua kamera dilengkapi sensor APS-C 14 megapixel dan layar flip-out 920.000 dot. Ukuran keduanya sama kecil dan sama-sama tak memiliki built-in flash maupun viewfinder. Perbedaannya, NEX-5 dapat merekam video Full HD (1920×1080 pixel) sementara NEX-3 hanya 1280×720 pixel. Kedua kamera dipasarkan berikut sebuah flash mini yang dapat dipasangkan pada electronic shoe.
Kesimpulan: Sebagai kamera hybrid tertipis, Sony NEX memiliki daya tarik tersendiri. Performa autofokusnya tidak secepat Panasonic atau Samsung, tetapi masih baik. Kualitas foto dan video keduanya sangat baik, mungkin yang terbaik di kelas ini. Tetapi, jika Anda tertarik, Anda perlu mengingat bahwa NEX tidak dilengkapi hotshoe konvensional sehingga pilihan akesorisnya sangat terbatas. Selain itu, harganya juga masih termasuk tinggi.
Bookmarks