Ketika Mega-Mega di Angkasa Menyampaikan Berita tentang Wanita
Ini kisah tentang berita yang dibawa mega-mega dari angkasa tempat para dewa bertahta.
Beritanya sederhana tetapi perbawanya pernah menggetarkan tidak hanya tahta para raja
Tetapi juga kharisma semua jiwa mahluk-mahluk bernyawa yang hidup di alam mayapada.
Konon kabarnya para dewa sempat sangat murka ketika titah mereka menetapkan wanita
Sebagai calon penguasa bumi swarna dwipa dan jagat raya beserta dengan segala isinya
Ditentang habis-habisan tidak hanya oleh para raja di seantero jagat raya bumi nusantara
Tetapi juga oleh punggawa dan kawula-kawula yang notabene tak punya kuasa apa-apa!
Yang membuat para dewa garuk-garuk kepala dan dada sebelum mereka serentak murka
Adalah mengapa semua punggawa dan kawula berani bersatu menentang titah para dewa?
Bukankah adalah para dewa penguasa dunia yang menjadi penentu hidup mati para raja,
Apalagi jika hanya hidup dan mati rakyat jelata, para punggawa dan para kawula biasa ?
Bah … bah … bah … begitu para dewa menggebah-gebah murka menunjukkan perbawa
Bahwa merekalah yang paling berkuasa dalam menentukan segalanya-galanya di dunia,
Tidak hanya di bumi, tidak hanya di angkasa, tetapi juga di seantero nirwana dan neraka!
Mengapa kalian menolak wanita menjadi raja penguasa seperti yang ditetapkan para dewa?
Sang juru bicara berbicara keras menggelegar menembus mega-mega sebelum akhirnya
Jatuh menghunjam ke bumi ke tempat pada penentang duduk bersimpuh menunggu murka!
Pria dan wanita sama saja, dan kali ini kami para dewa memilih wanita untuk menjadi raja
Untuk memerintah, mengurus dan mengelola dunia jagat raya beserta dengan segala isinya
Karena mereka semua kami anggap cukup punya perbawa dan paham akan tata kelola.
Wanita pantas menjadi raja, pantas menjadi penguasa, pantas jadi apa saja, karena mereka
Sejak dulu kala sama dan setara dengan kaum pria bahkan juga dengan kami para dewa.
Karenanya … ayo … sekarang siapa yang berani merajut nada dan merangkai kata-kata
Menyampaikan logika penolakan titah kami para dewa penguasa agar wanita menjadi raja?
Tetapi memang itulah yang telah terjadi, tidak peduli betapa besar kuasa mutlak para dewa
Dalam menentukan mati hidup manusia, mereka tetap maju tak gentar dengan berani bicara
Bahwa tidak layak jika pada ini masa wanita ditetapkan sebagai penguasa pengelola dunia
Sang juru bicara yang badannya ceking dan sekering ranting pohon angsoka angkat suara,
Dia tampak gemetar tetapi lidahnya tetap berhasil dipaksa berbicara mengeluarkan suara
Tak keras tetapi membahana ketika meretas mega-mega yang ikut heran tak terkira-kira
Melihat punggawa dan hamba sahaya meskipun kepala tunduk tak berani menatap mata,
Tetap saja angkat bicara dan melontarkan kata-kata penolakan di depan junjungan mereka.
Jangan biarkan wanita menjadi penguasa sementara kami kaum pria hanya menjadi hamba!
Bukankah memang kaum pria yang sejak jaman dulu kala telah ditunjuk menjadi penguasa
Karena kami memang lebih perkasa, lebih berwibawa, di antara semua mahluk bernyawa!
Tidak benar itu! Suara menggelegar para dewa tidak hanya membelah bumi dan angkasa
Tetapi juga membelah sukma semua mahluk di alam mayapada; catat baik-baik ini semua,
Dari dulu sampai sekarang wanita dan pria selalu setara; inilah garis ketentuan jaman purba
Yang ditetapkan sejak lama oleh kami para dewa; kalau keduanya memang harus berbeda,
Itu semata karena yang satunya pria dan yang satunya lagi wanita, bukan karena apa-apa.
Tidaklah kalian masih ingat bagaimana mulanya wanita diciptakan dari tulang iga kaum pria,
Bukan dari kepalanya karena hanya akan menjadi penguasa dan juga bukan dari kakinya,
Karena hanya akan diinjak-injak tanda kurang berdaya, tetapi dari iganya agar tetap setara,
Di dekat tangan kekar kaum pria agar dilindungi olehnya dan amat dekat dengan jantungnya
Agar selalu dicintai sepanjang masa, dan itulah memang esensinya ketika kami para dewa
Menetapkan bahwa pria dan wanita setara, setara di dunia, setara juga nanti di nirwana!
Jadi kalau sekarang wanita dipilih menjadi raja karena memang setara dengan kaum pria,
Bukan karena lebih berjaya atau karena lebih berkuasa, tetapi karena kalian sama setara.
Lalu bagian mana yang ditolak dari titah dan sabda para dewa tentang siapa yang jadi raja?
Murka para dewa terus berlanjut berlama-lama meskipun ternyata isinya tetap sama saja!
Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – HP. 087853451949



LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

)

Bookmarks