Tagline "AMANAT HATI NURANI RAKYAT" dari koran Kompas ini yang aku suka dari dulu. Tetapi belakangan ini aku mulai terusik dengan pertanyaan: "rakyat yang mana? Rakyat Indonesiakah?" Mestinya begitu. Amanat hati nurani rakyat Indonesia, termasuk para petani tembakau, petani cengkeh, para buruh dan pekerja Indonesia dari hulu hingga hilir dari pertembakauan Indonesia, ya para pedagang asongan, dst-dstnya. Maka, ketika Kompas dihadapkan dengan agenda pengendalian tembakau dengan segala kampanye bahaya tembakau itu, Kompas tentu akan bersikap kritis. Menilisik dan meneliti agenda itu secara mendalam dan kompherensif. Melakukan investigasi kepentingan-kepentingan apa dan kepentingan siapa di balik agenda itu. Kompas tentu akan menemukan bahwa di balik agenda dengan segala kampanye anti tembakau itu terdapat kepentingan bisnis perdagangan obat-obat Nicotine Replacement Therapy (NRT) dari korporasi-korporasi farmasi multinasional yang membiayai agenda anti tembakau dengan segala kampanye itu. Dengan hasil investigasi dan kajian mendalam ini Redaksi Kompas menentukan kebijakan pemberitaan mengenai isu secara bijaksana dengan tetap berpegang teguh pada "Amanat Hati Nurani Rakyat" Indonesia, bukan memihak kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan dagang di balik agenda ini. Kenyataan selama ini dalam soal agenda anti tembakau ini, Redaksi Kompas agak mengabaikan "Amanat Hati Nurani Rakyat" dan lebih memilih menjadi suara pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam agenda anti tembakau dengan segala kampanyenya atas nama kesehatan publik. Ini yang memprihatinkan saya!



LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks