Quantitative Easing : Mekanisme dan Dampaknya







Apa sih Quantitative Easing itu (QE)? Kebanyakan trader yang masih newbie biasanya bingung apa itu QE, bagaimana cara kerjanya, proses serta dampak yang ditimbulkan dalam dunia trading. Dalam trading ada dua analisa digunakan yaitu analisa teknikal dan analisa fundamental.
Nah, Quantitative Easing ini termasuk dalam teknik analisa fundamental. Kenapa bisa begitu?? Biasanya jika ada news tentang QE maka pergerakan harga di market pun akan berubah secara cepat, entah itu naik ataupun turun.

Dalam thread ini ane akan bantu menjabarkan sejarah moneter dunia yang disebabkan QE, bagaimana mekanisme dari QE dan apa dampak yang akan ditimbulkan. tapi sebelumnya ane akan menjelaskan apa itu Quantitative Easing terlebih dulu. Quantitative Easing itu sebuah pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral suatu negara. Kebijakan ini berhubungan dengan adanya pencetakan uang baru dalam jumlah besar. Dan uang baru yang beredar tersebut akan disalurkan pada bank-bank lokal dengan harapan dapat memacu perkreditan rakyat, mendorong pembelanjaan dan mengurangi tekanan pada bank lokal di suatu negara/kawasan.

Mungkin kita bertanya-tanya, moneter yang terjadi dulu apa hubungannya dengan QE??? ada hubungannya, justru ini yang mendasari terjadinya moneter. Dibawah ini saya akan coba menjelaskan bagaiman kronologinya.


sejarah Moneter Dunia

Dahulu, setiap uang yang dicetak oleh Bank Sentral itu harus dijamin oleh sejumlah ons emas. Artinya bila seseorang mendepositkan 10 ons emas di bank, maka ia akan mendapatkan selembar surat berharga yang bisa digunakan untuk bertransaksi sesuai jumlah emas yang dia depositkan. Selembar surat berharga inilah yang kita kenal sebagai “mata uang”. Namun karena sifat keserakahan manusia, semakin kesini bank menerbitkan “surat berharga” lebih banyak dari cadangan deposit emas yang ada di bank tersebut. Hal inilah yang menjadi awal kejatuhan sistem moneter internasional dan berlanjut sampai sekarang ini.


Mekanisme Quantitative Easing

Kita ambil contoh saja seperti yang baru terjadi di Amerika, Amerika sebagai negara dengan perekonomian yang berpengaruh di dunia pekan lalu mengumumkan akan dilaksanakannya QE tahap ke 3. Dimana Federal Reserve (Fed) bertindak sebagai Bank Sentral AS. Fed mencetak uang (tanpa jaminan dari emas tentunya) untuk membeli surat hutang negara dari pemerintah ataupun bank-bank komersial melalui open market. Dari pembelian surat berharga maka pemerintah dan bank-bank tersebut mendapatkan suntikan dana segar untuk membiayai berbagai hal. Pemerintah dapat menggunakannya untuk membiayai anggaran pengeluaran, dan bank-bank komersial dapat menggunakannya untuk kembali menyalurkan kredit ke masyarakat. Yang diharapkan jika kredit ke masyarakat berjalan lanjar, hal ini akan kembali menggerakkan roda perekonomian. Dan secara tidak langsung hal itu juga memicu pertumbuhan ekonomi negara tersebut.


Dampak Quantitative Easing

Tujuan quantitative easing sendiri pada dasarnya untuk menurunkan tingkat bunga kredit agar masyarakat dan korporasi (badan usaha) bisa mendapatkan pinjaman dana dengan bunga terjangkau. QE juga diharapkan memancing para investor untuk keluar dari jenis investasi yang aman seperti bonds (surat hutang negara) dan bisa lebih banyak berkontribusi ke private sektor seperti meminjamkan modal ke perusahaan ataupun pengusaha. Pada akhirnya ini akan menaikkan optimisme bahwa ekonomi akan membaik. Harapan akan ekonomi yang membaik seperti inilah yang mendorong harga saham naik pesat ketika QE diumumkan.

Namun yang terjadi pada kenyataanya sangatlah berbeda. Bank-bank yang telah mendapatkan suntikan dana dari Fed tidak bisa (atau tidak mau) menyalurkan kredit ke masyarakat seperti yang sudah direncanakan. Bank-bank tersebut lebih suka menggunakannya untuk berspekulasi di market. Ya namanya juga manusia, dengan sikap serakahnya mereka ingin mendapatkan keuntungan untuk dirinya masing-masing. Seperti kasus JP Morgan yang akhirnya mengalami kerugian milyaran dolar AS karena berspekulasi di market Credit Default Swap (CDS). Bank-bank di Indonesia juga pernah mengalami kasus seperti ini, seperti kasus kredit macet pada beberapa tahun yang lalu. Belum lagi bila mereka turut terlibat untuk berspekulasi di pasar saham.


QE berpotensi menyebabkan resiko inflasi

Sebelumnya ane jelasin dulu pengertian inflasi secara garis besar. Inflasi sendiri bisa di artikan dalam beberapa pemahaman. Ane akan jelaskan beberapa pemahaman mengenai inflasi. Kalau menurut ane inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Hal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya hubungan antara permintaan dan penawaran, terhambatnya proses distribusi barang/jasa kepada konsumen, dan meningkatnya persediaan uang yang beredar di masyarakat.

Dampak yang sering kita temui dari adanya QE adalah menyebabkan resiko inflasi di mata uang karena adanya pencetakan uang baru dengan catatan apabila hal tersebut menyebabkan index harga barang & jasa naik. Di sisi lain Bernanke selaku presiden bank sentral AS yakin bahwa QE tidak akan menyebabkan inflasi karena sejauh ini tingkat permintaan untuk barang & jasa di Amerika masih sangat rendah. Mengacu pada ilmu ekonomi, tingkat permintaan yang tinggi akan menyebabkan harga menjadi naik, dan harga yang naik inilah yang menyebabkan nilai inflasi karena kita membutuhkan jumlah uang yang lebih banyak untuk mendapatkan suatu barang / jasa (hukum permintaan dan penawaran).
Tidak bisa di pungkiri resiko inflasi masih tetap ada tentunya, dan hal inilah yang mendorong Harga Emas naik tajam seperti yang kita lihat pada beberapa tahun terakhir sejak krisis finansial global terjadi di tahun 2008.


kita tahu apabila QE tersebut dijalankan sesuai dengan prosedur yang ada maka dampak yang diberikan akan positif. Tetapi jika Kebijakan QE tersebut disalahgunakan maka secara tidak langsung juga akan memperburuk keadaan perekonomian suatu negara. Dari penjelasan panjang lebar di atas bisa ane simpulkan bahwa QE memiliki pengaruh yang besar terhadap perekonomian suatu negara, bahkan bisa dalam lingkup Internasional.

Sekian sedikit penjelasan ane untuk agan-agan sekalian. Semoga bisa menambah wawasan serta pengetahuan tentang ekonomi global khususnya mengenai QE.



Referensi: Quantitative Easing