Para bankir investasi dari pusat keuangan dunia seperti New York dan London berdatangan dan memilih bermukim di Jakarta. Mereka mendirikan perusahaan private equity yang mengumpulkan dana para orang kaya dari seluruh dunia untuk kemudian diinvestasikan di Indonesia. Bank Mutiara jadi salah satu bidikannya.
Pada akhir tahun lalu, Brian O' Connor, seorang bekas eksekutif senior di Lehman Brothers Holdings dan pernah memimpin bank investasi asal Amerika Serikat (AS) tersebut di Indonesia pada tahun 2001, mendirikan private equity bernama Falcon House Partners. Connor mendirikan perusahaan itu bersama sejawatnya ketika bekerja di EMP-Daiwa Capital Asia Ltd., sebuah private equity di Asia Tenggara, Samir Soota.
Duo ini juga menggandeng Glenn Yusuf, bekas Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. Kini, Glenn menjadi komisaris di perusahaan stasiun televisi PT Surya Citra Media Tbk (SCTV). Seperti dikutip dari Bloomberg, Falcon menargetkan akan mampu meraih dana uS$ 200 juta dari usaha private equity pada tahun ini.
Yawadwipa Companies
Yang terbaru adalah Yawadwipa Companies. Perusahaan private equity ini baru didirikan pertengahan Januari 2012 oleh Mark Thornton dan Christopher Holm. Selain di Jakarta, Yawadwipa berkedudukan di Singapura. Thornton adalah bekas bankir 3i Group Plc, sebuah perusahaan private equity yang mencatatkan sahamnya di bursa London. Sedangkan Holm adalah bekas bankir Bank of America, yang menjadi managing director bank asal AS itu di Hong Kong.
Mereka berharap bisa mengelola dana private equity senilai US$ 1 miliar. Meski masih berumur balita, Yawadwipa langsung menyedot perhatian publik ketika mengajukan penawaran pembelian saham Bank Mutiara pada awal pekan ini. Pemerintah sebagai pemegang saham bank hasil bailout ini mematok nilai penjualan minimal Rp 6,7 triliun.
Kedatangan para bankir papan atas dunia tersebut akan meramaikan bisnis private equity di Indonesia, yang masih sepi pemain. Private equity yang lebih dulu eksis hanya sedikit. Misalnya, Saratoga Capital yang dimiliki oleh Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya. Terakhir, private equity ini mengambil alih maskapai penerbangan Mandala Airlines senilai US$ 400 juta.
Northstar Pacific Partners
Selain itu ada Northstar Pacific Partners, private equity lokal yang dioperasikan oleh Patrick Walujo, bekas bankir investasi Goldman Sachs Group. Private equity yang sering mengelola dana Texas Pacific Group (perusahaan private equity asal AS) ini meraih dana US$ 820 juta sepanjang tahun 2011. Kesuksesan inilah yang mendorong TPG membeli saham minoritas Northstar pada akhir tahun lalu. Pada Mei 2011, Northstar dan TPG bersama bos PT Adaro Energy Tbk Boy Garibaldi Thohir, membeli perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia.
Private equity adalah perusahaan pengelola dana dari para investor institusi, termasuk dana pensiun dan asuransi dari seluruh dunia. Perusahaan ini akan menginvestasikan dana tersebut ke berbagai perusahaan di negara manapun, dengan cara paling lazim adalah mengakuisisi perusahaan lain yang tengah bermasalah tapi punya prospek bagus.
Selanjutnya, private equity menempatkan orang profesional untuk mengelola perusahaan tersebut. Setelah dipoles dan menjadi bagus akan dijual kembali dengan harga jauh lebih tinggi dari harga akuisisi. Janji keuntungan tinggi inilah yang mendorong para pemilik dana mau menyerahkan dananya untuk dikelola oleh private equity.
Indonesia merupakan pasar potensial untuk bisnis private equity. Sebab, negara ini baru saja menyandang status layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkatan internasional. "Indonesia merupakan tujuan paling seksi untuk pasar emerging markets saat ini," kata Juan Delgado Moreira, Head of Asia Hamilton Lane di Hong Kong, konsultan keuangan yang separuh kliennya menginvestasikan duitnya melalui private equity.


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote
Bookmarks