
Originally Posted by
Hand15
Penjelasan seperti ini terlalu oversimplified, karena evolusi itu terjadi secara perlahan dan dalam waktu yang lama. Adalah tidak tepat mengatakan mutasi menyebabkan pembentukan spesies baru, melainkan kombinasi antara mutasi (yang menyebabkan keanekaragaman gen), seleksi alam, genetic barrier, genetic drift, dan waktu yang menyebabkan divergensi spesies menjadi dua spesies.
Namun mutasi fusi kromosom manusia itu merupakan salah satu mutasi terpenting pada manusia. Menurut kajian pada bidang genetika, fusi kromosom ini berkorelasi terhadap tingkat kecerdasan manusia. Selain itu, mutasi ini membuktikan bahwa nenek moyang simpanse dan manusia adalah sama.
lihat yang saya bold
Mutasi didefinisikan sebagai pemutusan atau penggantian yang terjadi pada molekul DNA, yang terdapat dalam inti sel makhluk hidup dan berisi semua informasi genetis. Pemutusan atau penggantian ini diakibatkan pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi
kimiawi. Setiap mutasi adalah "kecelakaan" dan merusak nukleotida-
nukleotida yang membangun DNA atau mengubah posisinya. Hampir
selalu, mutasi menyebabkan kerusakan dan perubahan yang sedemikian parah sehingga tidak dapat diperbaiki oleh sel tersebut.
Mutasi, yang sering dijadikan tempat berlindung evolusionis, bukan
tongkat sihir yang dapat mengubah makhluk hidup ke bentuk yang lebih maju dan sempurna. Akibat langsung mutasi sungguh berbahaya.
Perubahan-perubahan akibat mutasi hanya akan be-rupa kematian, cacat dan abnormalitas, seperti yang dialami oleh penduduk Hiroshima, Nagasaki dan Chernobyl. Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur teramat kompleks, dan pengaruh-pengaruh yang acak hanya akan menyebabkan kerusakan pada struktur tersebut. B.G. Ranganathan
menyatakan:
Mutasi bersifat kecil, acak dan berbahaya. Mutasi pun jarang terjadi dan kalau-pun terjadi, kemungkinan besar mutasi itu tidak berguna. Empat karakteristik mutasi ini menunjukkan bahwa mutasi tidak dapat mengarah pada perkembangan evolusioner. Suatu perubahan acak pada organisme yang sangat terspesialisasi bersifat tidak berguna atau membahayakan. Perubahan acak pada sebuah jam tidak dapat memperbaiki, malah kemungkinan besar akan merusaknya atau tidak berpengaruh sama sekali. Gempa bumi tidak akan memperbaiki kota, tetapi menghancurkannya.
Tidak mengherankan, sejauh ini tidak ditemukan satu mutasi pun yang
berguna. Semua mutasi telah terbukti membahayakan. Seorang ilmuwan evolusionis, Warren Weaver, mengomentari laporan The Committee on Genetic Effects of Atomic Radiation, sebuah komite yang meneliti mutasi yang mungkin disebabkan oleh senjata-senjata nuklir selama Perang Dunia II, sebagai berikut:
Banyak orang akan tercengang oleh pernyataan bahwa hampir semua gen mu-tan yang diketahui ternyata membahayakan. Jika mutasi adalah bagian penting dalam proses evolusi, bagaimana mungkin sebuah efek yang baik evolusi ke bentuk kehidupan lebih tinggi berasal dari mutasi yang hampir semuanya berbahaya?
Setiap upaya untuk "menghasilkan mutasi yang menguntungkan" berakhir dengan kegagalan. Selama puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan mutasi pada lalat buah, karena serangga ini bereproduksi sangat cepat sehingga mutasi akan muncul dengan cepat pula. Dari generasi ke generasi lalat ini telah dimutasikan, tetapi mutasi yang menguntungkan tidak pernah
dihasilkan. Seorang ahli genetika evolusionis, Gordon Taylor,
menulis:
Pada ribuan percobaan pengembangbiakan lalat yang dilakukan di
seluruh dunia selama lebih dari 50 tahun, tidak ada spesies baru
yang muncul... bahkan satu enzim baru pun tidak.
Seorang peneliti lain, Michael Pitman, berkomentar tentang kegagalan percobaan-percobaan yang dilakukan terhadap lalat buah:
Morgan, Goldschmidt, Muller, dan ahli-ahli genetika lain telah
menempatkan beberapa generasi lalat buah pada kondisi ekstrem
seperti panas, dingin, terang, gelap dan perlakuan dengan zat kimia
dan radiasi. Segala macam jenis mutasi, baik yang hampir tak berarti
maupun yang positif merugikan, telah dihasilkan. Inikah evolusi
buatan manusia? Tidak juga. Hanya sebagian kecil monster buatan ahli-ahli genetika tersebut yang mungkin mampu bertahan hidup di luar botol tempat mereka dikembangbiakkan. Pada kenyataannya, mutan-mutan tersebut mati, mandul, atau cenderung kembali ke bentuk asal.Hal yang sama berlaku bagi manusia. Semua mutasi yang teramati pada manusia mengakibatkan kerusakan berupa cacat atau kelemahan fisik, misalnya mongolisme, sindroma Down, albinisme, dwarfisme atau kanker. Namun, para evolusionis berusaha mengaburkan permasalahan, bahkan dalam buku-buku pelajaran evolusionis contoh-contoh mutasi yang merusak ini disebut sebagai "bukti evolusi". Tidak perlu dikatakan lagi, sebuah proses yang menyebabkan manusia cacat atau sakit tidak mungkin menjadi "mekanisme evolusi" evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih baik dan lebih mampu bertahan hidup.
Sebagai rangkuman, ada tiga alasan utama mengapa mutasi tidak dapat dijadikan bukti yang mendukung pernyataan evolusionis:
1) Efek langsung dari mutasi membahayakan. Mutasi terjadi secara
acak, karenanya mutasi hampir selalu merusak makhluk hidup yang
mengalaminya. Logika mengatakan bahwa intervensi secara tak sengaja pada sebuah struktur sempurna dan kompleks tidak akan mem-perbaiki struktur tersebut, tetapi merusaknya. Dan memang, tidak per-nah ditemukan satu pun "mutasi yang bermanfaat".
2) Mutasi tidak menambahkan informasi baru pada DNA suatu organisme. Partikel-partikel penyusun informasi genetika terenggut dari tempatnya, rusak atau terbawa ke tempat lain. Mutasi tidak dapat memberi makhluk hidup organ atau sifat baru. Mutasi hanya meng-akibatkan ketidaknormalan seperti kaki yang muncul di punggung, atau telinga yang tumbuh dari perut.
3) Agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, mutasi harus
terjadi pada sel-sel reproduksi organisme tersebut. Perubahan acak
yang terjadi pada sel biasa atau organ tubuh tidak dapat diwariskan
kepada generasi selanjutnya. Sebagai contoh, mata manusia yang
berubah aki-bat efek radiasi atau sebab lain, tidak akan diwariskan
kepada generasi-generasi berikutnya.
Singkatnya, makhluk hidup tidak mungkin berevolusi karena di alam
tidak ada mekanisme yang menyebabkannya. Kenyataan ini sesuai dengan bukti-bukti catatan fosil, yang menunjukkan bahwa skenario evolusi sangat menyimpang dari kenyataan.
Bookmarks