
Originally Posted by
forestgump
Bung Achamad,
Sekilas saya setuju dengan konsep sampeyan, bahwa campur tangan manusia mungkin akan berakibat buruk bagi penyu. Tapi konsep yang berkembang sekarang tidak sesederhana itu.
Saya mengutip kalimat terakhir anda "Jadi aksi manusia dalam melestarikan kehidupan liar adalah dengan menjaga agar aksi-aksi manusia tidak menginterfensi dan mengalahkan kehidupan liar itu sendiri."
Sekarang ini populasi global penyu itu terancam. Kegiatan2 manusia sudah terlanjur menginterfensi kehidupan penyu, sebenarnya kegiatan manusia di segala tinggkat telah menginterfensi hampir semua tingkatan ekologis di bumi. Jadi saya tidak setuju kalau manusia tinggal diam saja.
Saya kasih contoh ektrim. Populasi badak Jawa tinggal 40an ekor, dan diperkirakan hanya ada 4 betina. Apa kita tinggal diam saja dan membiarkan "alam" bekerja sendirinya? Perlu diingat cakupan (range) habitat badak telah menyusut lebih dari 90% akibat kegiatan2 manusia. Ini berarti (dari segi luas wilayah habitat, belum faktor lain seperti perburuan dll) kekuatan alam untuk menjaga populasi badak Jawa telah berkurang 90%. Tanpa interfensi manusia, mustahil badak Jawa tetap bertahan. Kalaupun dapat bertahan, coba bayangkan bagaimana Inbreeding Depression yang terjadi pada populasi tersebut.
Dalam kasus penyu, secara global jelas sekali habitat penyu telah menyusut drastis. Saya tidak tau angkanya persis (silahkan cari di website IUCN) tetapi saya yakin tinggal kurang dari 50%nya. Apalagi ditambah dengan berburuan, polusi, dll. Saya mengerti kekawatiran sampeyan mengenai tertanggunya siklus alami yang telah terjadi jutaan taun dan apa efeknya campur tangan manusia terhadap populasi tersebut. Di sini lah tantangan ilmuwan dan pemerintah dalam mempertahankan populasi penyu se-mirip mungkin dengan keadaan alaminya. Kita harus mengakui tidak mungkin merestorasi menjadi keadaan alami 100%, tetapi tetap harus berusaha sedekat mungkin. Di sinilah ilmu fisiologi, genetika populasi, biologi evolusi, ekologi dan konservasi akan sangat berguna.
Sebagai contoh, determinasi kelamin pada telur penyu bergantung pada suhu. Kalau tidak salah, telur akan menjadi jantan jika terpapar suhu lebih hangat dan betina terjadi jika terpapar suhu yang lebih rendah (persisnya silahkan cari di google). Jadi dalam lubang sarang penyu, telur yang terdapat di bagian atas dan bagian bawah akan memiliki kelamin yang berbeda. Ini yang harus diwaspadai para petugas/relawan. Perlu juga nantinya telur2 tersebut harus dijaga rasio jantan dan betinanya agar seimbang. Kenapa harus seimbang antar jantan dan betina? Agar effective population size-nya optimal (info lebih lanjut silahkan cari2 konsep mengenai genetika populasi di google).
Keep up the good work Bung Achamad, saya senang kalau makin banyak pembaca yang ikut konsern terhadap konservasi.
Bookmarks