Theis dan Atheis
Atheis itu didefinisikan sebagai orang atau kelompok orang yang tidak percaya
Pada adanya Tuhan, dan lawannya adalah orang atau kelompok orang percaya
Adanya Tuhan, sampai pada definisi ini persoalan tidak bakalan muncul karena
Sangat jelas, yang satu percaya adanya Tuhan dan yang satu tidak percaya.
Persoalan mencuat ketika kelompok yang satu merasa lebih hebat dan utama,
Sehingga tentu saja kelompok yang lain jadi kurang utama dan bahkan nista.
Persoalan semakin membara manakala muncul gagasan bahwa yang nista
Harus dibasmi sampai rata karena bagaimana bisa keberadaan Tuhan saja
Tidak diakui mereka padahal Dia adalah Maha Pencipta dan Maha Kuasa?
Pertanyaannya apa benar mereka yang koar-koar nyatakan diri tak percaya
Pada sang maha pencipta benar-benar tak percaya atau hanya di mulut saja?
Soal dasarnya dapatkah manusia tidak percaya pada sesuatu yang tidak ada?
Rasanya sulit diterima logika ada orang tak percaya pada yang namanya saja
Tidak pernah disebut dan tidak pernah ada, karena bukankah tidak percaya
Harus diungkapkan dengan kata, dengan bahasa, walau hanya dalam hati saja?
Percaya itu sama dengan tidak percaya jika menyangkut ungkap-ungkapannya.
Bukankah tak bisa ungkapkan sesuatu yang tidak pernah ada baik di dunia realita
Atau bahkan juga di dunia maya, singkat kata jika ingin diungkapkan harus ada.
Paling tidak harus ada namanya, karena mana bisa ungkapkan tidak percaya
Kalau nama yang tidak dipercaya saja tidak ada, maka dari itu mereka semua
Yang nyatakan tidak percaya Tuhan itu ada, sebenarnya pada saat yang sama
Juga mengungkapkan bahwa Tuhan itu ada .... ha ... ha... ha ... inilah rahasia
Besar alam semesta yang kadang kala karena tak dipahami lengkap seutuhnya
Banyak orang telinganya merah dan hatinya panas manakala ada manusia
Berani-beraninya berkata bahwa Allah itu tidak ada ... hai Allah itu pasti ada,
Buktinya? Banyak nian buktinya, dan salah satu diantaranya, ini paling nyata,
Saat ada yang mengatakan Allah itu tidak ada, maka jelas-jelas dia itu berkata
Bahwa Allah itu ada ....ada dan tidak ada itu kan satu, bagaimana tidak ada bisa
Ada kalau tidak ada yang ada, bagaimana yang ada bisa ada kalau lawannya
Tidak ada tidak boleh digunakan sama sekali ... ada itu tiada, tiada itu ada.
Dan ini semua dibingkai oleh sifat mahakuasa yang dimiliki sang maha pencipta.
Sadarkah bahwa konsep mahakuasa itu dapat bermakna bisa lakukan apa saja,
Dan pada saat yang sama dapat tidak lakukan apa saja, tergantung pada Dianya?.
Karenanya yang paling bijaksana, manusia jangan mengatur-atur yang mahakuasa
Di samping ini memang bukan porsi manusia juga sudah pasti tidak mungkin bisa.
Kan tidak masuk akal jadinya jika yang mahakuasa diatur oleh para manusia,
Juga menjadi tidak masuk akal kalau kitab dapat mengatur sang mahapencipta,
Yang mahakuasa itu bebas dan merdeka, dapat melakukan apa saja sesukanya.
Hanya Dia mengatur diriNya sendiri, bukan kitab, bukan manusia, bukan agama.
Ajaran agama dalam kitab-kitab suci mengatur manusia bukan mengatur Dia.
Sebagian kehendakNya memang tertulis di sana tetapi selebihnya tentu saja
Suka-suka Dia, mau diungkapkan itu kehendakNya, mau dinyatakan itu kuasaNya.
Tidak diungkapkan juga tidak apa-apa, karena memang Dialah empunya kuasa.
Kalau ya, kapan, di mana, dan pada siapa ... ha ... ha ... ha ... itulah rahasiaNya.
Mustahil? Mustahil bagi manusia, tetapi tentu saja tidak bagi yang mahakuasa.
Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – HP. 087853451949



LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote

Bookmarks