Ttg Free will, saya setuju bahwa ketika free will diartikan/didefinisikan dengan definisi Swan & Tito, maka manusia tidak memiliki free will.
Di saat yang sama, saya yakin bahwa ketika seseorang membicarakan tentang free will dalam kaitannya dengan hubungan Tuhan dan manusia, yang dimaksudkan adalah adanya kebebasan bagi manusia untuk memiliki kehendak yang tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Tuhan berkehendak agar setiap manusia hidup dengan harmonis, saling tolong menolong antar sesama manusia. Tapi manusia memiliki 'free will' untuk melakukan hal yang sebaliknya, dia bisa hidup tanpa peduli dengan sesamanya atau bahkan hidup dari menyakiti sesamanya.
Itu sebabnya kalaupun istilah free will itu mau diganti jadi free to choose, sama sekali tidak ada masalah.
Hanya saja jadi muncul pertanyaan ketika free to choose itu pun direduksi lagi jadi kebebasan semu. Kebebasan semu berarti tidak ada kebebasan, apakah maksudnya manusia tidak memiliki kehendaknya sendiri? Apakah itu maksudnya secara sadar atau tidak, setiap pikiran perbuatan dan perasaan manusia, sudah ditentukan oleh Tuhan? Sehingga kebebasan yang dia rasakan itu semu semata.
--------------
Saya juga keberatan kalau free will didefiniskan sebagai kemampuan untuk memilih/melakukan sesuatu, tanpa sebab dan alasan di belakangnya. Dalam hal ini disangga oleh penemuan fisika quantum yang katanya, ada partikel2 yang bergerak secara acak (bebas dari sebab akibat, aksi reaksi). Jika free will diartikan sebagai kemampuan manusia untuk mengambil keputusan secara acak, menurut saya justru makin kacau lagi artian free will di sini.
Jadi aneh jika seseorang membunuh karena kebetulan, angka acak dalam otaknya menghasil keputusan untuk membunuh. Lebih-lebih lagi manusia tidak bisa dituntut pertanggung jawabannya untuk perbuatan yang dia lakukan. Karena apa yang dia lakukan adalah hasil lempar dadu.
----------------
Meskipun saya mengatakan pada bagian yang pertama bahwa manusia memiliki "kebebasan", saya sendiri masih bertanya-tanya, benarkah kebebasan itu ada? Bagaimana dengan kasus2 kembar identik yang hodup terpisah, dengan latar belakang keluarga yang berbeda, ternyata bisa memiliki kesamaan hobi, dsb. Seberapa besar pengaruh nature manusia terhadap pilihan-pilihannya?
Lepas dari nature manusia, cara otak manusia berpikir dan mengerti hal yang baru, katanya adalah dengan mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah dia miliki sebelumnya. Jika benar demikian, sebenarnya seberapa besar derajat kebebasan manusia untuk membentuk kepribadiannya?
-------------
Apakah Tuhan memberi manusia free will? Bisa ya, bisa tidak. Apakah ada bedanya buat saya? Kalau Tuhan tidak memberikan free will, maka saya menuliskan jawaban ini adalah bagian dari rencanaNya. Kalau Tuhan memberikan free will, saya menuliskan jawaban ini dengan kebebasan saya. Tapi toh saya tetap juga menjawab dan inilah jawaban saya

.
Bookmarks