Results 1 to 4 of 4

Thread: Bahasa Madura - Bahasa Dunia


  1. #1
    Senior Member tribudhis's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Surabaya, Indonesia, Indonesia
    Posts
    2,396
    Rep Power
    7

    Exclamation Bahasa Madura - Bahasa Dunia

    Bahasa Madura – Bahasa Dunia


    [IMG]file:///C:/Users/Axioo/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif[/IMG]

    Ada banyak orang yang jika namanya disebutkan, banyak orang yang mengetahui atau merasa mengetahuinya. Tetapi juga banyak orang – bahkan sangat banyak orang – yang jika namanya disebutkan maka tidak banyak yang mengetahui atau bahkan tidak ada yang mengetahuinya. Apalagi mengenalnya. Sebut saja nama Soekarno. Di Indonesia pasti banyak yang mengetahuinya. Hanya sedikit orang di Indonesia yang tidak tahu nama proklamator ini. Tetapi coba sebut nama Parmin Widagdo. Yah, siapa itu? Apa prestasi dan jasanya? Dari mana dia dan mengapa orang banyak harus mengetahui orang yang satu ini? Soekarno dikenal oleh hampir semua orang Indonesia karena jasa dan perbuatannya yang luar biasa untuk negara ini. Parmin Widagdo tidak ada mengetahuinya – kecuali tentu saja keluarga dekatnya – karena memang sejauh ini tidak ada sesuatu yang menyolok yang pernah dikerjakan. Dia bukan proklamator, dia bukan pahlawan, dia bukan artis, dia juga bukan penjahat atau pembunuh yang menghebohkan. Dia orang biasa. Dan karena orang biasa maka hanya sedikit orang yang mengetahui dan mengenalnya.

    Itu Parmin Widagdo. Lalu bagaimana dengan Multamia Lauder? Atau Allan F Lauder? Ada yang mengetahuinya? Tentu saja, tetapi hanya golongan terbatas saja. Tidak untuk ukuran umum orang Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia – yang jumlahnya sekarang ini sudah mencapai lebih dari 250 juta – pasti tidak mengetahui dua nama ini karenanya keduanya memang belum pernah melakukan hal yang sangat spektakuler. Padahal salah satu karya dua orang ini cukup penting untuk Indonesia. The Role of Media and ICT in Safeguarding ang Promoting Language Diversity in Asia and Europa yang dipublikasikan tahun 2012 cukup penting karena banyak data dan informasi dalam tulisan ini yang dapat mengubah pandangan dan persepsi ilmuwan Indonesia dan dunia tentang betapa luarbiasanya negara yang bernama Indonesia itu.

    Bahasa Madura itu Bahasa Dunia


    Tahun 2013 ini tentu telah banyak terjadi perubahan. Yang dulu masih ada sekarang mungkin sudah menjadi sejarah. Yang dulu baik-baik saja sekarang mungkin berada dalam keadaan kritis. Yang dulu tidak pernah diketahui keberadaannya sekarang mungkin sudah muncul ke permukaan. Data tahun 2007, seperti yang dikutip oleh Arief Rahman dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Universitas Negeri Jakarta, menyebutkan bahwa paling tidak 125 bahasa daerah terancam punah dan menghilang sama sekali dari percaturan peradaban manusia.

    125 bahasa daerah ini tersebar di berbagai kawasan di Indonesia. Yang paling besar angkanya terdapat di kawasan Papua dan Halmahera. Ada 56 bahasa daerah terancam punah. Itu data tahun 2007. Sekarang tahun 2013. Apakah 56 bahasa ini sudah benar-benar punah karena tidak ada penuturnya? Atau masih bertahan dalam keadaan sekarat atau koma? Masih diperlukan penelitian lanjutan, tetapi menilik perkembangan dunia global yang begitu luar biasa tampaknya dari 56 ini hanya sedikit yang masih tetap dapat bertahan. Sementara harapan yang menginginkan bahasa-bahasa daerah di kawasan ini berkembang dan bertumbuh mungkin sebaiknya disimpan dahulu. Tidak segera punah sudah sangat bagus, kok mengharapkan bertumbuh dan berkembang? Itu terlalu jauh dan mengada-ada namanya.

    Angka ini baru dari dua kawasan itu saja. Kawasan lain di Indonesia tidak kalah mengkhawatirkan. Di Maluku, menurut Badan Bahasa yang mempublikasikan Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa-Bahasa di Indonesia pada tahun 2008, terdapat 11 bahasa daerah yang telah punah, 22 terancam punah, dari total 88 bahasa daerah. Data dan informasi lanjutan yang ada hanya akan membuat banyak kening berkerut semakin dalam. Di Sulawesi umpamanya. Di kawasan ini tercatat paling tidak 110 bahasa daerah. 36 di antaranya terancam punah, sementara 1 bahasa lokal sudah benar-benar punah karena tidak lagi diketahui ada penuturnya.

    Bagi yang perduli ini jelas bukan berita gembira, bahkan bagi yang tidak perduli sekali pun ini juga bukan berita gembira. Perubahan memang terus terjadi dan akan terus terjadi. Punahnya bahasa karena tidak ada lagi penuturnya bukan berita baru dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Jangankan bahasa, peradaban dan manusianya sekalian menghilang dan punah untuk selamanya juga terjadi berulang kali di dunia. Tetapi melihat kejadian seperti ini tepat di depan mata dan tidak melakukan apa – atau tidak bisa melakukan apa-apa – jelas berbeda. Prihatin dan trenyuhnya mungkin berlipat ganda dibandingkan dengan membaca catatan sejarah bagaimana bangsa Maya punah bersama-sama dengan peradaban dan bahasa mereka.

    Bagaimana Bahasa Punah atau Bertahan?


    Salah satu penyebab utama bahasa punah – terutama bahasa daerah tentu saja – berkaitan erat dengan penuturnya. Jika jumlah penuturnya memadai dan terus terjaga kesinambungan keberadaannya maka sebuah bahasa dapat dipastikan akan tetap bertahan. Bahasa Indonesia umpamanya. Bahasa ini dapat dipastikan akan terus ada selama republik ini masih tegak. Bahkan seandainya republik ini runtuh, bahasanya pasti tidak akan ikut runtuh.

    Malaysia baru-baru ini dengan kurang ajarnya mengusulkan agar Indonesia segera mengganti bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu. Sebuah usul yang bukan saja amat sangat kurang ajar tetapi juga tidak realistis. Yang benar adalah Malaysia seharusnya mengusulkan pada dirinya sendiri – walau ini sebenarnya tidak diharapkan benar-benar dilakukan oleh mereka - agar segera mengganti bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia, itu kalau mereka ingin menyejajarkan kedudukannya dengan Indonesia. Mengapa? Karena bagi Indonesia, bahasa Melayu itu tidak lebih dari bahasa daerah yang penuturnya hanya sekitar 20 juta. Bandingkan dengan bahasa Indonesia yang penuturnya lebih dari 250 juta. Kalau Malaysia menolak usulan simpatik ini, maka ibaratnya pucuk dicinta ulam tiba. Biarkan negara itu tetap menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, yang bagi Indonesia justru itu hanya bahasa daerah saja. Bahasa nasional Malaysia adalah bahasa daerah Indonesia. Nah kalau sudah demikian kan jelas ‘mana tuan mana hamba’.

    Apalagi fakta lain menunjukkan bahwa bahasa Melayu sebagai bahasa daerah di Indonesia hanya menduduki nomer urut keempat dari segi jumlah. Di urutan ketiga ada bahasa Sunda dengan jumlah penutur kurang lebih 27 juga, dan di urutan kedua ada bahasa Jawa dengan jumlah penutur kurang lebih 75 juta. Lalu bahasa daerah mana yang menduduki urutan pertama? Mungkin banyak orang di Indonesia yang tidak menyadarinya fakta ini. Tetapi berkat jasa Multamia dan Allan F Lauder yang dalam catatannya menunjukkan pada banyak orang bahasa daerah mana di Indonesia yang paling banyak penuturnya, maka fakta penting ini terungkap. Adalah bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang paling banyak penuturnya.

    Hampir 137 juta orang menggunakan bahasa Madura. Jumlah ini jelas bukan jumlah yang biasa. Jumlah ini luar biasa. Jika jumlah penutur yang dijadikan acuan maka bahasa Madura layak diproklamirkan sebagai bahasa dunia. 137 juta orang bukan jumlah yang sedikit. Otoritas, dampak, pengaruh, dan hal-hal lain dalam kehidupan yang dapat dikaitkan dengan bahasa, jelas bukan main besarnya. Bahasa Polandia yang perannya cukup penting di Eropa penuturnya hanya 60 juta lebih. Kurang dari separuh penutur bahasa Madura. Begitu juga dengan bahasa-bahasa lain di negara Eropa. Semua lewat jika dibandingkan dengan bahasa Madura.

    Dengan kondisi dan fakta semacam ini maka jelas tidak ada salahnya jika pemerintah yang menurut amanat undang-undang harus mengupayakan banyak hal untuk memastikan bahwa suatu ketika nanti bahasa Indonesia layak menjadi sebagai bahasa internasional, hendaknya juga melakukan hal yang sama dengan bahasa Madura. Bahasa Madura juga layak menjadi bahasa dunia, bahasa internasional. Dengan catatan apa yang disampaikan oleh Multamia dan Allan F Lauder benar adanya, bahkan seandainya catatan itu tidak benar, tetap saja empat besar bahasa daerah di Indonesia layak dipromosikan menjadi bahasa internasional, bahasa dunia. Pertanyaan mendasarnya, apakah semua ‘cerita’ ini benar adanya?

    Dr, Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – HP, 087853451949
    Department of Modern Languages and Literature
    University of Adam Mickiewicz - Poznan, Poland.
    Apa yang didapatkan secara cuma-cuma, berikan juga secara cuma-cuma ...

  2. #2
    Contributor judikartu's Avatar
    Join Date
    Jun 2013
    Location
    www.judikartu.com
    Posts
    2,874
    Rep Power
    4

    Re: Bahasa Madura - Bahasa Dunia

    wah gak sopan bener tuh suruh indonesia pake bahasa melayu..
    emank siapa mreka ??

  3. #3
    Senior Member tribudhis's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Surabaya, Indonesia, Indonesia
    Posts
    2,396
    Rep Power
    7

    Re: Bahasa Madura - Bahasa Dunia

    Quote Originally Posted by judikartu View Post
    wah gak sopan bener tuh suruh indonesia pake bahasa melayu..
    emank siapa mreka ??
    ya benar ...
    Apa yang didapatkan secara cuma-cuma, berikan juga secara cuma-cuma ...

  4. #4
    Senior Member
    Join Date
    Feb 2012
    Posts
    1,268
    Rep Power
    4

    Re: Bahasa Madura - Bahasa Dunia

    Bahasa Madura itu sudah mendunia. Indonesia memang kaya beragam budaya dan sastra ...........

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0