Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 10 of 23

Thread: Sistem Pendidikan di Indonesia


  1. #1
    Newbie Fajar Dwi's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Depok II Tengah, JL. Johar Raya No.69
    Posts
    17
    Rep Power
    0

    Sistem Pendidikan di Indonesia

    Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel, seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak heran, jika kasus wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar kelihatan mentereng menyeruak di mana-mana. Dan dengan kepala kosong, mereka mencoba mengkonsepsikan pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi? Undang-undang sekedar lobi-lobi politik dimana semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).

    saya setuju dengan kata mencerdaskan kehidupan bangsa
    kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.

    Tapi saya belum bisa menafsirkan kata itu dengan jelas...

  2. #2
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    32
    Rep Power
    0

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Tiap penguasa punya kepentingan untuk "membodohi" rakyatnya kata Paulo Freiere

  3. #3
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,854
    Rep Power
    14

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Sistem pendidikan yang diterapkan dibanyak negara, banyak yang salah kaprah. India yang begitu banyak menghasilkan pekerja kerah putih, juga dikritik melalui film yang lumayan apik berjudul 'three idiots'.

    Kesalahan terbesar dari sistem pendidikan adalah buta dan tuli terhadap kenyataan dan suara konsumen. Saya sebagai salah satu 'korban' pendidikan, sudah membuktikan bahwa dari begitu banyak tahun dan jam dihabiskan untuk belajar, pada akhirnya yang digunakan sangatlah rendah sekali persentasenya. Tidak sampai 10% padahal saya bekerja dibidang yang sesuai dengan sekolah saya. Bayangkan Insinyur sipil yang bekerja jadi marketing bank.

    Apa kesalahan terbesar dari sistem pendidikan sekarang? Sistem yang kita pakai sekarang dengan istilah apapun CBSA, belajar mandiri, dsb, lebih mengutamakan output bukan proses. Dalam industry manufaktur pola demikian itu sudah lama ditinggalkan karena banyak waste dan yield rendah. Ironisnya justru masih dipakai didalam sistem pendidikan.

    Yang terutama harus dibentuk itu adalah pola pikir dan penalaran. Otak manusia didesain untuk berpikir, bernalar dan berlogika. Ingatan hanyalah sebuah konsekuensi.

    Saya ingat ketika belajar di SD, begitu banyak pelajaran yang dianggap dasar yang berusaha dijejalkan dikepala kita. Ingatan kita dipaksa untuk menghafalkan berbagai data2 yang kita sendiri pada saat itu tidak tahu gunanya untuk apa. Saat mengambil master, malah saya tidak perlu menghafal segala sesuatu karena text book hanyalah menjadi referensi saja. Kenapa pola belajar dan cara mencari tahu atau mencari ilmu dan menalar sesuatu, menganalisa sesuatu tidak diajarkan mulai SD? Mengapa justru SD doktrinasi begitu kencang?

    Bahkan ketika melakukan research untuk level doctorate, tidak semenderita anak2 SD yang dipaksa2 menghafal ( karena tidak sesuai fungsi otak) hal2 yang pada akhirnya hanya akan diingat 1-2% saja. Anda tahu tidak kuis yang mengadu orang dewasa dengan anak kelas 5 SD itu adalah bukti nyata bahwa sistem pendidikan doktrinasi itu terlalu ineffisien dan ineffective.

    Coba apa gunanya pelajaran bahasa daerah atau pelajaran budi pekerti atau pelajaran geografi? Bahkan apa gunanya menghafalkan nama2 9 planet yang mengelilingi matahari, ketika akhirnya kita tahu bahwa 9 itu karena kita mampunya saat itu baru tahu yang 9 itu saja, ternyata ada lagi setelah teknologi lebih maju.

    Mengenai penilaian jg demikian. Pemberian nilai tsb boleh dilakukan tapi sampai digunakan menentukan naik kelas dan tidak naik kelas itu seharusnya tidak perlu. Apalagi pada anak2 kecil. Hal ini memberikan trauma yang membuatnya tidak kreative atau malah menghancurkan mental anak yang tidak naik kelas karena diajarkan sekali gagal tidak bisa lagi mengejar teman2nya kecuali temannya juga gagal. Mengapa saat kuliah sistemnya tidak demikian? Tidak raportan dan kelulusan tidak ditentukan dari nilai rata2 yang bila tidak lulus harus mengulang keseluruhan? Anak SD gara2 matematika dan ipa nya jeblok dan tidak lulus, harus mengulang keseluruhan pelajaran selama setahun tanpa bisa lagi sekelas dengan teman2nya yang duluan lulus. Sistem yang sangat jahat.

    Silahkan dilanjut dulu nanti sambung lagi.
    Last edited by 3serangkai; 04-11-10 at 06:42 AM.
    +++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++

  4. #4
    Junior Member eiluned's Avatar
    Join Date
    Jun 2010
    Posts
    398
    Rep Power
    5

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Quote Originally Posted by 3serangkai View Post
    Sistem pendidikan yang diterapkan dibanyak negara, banyak yang salah kaprah. India yang begitu banyak menghasilkan pekerja kerah putih, juga dikritik melalui film yang lumayan apik berjudul 'three idiots'.

    Kesalahan terbesar dari sistem pendidikan adalah buta dan tuli terhadap kenyataan dan suara konsumen. Saya sebagai salah satu 'korban' pendidikan, sudah membuktikan bahwa dari begitu banyak tahun dan jam dihabiskan untuk belajar, pada akhirnya yang digunakan sangatlah rendah sekali persentasenya. Tidak sampai 10% padahal saya bekerja dibidang yang sesuai dengan sekolah saya. Bayangkan Insinyur sipil yang bekerja jadi marketing bank.

    Apa kesalahan terbesar dari sistem pendidikan sekarang? Sistem yang kita pakai sekarang dengan istilah apapun CBSA, belajar mandiri, dsb, lebih mengutamakan output bukan proses. Dalam industry manufaktur pola demikian itu sudah lama ditinggalkan karena banyak waste dan yield rendah. Ironisnya justru masih dipakai didalam sistem pendidikan.

    Yang terutama harus dibentuk itu adalah pola pikir dan penalaran. Otak manusia didesain untuk berpikir, bernalar dan berlogika. Ingatan hanyalah sebuah konsekuensi.

    Saya ingat ketika belajar di SD, begitu banyak pelajaran yang dianggap dasar yang berusaha dijejalkan dikepala kita. Ingatan kita dipaksa untuk menghafalkan berbagai data2 yang kita sendiri pada saat itu tidak tahu gunanya untuk apa. Saat mengambil master, malah saya tidak perlu menghafal segala sesuatu karena text book hanyalah menjadi referensi saja. Kenapa pola belajar dan cara mencari tahu atau mencari ilmu dan menalar sesuatu, menganalisa sesuatu tidak diajarkan mulai SD? Mengapa justru SD doktrinasi begitu kencang?

    Bahkan ketika melakukan research untuk level doctorate, tidak semenderita anak2 SD yang dipaksa2 menghafal ( karena tidak sesuai fungsi otak) hal2 yang pada akhirnya hanya akan diingat 1-2% saja. Anda tahu tidak kuis yang mengadu orang dewasa dengan anak kelas 5 SD itu adalah bukti nyata bahwa sistem pendidikan doktrinasi itu terlalu ineffisien dan ineffective.

    Coba apa gunanya pelajaran bahasa daerah atau pelajaran budi pekerti atau pelajaran geografi? Bahkan apa gunanya menghafalkan nama2 9 planet yang mengelilingi matahari, ketika akhirnya kita tahu bahwa 9 itu karena kita mampunya saat itu baru tahu yang 9 itu saja, ternyata ada lagi setelah teknologi lebih maju.

    Mengenai penilaian jg demikian. Pemberian nilai tsb boleh dilakukan tapi sampai digunakan menentukan naik kelas dan tidak naik kelas itu seharusnya tidak perlu. Apalagi pada anak2 kecil. Hal ini memberikan trauma yang membuatnya tidak kreative atau malah menghancurkan mental anak yang tidak naik kelas karena diajarkan sekali gagal tidak bisa lagi mengejar teman2nya kecuali temannya juga gagal. Mengapa saat kuliah sistemnya tidak demikian? Tidak raportan dan kelulusan tidak ditentukan dari nilai rata2 yang bila tidak lulus harus mengulang keseluruhan? Anak SD gara2 matematika dan ipa nya jeblok dan tidak lulus, harus mengulang keseluruhan pelajaran selama setahun tanpa bisa lagi sekelas dengan teman2nya yang duluan lulus. Sistem yang sangat jahat.

    Silahkan dilanjut dulu nanti sambung lagi.
    3serangkai,
    Saya mendengar dari saudara ipar saya yang memiliki seorang anak dan juga mendengar cerita dari teman-teman perempuan yang sudah memiliki anak yang bersekolah... sekarang ini ternyata: bahwa anak yang mau masuk Sekolah Dasar harus lulus ujian dulu... ujian membaca, menulis dan menjawab pertanyaan. Jadi dengan kata lain... sekolah Taman Kanak-kanak yang dahulu adalah "tempat yang paling indah" dan tempat bermain kini sudah menjadi tempat belajar serius yang memfokuskan bahwa anak harus bisa membaca dan menulis dengan serius. bukan lagi sekedar bermain untuk membentuk sesuatu dengan lilin, tanah liat atau pasir... tetapi belajar membaca, menulis dan tentu saja menjawab pertanyaan tertulis... atau dengan kata lain dipaksa untuk memproses data agar sesuai dengan output yang diinginkan pembuat soal... harus berpikir bahwa pertanyaan : ibu pergi ke pasar karena...(jawabannya harus membeli sayur atau daging) padahal di pasar juga ada yang berjualan baju atau mungkin si ibu sendiri yang berjualan di pasar.

    Mau masuk Sekolah dasar saja harus ikut ujian dahulu... yang benar saja!

    Pantas kalau sekarang banyak anak sekolah yang stress dengan beban sebegitu tinggi yang diberikan oleh kurikulum pendidikan kita. bukan hanya harus ikut kegiatan kurikulum sekolah tetapi juga harus dan wajib ikut ekstrakurikuler dan tentu saja berbagai macam les ini dan itu...

    Jadi ingat anak seorang teman yang ikut segala macam les sampai tidak pernah bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. sebuah awal alienasi sejak dini mungkin...

    sedikit cerita masa lalu...
    Saya sendiri kalau ingat masa sekolah dulu, menolak masuk sekolah pada hari minggu karena hari minggu adalah hari keluarga padahal karena bersekolah di tempat dimana saya tinggal adalah tempat minoritas untuk agama yang tercantum pada katepe maka sekolah hari minggu dengan murid dari sekolah lain adalah wajib saya menolaknya dan memilih ikut acara keluarga saja, masa bodohlah dengan nilai pelajaran yang merah untuk nilai agama hahahaha... dan kemudian jam sekolah semakin lama semakin panjang, sampai hari sabtunya sendiri tewas tak bisa bangun dari tempat tidur...

    Mungkin saya adalah tipikal murid paling berandal dengan wajah tak berdosa... sehingga lolos dari segala macam hukuman... kecuali nilai pelajaran agama yang merah karena selalu absen sepanjang semester/caturwulan or whatever the timespan they'd called it.
    by the moon grace

  5. #5
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,854
    Rep Power
    14

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Quote Originally Posted by eiluned View Post
    3serangkai,
    Saya mendengar dari saudara ipar saya yang memiliki seorang anak dan juga mendengar cerita dari teman-teman perempuan yang sudah memiliki anak yang bersekolah... sekarang ini ternyata: bahwa anak yang mau masuk Sekolah Dasar harus lulus ujian dulu... ujian membaca, menulis dan menjawab pertanyaan. Jadi dengan kata lain... sekolah Taman Kanak-kanak yang dahulu adalah "tempat yang paling indah" dan tempat bermain kini sudah menjadi tempat belajar serius yang memfokuskan bahwa anak harus bisa membaca dan menulis dengan serius. bukan lagi sekedar bermain untuk membentuk sesuatu dengan lilin, tanah liat atau pasir... tetapi belajar membaca, menulis dan tentu saja menjawab pertanyaan tertulis... atau dengan kata lain dipaksa untuk memproses data agar sesuai dengan output yang diinginkan pembuat soal... harus berpikir bahwa pertanyaan : ibu pergi ke pasar karena...(jawabannya harus membeli sayur atau daging) padahal di pasar juga ada yang berjualan baju atau mungkin si ibu sendiri yang berjualan di pasar.

    Mau masuk Sekolah dasar saja harus ikut ujian dahulu... yang benar saja!

    Pantas kalau sekarang banyak anak sekolah yang stress dengan beban sebegitu tinggi yang diberikan oleh kurikulum pendidikan kita. bukan hanya harus ikut kegiatan kurikulum sekolah tetapi juga harus dan wajib ikut ekstrakurikuler dan tentu saja berbagai macam les ini dan itu...

    Jadi ingat anak seorang teman yang ikut segala macam les sampai tidak pernah bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. sebuah awal alienasi sejak dini mungkin...

    sedikit cerita masa lalu...
    Saya sendiri kalau ingat masa sekolah dulu, menolak masuk sekolah pada hari minggu karena hari minggu adalah hari keluarga padahal karena bersekolah di tempat dimana saya tinggal adalah tempat minoritas untuk agama yang tercantum pada katepe maka sekolah hari minggu dengan murid dari sekolah lain adalah wajib saya menolaknya dan memilih ikut acara keluarga saja, masa bodohlah dengan nilai pelajaran yang merah untuk nilai agama hahahaha... dan kemudian jam sekolah semakin lama semakin panjang, sampai hari sabtunya sendiri tewas tak bisa bangun dari tempat tidur...

    Mungkin saya adalah tipikal murid paling berandal dengan wajah tak berdosa... sehingga lolos dari segala macam hukuman... kecuali nilai pelajaran agama yang merah karena selalu absen sepanjang semester/caturwulan or whatever the timespan they'd called it.
    eiluned,

    Saya pernah bertemu dengan guru seorang murid SMP, ketika itu saya mengantarkan seorang teman yang anaknya mengalami cultural shock transisi sekolah dari SD yang selalu mengandalkan perhatian guru dengan SMP yang mulai memperkenalkan kemandirian. Ketika teman saya mengatakan keluh kesahnya, guru wali kelas tsb dengan wajah yang tidak customer oriented, mengatakan bahwa secara umum anak2 yang lain tidak bermasalah dg system yang ada. Benarkah demikian? Mungkin dia ingin mengatakan bahwa anak teman saya itu adalah suatu outlier dari sebuah kurva distribusi dan berarti bukan merupakan bagian kenormalan.

    Saya ikut nimbrung dan bertanya,"Kalau begitu apakah masih ada kesempatan buat anaknya untuk bisa naik kelas bila semester keduanya nilainya lebih baik?" Jawabnya," Ya."
    "Lalu apa yang akan diperbuat pihak sekolah untuk membantu masalah ini. Karena anak ini masih perhatian tersendiri?" Tidak ada jawaban, sebelum akhirnya,"Orang tuanya harus lebih memperhatikan anak ini dan memberikan nasehat." Saya melongo sebelum bertanya kembali,"Apakah orang tuanya harus mengikuti anaknya dikelas?" Sekolah sekarang ini cuma menjual bangku dan brand saja. Semakin ketat dan berat pelajaran sekolah tsb semakin bagus pula ratingnya. Padahal apakah berguna?

    Kasus berbeda saya jumpai ketika seorang teman membawa anaknya yang baru masuk SMA kesebuah sekolah Internasional berkurikulum British di Ghana. Anak yang belepotan bahasa Inggrisnya itu (nyaris nol) sempat shock dan minder karena rekan2 dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Hal ini tentu adalah sebuah kiamat bila approachnya ala sekolah Indonesia. Tapi ternyata tidak, anak teman saya itu tidak sampai tinggal kelas walaupun awalnya ia tidak paham bahasa Inggris.

    Pertanyaan lainnya adalah: Kenapa tren sekarang ini, tanpa les anak tidak bisa mendapatkan nilai bagus? Apalagi lulus UNAS! Seorang teman yang berasal dari Makassar anaknya tidak les, karena ia tinggal di kampung yang belum ada LBB. Ketika UNAS hasilnya bagus, hebat bukan? Caranya adalah 'korupsi masal' dan Tahu sama Tahu dengan gurunya yang jaga. Guru2 dan pihak sekolah pun terbeban dengan ketidaklulusan siswanya, jadi ada common interest antara guru dan murid.

    Seharusnya bila seorang pelajar tidak bisa mata pelajaran tertentu, ia tidak perlu tidak dinaikan kelas tapi cukup disuruh mengulang mata pelajaran tsb. Kurangi juga mata pelajaran2 tidak penting, buat semacam extra kurikuler saja. Anak harus diajarkan berbahasa dan berlogika, jangan menghafal. Apalagi bila pertanyaannya adalah siapa nama presiden. Jelas pengetahuan yang tidak berguna!

    Karena itu jangan biasakan anak2 menganggap sekolah itu sebagai bagian utama kehidupannya. Sekolah itu penting tapi masa kanak2 itu jauh lebih penting untuk dinikmati. Tidak naik kelas jangan dijadikan beban, itu hal yang biasa. Yang lucu ketika seorang keponakan berkata,'kalau tidak naik kelas kan malu.'
    Saya berkernyit dahi. Dalam hati. 'Kalau sudah kerja terus tidak berprestasi, itu yang malu. Sekolah itu tempat belajar, tidak lulus itu lumrah, berarti belum bisa.' Sebuah logika yang terbalik2 yang begitu mengagung-agungkan sekolah dengan segala sistem doktrinasinya.
    Last edited by 3serangkai; 05-11-10 at 12:16 AM.
    +++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++

  6. #6
    Junior Member gram's Avatar
    Join Date
    Jan 2009
    Location
    Palembang
    Posts
    236
    Rep Power
    6

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Persaingan di jaman sekarang sangat ketat terutama untuk lowongan kerja. Banyak orang tua yang berpikiran kalau anaknya lulus dari sekolah ternama maka masa depannya akan lebih terjamin. Standar penerimaan murid baru untuk sekolah2 ternama ini makin meningkat tiap tahunnya. Bahkan tempat kursus yang ternama pun sekarang ada ujian masuknya. Gila memang. Anak jaman sekarang untuk dapat nilai bagus harus belajar keras atau ikut kursus pada umumnya tidak bisa hanya dengan modal selalu memperhatikan di kelas. Jumlah kursus yang harus diambil anak jaman sekarang mengerikan jumlahnya. Ada les IPA, matika, atau pelajaran umum, les Inggris, les mandarin belum lagi tes toefl atau ielts.

    Sekolah seharusnya mengajarkan kita logika, pola pikir bukan ilmu2 hafalan. Toh setelah tamat sekolah kita pasti sudah lupa semua atau lupa dalam waktu 3 hari setelah ujian selesai. Berapa perbandingan ilmu yang berguna dengan total ilmu yang kita pelajari? Banyak orang yang mendapatkan pekerjaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan jurusan mereka. Yang sekolah harus pehratikan justru bukan hasilnya tapi prosesnya karena kepribadian seorang anak itu dibentuk dari sekolah juga yaitu dari teman2nya, lingkungannya dan kegiatannya selama sekolah.

  7. #7
    Contributor
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    2,854
    Rep Power
    14

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Ungkapan yang klise, tetapi entah mengapa pemerintah seolah tidak memahami hal tsb. Tetap saja sekolah dibiarkan dg brutal menyiksa otak anak2 dg berbagai beban yang tidak berguna.

    Dalam perkembangan anak2 usia sekolah yang paling penting adalah masalah mental, logika berpikir, cara mendapatkan pengetahuan dan bukan pengetahuan itu sendiri.

    Tepat sekali, sekarang persaingan sudah semakin ketat dan orang tua menginginkan anak2nya mendapatkan yang terbaik, utamanya pendidikan. Disini yang menjadi andalan adalah sekolah unggulan yang justru identik dengan sekolah killer. Sungguh terbalik2 dan kasihan anak2 ini.

    Sekolah sebaiknya cari yang murah dan mudah lulus. Sayangnya ini selalu diidentikan dengan tidak bermutu. Tapi jujur saja, energinya lebih baik dipersiapkan untuk menghadapi UNAS ketimbang dihabiskan untuk mata pelajaran menghafal yang kurang berguna. Strategy ini lebih berguna. Baru nanti kalau mau ke Universitas baru pilih yang agak lumayan yang kertasnya bisa laku dijual. Walaupun itu bukan jaminan, karena pada akhirnya setelah berpengalaman kerja maka yang menentukan adalah kemampuan pribadi orang itu sendiri bukan ijazahnya.
    +++ all that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing +++

  8. #8
    Newbie Fajar Dwi's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Depok II Tengah, JL. Johar Raya No.69
    Posts
    17
    Rep Power
    0

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Yang penting yang perlu kita lakukan saat ini adalah belajar walau banyak mengenai hafalannya karena ilmu itu suatu saat bisa membawa manfaat bagi kita masing2.

    Karena kita semua diwajibkan utk menuntut ilmu!!!!
    Menuntut ilmu tidak perlu tanggung-tanggung!
    "Belajar soal niat, dimana pun tempatnya, kapanpun, apapun tidak masalah"
    "Ilmu adalah hamparan dunia yang luas"
    "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina :QS"

  9. #9
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2010
    Location
    Lombok
    Posts
    147
    Rep Power
    5

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    selain jejali otak anak2 dengan ilmu yang di miliki guru-nya, adabaiknya kurikulum membuka lebar kesempatan dan ruang untuk membebaskan anak bangsa dari belenggu kurikulum hafalan menjadi kurikukulum pengembangan inisiatif dan bakat.
    Kalau bisa, kurikulum yang sifatnya tidak membagi anak2 didik menjadi (stigma) anak pintar dan anak bodoh, padahal tak ada manusia yang bodoh tapi yang ada hanya berbeda bakat.

  10. #10
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    32
    Rep Power
    0

    Re: Sistem Pendidikan Di Indonesia

    Sistem pendidikan kita masih terpengaruh budaya. Budaya apa? budaya nrimo, pasrah, percaya takdir, nasib dsb. Pengaruh budaya ini berimbas pada "spirit" peserta didik dalam berusaha keluar dari - meminjam istilah Freire - "situasi batas", bahwa situasi batas (keadaan, nasib dsb) tidak bisa dilampaui.

    Pendidikan pada budaya macam ini harus memicu konsientisasi baru agar bisa "melawan takdir"

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0