Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 17
Like Tree1Likes

Thread: Mengikis Habis Penyakit Guru

  1. #1
    Junior Member
    Join Date
    Jan 2011
    Posts
    3
    Rep Power
    0

    Mengikis Habis Penyakit Guru

    Mengikis Habis Penyakit Guru

    Menjadi guru yang profesional harus memerlukan kemauan, kemampuan dan ketrampilan yang tinggi dan mau mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang bagus (penyakit guru). Penyakit guru ini adalah penghambat peningkatan mutu pendidikan kita dan sebagai guru yang profesional, karena itu kita sebagai pendidik/pengajar harus mengalahkan 10 penyakit guru ini, yaitu :

    1. KUSTA (KURANG STRATEGI) guru model ini masuk kelas mengajar dengan tampa strategi, sebagai guru yang profesional menggunakan tiga strategi yang terfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan mengajar, serta pengembangan kompetesi guru menggunakan strategi tersebut. Ketiga strategi tersebut adalah sebagai berikut :
    a. Mengunakan dan menuliskan studi kasus pribadi sebagai catatan pengalaman mengajar;
    b. Menggunakan beberapa strategi dalam Studi Pelajaran (Lesson Study), terutama pengamatan dan pemodelan pengajaran di kelas terbuka, refleksi kelompok dan perencanaan, serta
    c. Menggunakan keterampilan PTK guna peningkatan.

    1. TBC (TIDAK BANYAK CARA) guru ini dalam mengajar hanya asal mengajar tampa cara bagaimana anak didik ini mengerti/memahami pelajaran yang diberikan oleh bapak/guru pengajar guru yang profesional harus banyak cara / model pelajaran agar anak memahami pelajaran yang diberikan kita. Kalau perlu butuh nara sumber dari luar kita harus mendatangkan ke dalam kelas contohnya pelajaran IPS tentang pemerintahan kita dapat mendatangkankan nara sumber seperti Kepala Desa/Camat. apabila sekarang teknologi tambah canggih jadi bisa memakai /memanfaatkan teknologi itu. Contohnya tape recorder, televisi, video, komputer, internet.
    2. KUDIS (KURANG DISIPLIN) guru model ini dalam mengemban tugasnya tidak disiplin ,datang terlambat, masuk kelas terlambat biasanya sudah waktu mengajar masih ada didalam kantor, tidak memanfaatkan waktu. Sebelum waktu selesai/bukan waktunya, pulang duluan/keluar dulu, Jadi mutu pendidikan berkurang., karena itu kita sebagai guru seharusnya
    a. Malu datang terlambat
    b. Malu tidak mengajar
    c. Malu pulang dulu
    d. Malu tidak disiplin
    e. Malu tidak membuat RPP, PROMES

    1. KRAM (KURANG TERAMPIL) sebagai guru harus terampil menggunakan model pengajaran, strategi, memanfaatkan teknologi yang lebih canggihpun. Kita tahu guru masih ada yang tidak bisa komputer / internet sebenarnya sebagai guru bisa memanfaatkan teknologi untuk mengganti kita, agar anak didik kita lebih jelas/memahami pelajaran. Guru yang profesional seharusnya Terampil mengelolah kelas maupun manajemen kelas. Agar anak didik kita betah dalam kelas dan tidak bosan dalam pelajaran berlangsung, ini akan meningkatkan mutu Pendidikan kita.
    2. LESU (LEMAH SUMBER) Guru kalau kurang sumber niscaya dalam pelajaran berlangsung kurang bahan yang diajarkan jadi pengetahuan anak didik kita berkurang, karena itu sebagai pengajar harus banyak sumber baik membaca berbagai buku/modul pelajaran, dari koran, majalah, internet, kita banyak sumber kalau perlu memakai nara sumber internet kita tinggal mengarahkan ke internet/link yang berhubungan dengan pelajaran yang diajarari menambah wawasan anak didik kita selain mengenalkan komputer/ internet anak didik kita dapat pelajaran juga, ini semua untuk penikatan mutu pendidikan.
    3. WTS (WAWASAN TIDAK LUAS) Guru yang profesional seharusnya mempunyai wawasan lebih luas segala hal untuk mengajar seperti macam model-model pelajaran apalagi model pelajaran terbaru/terkini agar kita tidak ketinggalan, teknologi canggih dapat mendukung proses pelajaran kita, wawasan perkembangan anak didik kita, bisa membaca keadaannya agar proses pembelajaran dapat berlangsung.
    4. MUAL (MUTU AMAT LEMAH) Mutu pendidikan tergantung dari mutu pelajaran yang diberikan kita, kalau kita tidak bisa meningkatkan mutu pendidikan kita, hal ini mempengaruhi mutu pendidikan anak kita yang tidak diharapkan, karena itu kita tingkatkan mutu pendidikan ini dengan sering mengikuti workshop, pelatihan program bermutu, sering berdikusi sesama sejawat di forum/KKG membagi masalah/pengalaman kita sesama sejawat, agar semua poblem permasalahan dapat diatasi, setidaknya menambah mutu pendidikan kita.

    [IMG]file:///C:/DOCUME%7E1/UserXP/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg[/IMG]

    1. TIPUS (TIDAK PUYA SELERA) Kalau pendidik/pengajar tidak punya selera mengajar yang lebih baik jangan harap keberhasilan meningkatkan mutu pendidikan meningkat, karena itu kita harus punya selera mengajar yang lebih baik dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mengajar/mendidik anak dengan kemaun untuk belajar dan belajar / meningkatkan mutu pendidikan dengan cara pelatihan, workshop, seminar, diskusi dalam forum/KKG. Hanya denagan niat yang iklas dan kemauan yang kuat bisa mengubah mutu pendidikan.
    2. ASAM URAT (ASAL SUSUN MATERI URUTAN TIDAK KAMIRAT) sebagai guru profesional seharusnya merancang/merencanakan apa yang akan diajarkan seperti membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dalam pembuatan RPP jangan asal buat sepenting urutan itu kurang profesional . (”nonprofesional” atau ”amatiran”) Guru yang profesional membuat RPP harus disesuaikan dengan keadaan sekolah dan kondisi murid serta strategi, metode apa yang cocok seberapa sulitnya pelajaran juga diperhatikan dan ini semua dijadikan pertimbangan agar dalam pelaksanaan nanti target dan sasaran mengenai/berhasil setidaknya 99 % keberhasilan.
    3. ASMA (ASAL MASUK KELAS) ini lebih parah penyakit guru asal ada didalam kelas, yang penting anak tidak ramai /hanya dijadikan robot, anak didik suruh diam yang penting duduk manis. Jam berakhir sudah keluar, pradikma lama ini harus dirubah dan kita harus lebih profesional didalam kelas yang kratif dan menyenangkan anak lebih betah dan memahami apa yang kita ajari. Cara kita harus selalu berlatih dan memiliki pengetahuan dalam subjek matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu dalam proses belajar mengajar. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap subjek didik (murid).

    Pendidikan adalah modal utama untuk pembangunan bangsa ini, kesejahteraan, kemajuan suatu bangsa dilihat dari kemajuaan pendidikan bangsanya. Pendidikan adalah kunci utama dalam kesuksesan baik karier seseorang maupun Bangsa dan Negara. Perjuangan guru adalah mesin utama dalam suatu bangsa dan Negara, agar perekonomian suatu negara agar maju dan sejahtra. bangkitlah guruku dari segala penyakit guru yang selalu membanyangi para guru kita. karena hanya dengan kemauan yang keras dan niat yang sungguh serta ikhlas yang bisa mengalahkan semua penyakit guru kita. Anak didik kita, bangsa dan negara tercinta menunggu, menanti dengan sabar!!!! Guru karena engkau kami bisa, Guru karena engkau kami dapat, Guru karena engkau kami dapat menatap masa depan yang lebih cemerlang, Guru karena engkau kami sukses, Guru sungguh mulia engkau, harapanku pada enkau janganlah tinggalkan kami, karena engkau adalah segalanya bagi kami, bangsa dan negara tercinta. Buanglah jauh-jauh, hancurkan segala penyakit yang ada pada dirimu. kami adalah anak didikmu menunggu . . . . . . . . …….
    rulz likes this.

  2. #2
    Junior Member
    Join Date
    Jul 2009
    Posts
    26
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    Salut, dan sungguh kreatif nih mas Budi mengidentifikasi jenis penyakit guru,
    sayangnya tidak dibarengi dengan penyebab penyakit-penyakit tersebut serta obatnya.
    TIDUR("tidak tahu diri"), adalah penyebabnya : logikanya; bagaimana mungkin guru mendidik jika dirinya sendiri tidak dikenali, guru akan mendidik sebatas yang dia tahu dan tidak akan pernah mendidik lebih dari yang dia tahu, dia rasa, dia yakini.
    Obatnya : maaf sedang diracik, mohon bersabar...

  3. #3
    Junior Member
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    tulisan yang menarik...

    silahkan mampir... ke catatan-guru

  4. #4
    Junior Member
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    2
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    Susah kalau mau jadi guru yang benar-benar well-qualified. Dan kadang-kadang kita memandang guru secara objektif.

    KUDIS itu yang paling susah gan. Apalagi kalau di suatu sekolah itu ruang gurunya seperti rumah. Felt like home. Tambah macam-macam deh KUDIS-nya.

  5. #5
    Newbie fafa jack's Avatar
    Join Date
    Nov 2009
    Location
    Purwokerto, Indonesia
    Posts
    38
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    susah lagi kalo ada alasan (dari guru yang masih swasta, di pedesaan lagi, honornya kecil, belum ada sambungan internet) yang klise, 'honor kecil'. belum lagi kalo liat kenyataan, mereka yg profesional aja (udah lulus sertifikasi) masih belum bisa mengoperasikan komputer (kok bisa lulus?) dan mending membelanjakan tunjangan profesi untuk beli motor baru ketimbang beli laptop.

  6. #6
    Member
    Join Date
    Sep 2009
    Posts
    207
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    silabus deathline,bea kreative kurang,setelah kreative kena ujian negara,mending bimbel.

  7. #7
    Junior Member
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    hahahhhh... iya thu... malahan masih ada aja guru yang menjunjung tinggi penyontekan... mau dibawa kemana harapan bangsa kita ini????? hhhhh

  8. #8
    Junior Member
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    22
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    hahaha.... bagus bagus.... solusinya....?

  9. #9
    Junior Member
    Join Date
    Jul 2011
    Location
    Indonesia
    Posts
    28
    Rep Power
    0

    Re: Mengikis Habis Penyakit Guru

    iy benar juga, jadi inget guruQ pernah bilang, "terserah kalian mau belajar apa tidak, toh ngajar nggak ngajar saya tetap dibayar".....itu saja sekolah kita bayar....
    kemarin juga sempat seorang guru bercerita kepada saya bahwa dengan adanya dana BOS mereka jadi malas memikirkan kualitas mendidik anak2 mereka, karena yang bayar bukan pelajar2 tersebut. Padahal maksud pemerintah memberikan dana tersebut untuk membantu siswa kurang mampu agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak....

  10. #10
    Newbie
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    Bondowoso, Indonesia
    Posts
    3
    Rep Power
    0

    Icon9 Mencari Akar Penyakit Guru dari diagnosa Mas Budi

    Menggelitik dan geli membaca tulisan Mas Budi. Harus diakui dengan skala umum, benar adanya. Namun tidak adil rasanya bila diagnosa itu tidak dilihat akar penyakitnya. Objek paling gampang saat ini untuk disoroti memang profesi satu ini (Guru). Bukan tanpa alasan Mas Budi menulis seperti itu, kalau boleh menduga tidak lain karena Guru saat ini kesejahteraanya semakin meningkat namun tidak diikuti oleh peningkatan kualitas sumberdayanya.
    Ketika Guru sebagai sosok Oemar Bakrie ala Iwan Fals, banyak yang kasihan dan memunculkan perjuangan dari berbagai kalangan untuk memperjuangkan agar kesejahteraan guru meningkat. Al hasil dengan berbagai perjuangan tersebut membuahkan hasil. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah peningkatan kesejahteraan itu hanya bertujuan agar guru meningkatkan kualitas sumberdayanya atau memang bertujuan untuk meningkatkan status sosial agar sepadan dengan tugas yang diembannya (sehingga tidak dilihat sebagai Oemar Bakrie)?
    1. Jika jawabanya untuk peningkatan kualitas, maka pemberian kesejahteraan itu dianggap selama ini memang kualitas guru belum bermutu. Tentu hal ini dikembalikan pada Institusi pencetak profesi guru (dalam hal ini PT/University). Meluas memang sumber masalahnya. Saya yakin, jika profesi itu dihasilkan oleh PT yang memang kualitas, maka produk yang dihasilkan juga sepadan. Namun isu wajar pendas 9 tahun mendorong maraknya para praktisi memaknai. Diantaranya adalah diperluasnya jangkauan menempuh profesi keguruan dengan membuka kelas-kelas jauh yang disempalkan dari berbagai Universitas yang ada. Bagai kacang goreng, maka kelas jauh itu menjadi rebutan para mahasiswa yang ingin menjadi pendidik. Regulasi yang tidak mantap dan dadakan seperti itu menciptakan peluang instanisasi proses pendidikan. Sehingga berbagai "kong-kalikong" yang bertujuan memberikan pelayanan sebaik-baiknya pada para calon mahasiswa yang akan masuk terjadi. Misalnya ada proses ilegal ada Universitas yang memberikan layanan S-1 2.5 tahun selesai/lulus. Disamping memang ada yang tetap mempertahankan citra kualitas karena memang dikelola dengan prosedur yang benar. Tapi kenyataanya para "Nasabah" memilih instanisasi proses. Lebih cepat lebih baik. Kalau sudah seperti ini tidak usah dibahas, seperti apa kualitas outputnya? PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) instan, hanya membayar sekian ratus ribu pada sekolah yang mau ditempati, laporan akhir sudah jadi dan si mahasiswa dinyatakan lulus PPL dengan nilai "B". Waktunya KKN sebagai wujud tridarma perguruan tinggi juga mengalami proses instanisasi, KKN yang mestinya ditempuh 3 bulan dipangkas menjadi 1 bulan saja, dan sekali lagi dinyatakan si mahasiswa lulus dengan nilai "B". Sebagai tugas akhir mahasiswa, harus menulis skripsi, juga mengalami proses instanisasi. Dengan membayar 1.2 juta mahasiswa sudah punya bendelan skripsi, waktu ujianpun diatur instan: cukup berseragam, masuk ruangan, menghadap dan lagi-lagi si mahasiswa lulus dengan nilai "B". Semuanya serba instan. Nah... Dapat diterka, bagaimana bisa mengajar-mendidik kalau aspek penting pendidikan seperti paedagogies, metodologis, psykologis hanya mereka kenal hurufnya tapi tak pernah bermakna bagi dirinya. Sementara itu, mereka semua seletah yudisium dan wisuda sudah dinyatakan layak mengajar/mendidik anak-anak bangsa. Bukankah ini akar nyata penyakit yang ditemukan Mas Budi?
    2. Jika jawabanya untuk meningkatkan status sosial-kesejahteraan, maka dimaknai terpuruknya pendidikan selama ini karena profesi penting pendidik dihargai murah. Murahan tentu mutunya juga jelek. Maka tidak sepenuhnya disalahkan bila proses pendidikan selama ini hanya berjalan rata-rata air bahkan cenderung surut. Sementara itu negara tetangga telah lama memberikan pelayanan yang baik pada profesi yang satu ini. Dapat dikatakan bahwa pemberian tunjangan profesi melalui proses sertifikasi bila melihat posisi ini langkah "telat" pembuat kebijakan yang punya harapan peningkatan kualitas pendidikan. Karena realitas hidup berjalan estafet, gaji meningkat harga beli juga meningkat. Toh selama ini bila dilihat dari sisi proses pemberian sertifikasi disertai tunjangan profesi berjalan tertatih-tatih dan sarat dengan berbagai birokrasi yang menciptakan peluang korupsi (lihat kasus di Kab. Jember dll).

    Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah para pembuat kebijakan negeri kita ini hanya bisa membuat regulasi, tapi minim dengan strategi pelaksanaan dan monitoring. Karena pemangku kepentingan sudah terbiasa iklim lama yang cenderung "alon-alon waton kelakon". Didepan serius, dibelakang "umek-umek" dengan salam ini, salam itu.

    Sebagai rentetan panjang kejadian di atas, benar diagnosa Mas Budi kalau dikalangan pendidik muncul berbagai penyakit menular seperti: KUSTA (KURANG STRATEGI), TBC (TIDAK BANYAK CARA), KUDIS (KURANG DISIPLIN), KRAM (KURANG TERAMPIL), LESU (LEMAH SUMBER), WTS (WAWASAN TIDAK LUAS), MUAL (MUTU AMAT LEMAH), TIPUS (TIDAK PUYA SELERA), ASAM URAT (ASAL SUSUN MATERI URUTAN TIDAK KAMIRAT), ASMA (ASAL MASUK KELAS), TIDUR(TIDak tahU diRi"). Dan ini semakin kronis jika tidak segera mendapatkan obatnya. Pikirkanlah obatnya, sambil kita mencari Obat sendiri.
    Last edited by Tetuko JP; 08-02-12 at 10:01 PM.

Page 1 of 2 12 LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0