Berbicara mahasiswa di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya, apalagi jika yang dibahas adalah soal lapangan pekerjaan. Sejak jaman Iwan Fals menciptakan lagu "Sarjana Muda" pada saat itu pula sebenarnya kritik pedas bukan semata-mata kepada pemerintah namun juga kepada perguruan tinggi yang mencetak mahasiswa menjadi pengangguran baru. Kritik Iwan Fals yang hanya dijadikan nyanyian semata ternyata mampu membuat pemerintah penentu kebijakan pendidikan dengan perguruan tinggi tertidur lelap, dari tahun ke tahun jumlah angka pengangguran dari kalangan sarjana bertambah.
Pola pendidikan seperti apakah sebenarnya yang dibangun oleh perguruan tinggi hingga berhasil mencetak beberapa pengangguran baru setiap kali periode wisuda. Sedangkan yang nampak adalah prestasi dengan gedung-gedung yang semakin megah di beberapa kampus elit di indonesia. Percuma membuang waktu, tenaga, dan biaya untuk pendidikan yang hanya menghasilkan selembar ijasah yang tidak berguna. Perguruan tinggi berlomba-lomba untuk mencetak ijasah, bukan lulusan yang siap pakai sesuai bidangnya yang mengarahkan anak didiknya pada sebuah pilihan untuk mengambil peran.
Bagaimana tidak miris jika melihat lulusan sarjana pertanian salah satu universitas terbaik di Indonesia tidak tau bagaimana pola pertanian sesungguhnya di lapangan. Bagaimana tidak miris jika sarjana-sarjana institut pertanian negeri ini kemudian menjadi banker. Bagaimana tidak miris jika sarjana teknik sipil kita lebih tergiur dengan mengambil kuliah lanjutan di managemen untuk dapat posisi yang lebih. Itukan pilihan hidup? Ya memang pilihan hidup, tapi untuk apa jika tujuannya adalah menjadi seorang banker lalu menempuh studi di jurusan pertanian. Artinya ada masalah yang membuat mahasiswa-mahasiswa banyak yang "murtad" dari jurusan yang diambilnya ketika di dunia kerja. Apa masalahnya? Riset.
Jangankan kampus-kampus yang kecil, kampus-kampus yang besar ini saja banyak membuat sarjana-sarjana "murtad". Yang lurus-lurus saja mungkin jurusan kedokteran, kebidanan, keperawatan, psikologi. Jurusan-jurusan yang mempunyai program lanjutan profesi yang spesifik dapat menjaga sarjana hasil didikannya dari "kemurtadan". Bagaimana dengan pertanian, teknik, kehutanan, hukum, fisipol, mipa, sosiohumaniora, semuanya bias. Jurusan ekonomi mungkin fleksibel, salah satu jurusan yang fleksibel. Jurusan-jurusan yang bias ini mempunyai sarjana "murtad" tertinggi dibandingkan jurusan yang mempunyai program spesifik mengarahkan mahasiswanya untuk menekuni satu profesi, salah satu faktornya adalah kemampuan perguruan tinggi melakukan inovasi riset yang tidak cukup baik, profesor-profesor yang tidak begitu kreatif, hanya terpaku pada teksbook dan doktor-doktor yang sibuk mengejar status sebagai guru besar sementara mahasiswanya bingung.
Bayangkan jika perguruan tinggi mempunyai kemampuan meriset yang sangat luar biasa, negara ini akan mempunyai kualitas sumberdaya manusia yang super luar biasa. Kita tidak perlu mengimpor mobil dari luar negeri karena sarjana teknik mesin kita sanggup membuat mobil sendiri, anak SMK aja bisa. Kita tidak perlu mengimpor segala peralatan komputer, gadget, handphone dari luar negei karena sarjana teknik elektro kita sanggup membuatnya. Kita tidak perlu banyak-banyak mengimpor makan makanan dari luar negeri karena sarjana pertanian kita mengoptimalkan fungsi pertanian di Indonesia dan menciptakan produk-produk yang inovatif untuk kemandirian bangsa. Dan hanya orang-orang kreatif yang mampu melakukan itu, kuncinya adalah di mahasiswanya Perguruan Tinggi dan Pemerintah hanya memberikan dukungan untuk mewujudkan karya anak bangsa.
Kita semua tau Bill Gates, ternyata yang lebih kaya bukan dosennya, Bill Gates lebih kreatif dari dosennya. Kita juga tau Mark Zukerberg, dia lebih kreatif dari pada dosennya. Negeri ini merdeka, karena anak-anak muda yang kreatif, percayalah generasi yang lebih muda lebih kreatif dari generasi lama meskipun pada saat itu tingkat keilmuan secara spesifik pada satu bidang tidak sebanding, tapi orang-orang kreatif akan mempunyai spesifikasi tersendiri. Rumusnya, Kita Mahasiswa Pasti Lebih Kreatif Dari Pada Dosen Kita Sekalipun itu Rektor.
Kreatif tidak cukup untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini untuk menjadi setara. Tapi juga perlu produktif. Riset (yang saya sebutkan tadi) adalah penumbuh produktifitas mahasiswa-mahasiswa kreatif. Kreatifitas diperlukan untuk memunculkan ide-ide baru, sementara riset dibutuhkan untuk mewujudkan suatu kreatifitas ide untuk menjadi nyata, dan membuat suatu kreatifitas itu menjadi produktif. Lembaga ini yang tidak dimiliki kampus, ada tapi kurang maksimal karena mahasiswa istilahnya bergantung pada proyek dosen. Padahal sebenarnya mahasiswa bisa mengajukan suatu gagasan dengan minat dan bakat yang dimilikinya, dosen dapat mendukung langkah mahasiswanya untuk produktif.
Dikti telah merangsang mahasiswa kearah yang kreatif dan produktif, melalui program PKM. Itu salah satu program lecutan kreatifitas yang sangat disayangkan adalah ketidak konsistenan mahasiswa yang mengikuti PKM meskipun menang dan hanya menjadi riak-riak belaka di kala hujan. Gempar sebentar lalu padam. Titik temu masalahnya adalah tidak ada wadah bagi mahasiswa untuk jauh lebih berkembang, karena program PKM adalah hanya melahirkan tunas-tunas baru selama dua bulan, maka pengembangan selanjutnya adalah pemupukan bibit-bibit itu untuk menjadi tanaman yang subur lagi menghasilkan. Melalui Lembaga Riset yang dikelola langsung oleh mahasiswa dengan dosen cukup sebagai pembimbing. Kenapa harus mahasiswa yang mengelola? Karena mahasiswa yang harus berkembang, sementara perguruan tinggi menyediakan pot dengan tanah yang subur, dosen dapat memberikan sinarnya untuk proses tumbuh kembang mahasiswa dan mahasiswa bergerak secara alamiah untuk proses pendewasaan diri dan kematangan. Saya kira itu yang akan menjadikan bangsa ini setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kreatifitas dan Produktifitas didukung dengan kebijakan yang visioner dari perguruan tinggi dan pemerintah.
Lembaga riset ini akan dapat mengarahkan mahasiswa menjadi Professional maupun Entrepreneur. Kedua hal itu adalah pilihan dan peran. Maka perguruan tinggi harus dapat menjembatani antara kedua pilihan dan peran tersebut cukup hanya dari satu lembara riset. Contoh begini kita melakukan riset tentang hardware sebuah komputer dalam suatu lembaga riset dengan kelompok yang berminat di bidang itu terdiri dari beberapa mahasiswa, dalam waktu sekian tahun, kelompok itu dapat menghasilkan sebuah karya berupa perangkat komputer sekelas milik IDM misalnya. Dari beberapa anggota kelompok ternyata mempunyai bakat yang berbeda-beda, ada yang mempunyai kemampuan menjadi seorang entrepreneur ada yang mempunyai kemampuan sebagai seorang professional. Pada tahap itu seorang mahasiswa yang mempunyai bakat dan minat dengan dunia usaha dan bisnis bisa mengambil perang ia akan menggunakan hasil karyanya untuk dipasarkan, sementara mahasiswa yang berbakat menjadi seorang professional, ia akan siap menjadi ahli dalam bidangnya karena telah mempunyai pengalaman untuk menciptakan sesuatu yang baru. Saya kira jika sampai pada tahap seperti ini perguruan tinggi di Indonesia akan menjadi perguruan tinggi kelah dunia yang mempunyai lulusan siap pakai dan siap terjun membuka lapangan kerja baru. Mahasiswa harus menentukan sebuah pilihan untuk mengambil peran. (Semoga bermanfaat)


LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote


Bookmarks