Yap! Paradigma di masyarakat jg terlanjur mengelompokkan, misalnya, jurusan eksakta dianggap lbh bergengsi dibanding jurusan sosial, kuliah di kedokteran lbh terpandang daripada kuliah di sosiologi, apalagi kuliah di LPTK (itu lho, kuliah utk jd guru).
Eksakta identik dgn kebrilianan, sdgkan sosial hanyalah "nomor dua".. Maka, ortu bahkan sangggup 'mendekati' guru spy anaknya di eksakta sj. lalu, setelah tamat SMA dimasukkan ke kedokteran. Ga lulus di PTN, PTS kan banyak, bejibun! Pokoknya asal ada uang, niscaya anak anda akan jd dokter. Keren!
Tapi, jika sekarang banyak kasus malpraktek, apakah disebabkan sang dokter memang gak pantas atau tdk direkomendasikan jd dokter, lantaran "potensi bawaan" nya bukan ke situ?
Sementara di institusi pendidikan sendiri, bad-paradigm ini dimanfaatkan utk meluaskan gurita bisnis pendidikan. Lahirlah kedokteran ekstensi, dst..
Bermunculan PTS swasta jg akibat dari kealpaan kita untuk melakukan pencitraan sejak dini terhadap "potensi bawaan" anak, atau potensi personalnya. Akibatnya, banyak ortu yg mmasukkan anaknya ke SMA, meskipun sebenarnya anak tsb harus diarahkan ke SMK lantaran kecerdasannya lbh condong ke arah praktik-praktik. Setamat SMA tdk goal di UMPTN, lalu dengan tangan terbuka PTS pun membuka pintu!
Krn mmg ybs gak kompeten utk kuliah, akhirnya susah tamat. Alih-alih men-DO-kan, PTS melihat ini sbg peluang berikutnya; anda bisa lulus, asal...? sampai di sini, tamatlah kawan kita itu, jadi sarjana ini dan itu. Kompetensinya? Jgn ditanya, wong dia sendiri jg gak peduli kok. Tp, ketika mencoba nasib di bursa kerja, pintu tertutup lantaran mmg gak ada yg dia bisa. Sarjana pertanian gak bisa bertani, sarjana ekonomi malah miskin (he-he-he..).
Tp, dunia belum kiamat. gagal di pasar kerja, kawan kita melihat peluang di partai,jadi caleg, atau di gerakan-gerakan. banyak di antara mereka yg membakar bendera negara seraya berkoar-koar mengata-ngatai (mengumpat) pemerintah!
Inilah dosa besar pendidikan kita sejak lama! bahwa pendidikan tidak bisa melihat potensi personal anak didik, sehingga tdk jelas mau mengarahkan ke mana jutaan anak bangsa yg sebenarnya punya potensi yg beragam dan pasti akan menjadi kekuatan mahadahsyat jikalau pendidikan mampu mengoptimalkan potensi mereka.
Ok, selamat datang di "Revolusi Pendidikan", yakni bagaimana pendidikan diarahkan sesuai dengan potensi personal peserta didik tiu sendiri!![]()


5Likes
LinkBack URL
About LinkBacks






Reply With Quote




Bookmarks