View Poll Results: Setujukah anda dengan UAN?

Voters
54. You may not vote on this poll
  • Setuju

    30 55.56%
  • Tidak Setuju

    22 40.74%
  • Abstain

    2 3.70%
Multiple Choice Poll.
Page 1 of 13 1234567891011 ... LastLast
Results 1 to 10 of 129
Like Tree2Likes

Thread: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

  1. #1
    Member mbobcoolz's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    jakarte ibu kote kite
    Posts
    508
    Rep Power
    4

    Post Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Sbelum mulai, saya mau menjelaskan bahwa thread yang saya buat ini, No Offense untuk pemerintah.

    Menurut pengamatan saya secara pribadi, UAN (atau yang kita sering sebut sebagai UJian Nasional) di Indonesia yang sekarang diterapkan adalah pengukur kemampuan siswa/i Indonesia. TAPI yang dipusatkan oleh pemerintah disini adalah kecerdasan di bidang Logical Smart (Matematika) dan Linguistic Smart (Bahasa). Dan yang lebih mengejutkan lagi, pada tahun ajaran 2007/2008, pemerintah Indonesia menetapkan penambahan pelajaran(Geografi, Ekonomi, dan Sociology untuk jurusan IPS dan Fisika, Kimia dan Biologi untuk jurusan IPA). Dan yang lebih mengejutkan adalah wacana penambahan pelajaran lagi untuk tahun ajaran (2007/2009) ini, yakni PPKn dan Sejarah. Walaupun masih berbentuk wacana, tapi ini sudah membuat para siswa SMA ketakutan setengah mati. Berita itu pun dibumbui lengkap dengan naiknya standar kelulusan. Apalagi dengan santernya kabar angin bahwa ujian nasional akan dimajukan ke bulan Februari diakibatkan karena bentrok dengan waktu Pilpres untuk tahun 2009-2012 mendatang.

    Saya tidak menyalahkan atau melakukan offense ke pemerintah. Tapi yang sangat sayangkan adalah pemerintah tidak menggali kecerdasan anak-anak Indonesia secara lebih dalam. Dengan UAS, pemerintah menganggap semua anak di Indonesia memiliki jenis kecerdasan yang sama. Dan apakah, dengan cara ini, kita bisa tau bahwa anak Indonesia benar-benar "berkualitas" atau tidak.

    Mari kita bahas mengenai kecerdasan. Sampai saat ini, kecerdasan yang baru ditemukan berjumlah 8. Tuhan Maha Besar, kita pasti meyakini, bahwa manusia memiiki lebih dari 8 jenis kecerdasan yang diciptakan Yang Maka Kuasa.

    Menurut Prof. Howard Gardener seorang ahli riset dari Amerika, terdapat 8 jenis kecerdasan pada manusia, yaitu:

    1. KECERDASAN LINGUISTIK

    Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi.

    2. KECERDASAN LOGIK MATEMATIK

    Kecerdasan logik matematik ialah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal). Ia suka angka, urutan, logika dan keteraturan. Ia mengerti pola hubungan, ia mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang besar kepada hal-hal yang kecil. Proses berpikir induktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang kecil kepada hal-hal yang besar.

    3. KECERDASAN VISUAL DAN SPASIAL

    Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual artinya gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warana, garis, bentuk, ruang, ukuran dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang.

    4. KECERDASAN MUSIK

    Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seseorang.

    Telah di teiliti di 17 negara terhadap kemampuan anak didik usia 14 tahun dalam bidang sains. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa anak dari negara Belanda, Jepang dan Hongaria mempunyai prestasi tertinggi di dunia. Saat di teliti lebih mendalam ternyata ketiga negara ini memasukkan unsur ini ke dalam kurikulum mereka. Selain itu musik juga dapat menciptakan suasana yang rileks namun waspada, dapat membangkitkan semangat, merangsang kreativitas, kepekaan dan kemampuan berpikir. Belajar dengan menggunakan musik yang tepat akan sangat membantu kita dalam meningkatkan daya ingat.

    5. KECERDASAN INTERPERSONAL

    Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.

    6. KECERDASAN INTRAPERSONAL

    Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri. Orang yang memilki kecerdasan ini sangat menghargai nilai (aturan-aturan) etika (sopan santun) dan moral.

    7. KECERDASAN KINESTETIK

    Kecerdasan kinestetik ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan.

    8. KECERDASAN NATURALIS

    Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.

    Apakah pemerintah memikirkan sampai sejauh ini? Menurut saya dan saran saya, pemerintah harus bisa memperhatikan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh anak Indonesia. Mungkin dengan penggalian kecerdasan, Indonesia bisa lebih maju dari negara-negara yang berkembang. Bisa saja, Indonesia akan memiliki Mozart atau Beethoven-nya sendiri yg bisa menciptakan lagu-lagu fenomenal. Bisa saja Indonesia memiliki Einsteinnya sendiri. Who Knows? Only God Knows!. Ada kalanya, pemerintah harus bisa berpikir tenang dan berpikir juga dari berbagai arah, dari berbagai sisi kehidupan.

    Thanks For Your Time, This is my first post. Honestly, I'm still in Senior High. Ini adalah buah pemikiran saya mengenai UAN. Saya mohon maaf apabila terdapat salah kata. Dan sekali lagi saya tekankan, No Offense. Kita juga perlu membahas pendidikan demi Indonesia tercinta.


    Regards,



    mbobcoolz
    ratnawati likes this.

  2. #2
    Member
    Join Date
    May 2008
    Posts
    221
    Rep Power
    5

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    gentar menghadapi ujian yah...

    jujur aja, setelah sekian puluh tahun lulus sekolah,
    ketika saya mereview kembali berapa banyak ilmu yg saya dapat di sekolah dulu yg terpakai hingga kini ? hmmmm rasanya ngak lebih dari 20%...

    terus saya jadi bertanya2 dalam hati buat apa donk kita sekolah cape2..
    apalagi sekarang saya denger, di sekolah Top, SD aja udah pulang jam 3 sore..

    Dan jujur aja, saya merasa ilmu2 yg saya dapat dari buku2 best seller jauh lebih berguna daripada ilmu yg saya pelajari selama 16 tahun di sekolahan... (SD s/d Kuliah)

  3. #3
    Member
    Join Date
    May 2008
    Posts
    221
    Rep Power
    5

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    maaf, saya pindahkan visitor message anda ke forum...
    rasanya lebih afdol kalo kita diskusi di forum saja..
    biar diskusi bisa berjalan lebih seru...

    loh, saya tak gentar loh pak/bu. (maaf saya tak tahu). Tapi saya hanya berpikir, apakah pemerintah sudah berpikir sampai kesitu. Karena saya melihat-teman-teman saya yang bersekolah di luar negeri, lebih berpikir dan berwawasan luas, daripada saya.
    gentar juga ngak apa2 kok... wajar... manusiawi...
    saya juga udah pernah ngerasain kok dulu....

    soal teman2 anda yg berpikir dan berwawasan luas karena bersekolah di luar negeri, mungkin saya punya jawabannya....

    2 bulan lalu adik saya liburan ke Indonesia (sekarang dia tinggal & bekerja di USA bersama suami & anaknya)...
    dia cerita disana anaknya (umur 7 thn) belajar untuk berpikir, bukan menghapal....

    contohnya, anaknya di kasih PR berupa Paper, setuju atau tidak setuju makanan junk food, kalau setuju apa argumentasinya, kalau tidak setuju apa argumentasinya....

    jadi dari semenjak kecil, anak2 disana sudah dibiasakan untuk berpikir, berargumentasi, dan juga belajar bahwa ada orang yg punya pikiran & pendapat berbeda.... dan secara tak langsung juga belajar untuk menghargai perbedaan pendapat tsb...

    bagaimana dengan di Indonesia ?
    murid di jejalin oleh guru, bahwa junk food itu jelek, buruk...
    semua argumentasi adalah dari si guru, bukan argumentasi si anak sendiri...
    dan bagaimana bila ada anak yg tidak setuju dan punya argumentasi berbeda ? guru akan menggunakan segala kemampuan, kewenangan, wibawa dll untuk 'meluruskan' murid yg berbeda tsb...

    sejak kecil kita belajar menghapal... ya.. menghapal apa yg di ajarkan guru... ngak boleh lebih atau kurang...

    saya miris sekali melihat keponakan saya yg lain, yg sekolah di Indonesia (anak dari kakak ipar saya)..
    ulangannya disalahkan guru karena berbeda dengan yg di ajarkan (atau mungkin tepatnya yg di inginkan) oleh sang guru... tapi kalau menurut saya jawaban tsb masuk akal, sangat masuk akal kalau sang guru mau thinking out of the box....

    Pengalaman pribadi saya dulu waktu SMA...
    salah satu jawaban ujian komputer saya di anggap salah oleh guru
    (dulu masih jamannya Lotus 123)...
    cara menjawab saya memang berbeda dengan cara sang guru, tapi saya yakin seyakinnya, walaupun beda cara tapi hasilnya sama....
    tapi apa mau dikata, sang guru tetap ngotot bahwa saya salah...

    Tahun depan anak saya masuk sekolah, saya lagi pusing nyari sekolah yg mengajarkan anak muridnya untuk berpikir, bukan menghapal...
    belajar thinking out of the box... bukan mengikuti alur pikiran bpk/ibu guru...
    sekolah yg tidak membebani muridnya pelajaran yg tidak perlu, yg ngak bakal kepake setelah dia masuk dunia kerja nanti....

    ada ngak yah sekolah kayak itu ?

  4. #4
    Member mbobcoolz's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    jakarte ibu kote kite
    Posts
    508
    Rep Power
    4

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Saya tidak yakin ada sekolah seperti itu disini. Sebelumnya, terima kasih kepada anda, yang sudah menanggapi forum ini. Tapi, sebenarnya guru-guru disini, tidak akan ingin melakukan itu. Saya sangat yakin akan itu. Saya punya seorang guru yang sungguh luar biasa. Kita sebut saja, Mr. X. Dia yang menginspirasikan saya untuk membuat thread ini. Berikut adalah beberapa alasan dari dia, aka ketidak setujuan UAN.
    1. Guru yang sudah mengajar, mendidik kita selama tiga tahun, tidak dapat ikut andil dalam menentukan kelulusan kita.
    2. Hasil perjuangan kita, selama TIGA TAHUN, hanya ditentukan dalam waktu KURANG DARI 1 MINGGU!!!
    3. Apabila kita bersekolah di beberapa daerah terpencil, yang bahkan untuk bersekloah makan waktu perjalanan selama 4 jam. Karena kurangnya infrastrukturnya.

    Itu beberapa alasan dari saya. Jujur, Kami KECEWA dengan sistem yang sekarang berjalan. Terima kasih atas vote anda. Demi Indonesia Yang Lebih Baik! Amin!!!



    regards,



    mbobcoolz
    Last edited by mbobcoolz; 23-09-08 at 08:13 PM. Reason: melindungi identitas
    ratnawati likes this.

  5. #5
    Senior Member bukanTuhan's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    near
    Posts
    2,108
    Rep Power
    6

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Quote Originally Posted by mbobcoolz View Post
    Saya tidak yakin ada sekolah seperti itu disini. Sebelumnya, terima kasih kepada anda, yang sudah menanggapi forum ini. Tapi, sebenarnya guru-guru disini, tidak akan ingin melakukan itu. Saya sangat yakin akan itu. Saya punya seorang guru yang sungguh luar biasa. Kita sebut saja, Mr. F. Dia yang menginspirasikan saya untuk membuat thread ini. Berikut adalah beberapa alasan dari dia, aka ketidak setujuan UAN.
    1. Guru yang sudah mengajar, mendidik kita selama tiga tahun, tidak dapat ikut andil dalam menentukan kelulusan kita.
    2. Hasil perjuangan kita, selama TIGA TAHUN, hanya ditentukan dalam waktu KURANG DARI 1 MINGGU!!!
    3. Apabila kita bersekolah di beberapa daerah terpencil, yang bahkan untuk bersekloah makan waktu perjalanan selama 4 jam. Karena kurangnya infrastrukturnya.

    Itu beberapa alasan dari guru kami. Jujur, Kami KECEWA dengan sistem yang sekarang berjalan. Terima kasih atas vote anda. Demi Indonesia Yang Lebih Baik! Amin!!!



    regards,



    mbobcoolz
    1. Guru kan pahlawan tanpa tanda jasa.........dan akan menjadi sangat subjektif kalau guru ikut-ikutan menentukan kelulusan muridnya. Siapa bilang Guru tidak ikut andil dalam menentukan kelulusan murid? Justru gurulah yang punya andil paling besar dalam hal ini. Baik dulu, sekarang, maupun nanti. Merupakan tugas guru untuk memotivasi muridnya untuk belajar dengan baik, dan merupakan kewajiban guru juga untuk memotivasi dirinya agar bisa mengajar lebih baik.

    2. belajar di sekolah, SD, SMP, dan SMA bukanlah perjuangan. Hanya orang tua kitalah yang berjuang dalam membiayainya agar kita mampu melewatinya. belajar adalah kewajiban dari setiap siswa, kalau ada yang bisa lulus UAN mengapa yang lain tidak bisa?

    3. Ini bukan alasan untuk menolak UAN karena ini adalah PR untuk pemerintah.


    Kita memerlukan standar, bahkan kalau perlu lebih tinggi dari saat ini. Karena murid-murid jaman sekarang godaan untuk membolos dan tidak belajar jauh lebih mudah ditolelir ketimbang melakukan kewajibannya sebagai seorang siswa yaitu : BELAJAR.

    Dan sebagaimana suatu sistem baru, tentu hal ini memerlukan sebuah penyempurnaan. Yang pasti kita memerlukan standar yang objektif dan tidak bias dalam pendidikan nasional kita.

  6. #6
    Senior Member hatinurani's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    sukabumi
    Posts
    4,340
    Rep Power
    8

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Quote Originally Posted by bukanTuhan View Post
    1. Guru kan pahlawan tanpa tanda jasa.........dan akan menjadi sangat subjektif kalau guru ikut-ikutan menentukan kelulusan muridnya. Siapa bilang Guru tidak ikut andil dalam menentukan kelulusan murid? Justru gurulah yang punya andil paling besar dalam hal ini. Baik dulu, sekarang, maupun nanti. Merupakan tugas guru untuk memotivasi muridnya untuk belajar dengan baik, dan merupakan kewajiban guru juga untuk memotivasi dirinya agar bisa mengajar lebih baik.

    2. belajar di sekolah, SD, SMP, dan SMA bukanlah perjuangan. Hanya orang tua kitalah yang berjuang dalam membiayainya agar kita mampu melewatinya. belajar adalah kewajiban dari setiap siswa, kalau ada yang bisa lulus UAN mengapa yang lain tidak bisa?

    3. Ini bukan alasan untuk menolak UAN karena ini adalah PR untuk pemerintah.


    Kita memerlukan standar, bahkan kalau perlu lebih tinggi dari saat ini. Karena murid-murid jaman sekarang godaan untuk membolos dan tidak belajar jauh lebih mudah ditolelir ketimbang melakukan kewajibannya sebagai seorang siswa yaitu : BELAJAR.

    Dan sebagaimana suatu sistem baru, tentu hal ini memerlukan sebuah penyempurnaan. Yang pasti kita memerlukan standar yang objektif dan tidak bias dalam pendidikan nasional kita.
    Saya sependapat dengan anda....sungguh suatu hal yg menggelikan jika UAN yg dipersalahkan..kenapa kita sibuk memikirkan suatu standar yg tujuannya untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah bangsa ini...kenapa ngga dibalik bagaimana supaya melewati standar tersebut..yaitu dengan giat belajar..saya pikir pola berpikir untuk selalu menyalahkan lingkungan harus segera dirubah dengan bagaimana kita harus menyesuaikan dengan lingkungan...
    Katakanlah yg benar itu benar dan yg salah itu salah walaupun pahit adanya

  7. #7
    Member mbobcoolz's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    jakarte ibu kote kite
    Posts
    508
    Rep Power
    4

    Lightbulb Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Begini saja, oke lah,kita harus punya prinsip untuk melewati UAN dengan nilai memuaskan. Tapi saya ingin tanya pendapat anda.
    1. Apakah ilmu yang diujiankan dalam UAN anda pakai dalam kehidupan dan pekerjaan anda? (Kecuali guru, hakim, aparat negara dan arkeolog)
    2. Apakah anda rela mempertaruhkan tiga hari dalam satu minggu? Kita misalkan saja, anda sedang bermain poker dan sedang ada diatas angin. Dan tiba2 seseorang mengajak anda bertaruh semua yang anda miliki, yg sudah anda capai susah payah.. Apakah anda akan maju dan melawannya dengan taruhan segalanya?

    Orang tua memang berjuang untuk membiayai kita sekolah.. Kita juga butuh perjuangan untuk melaksanakan kewajiban kita. Proses belajar juga merupakan sebuah perjuangan. Tidak semua orang bisa dan mempunyai kemampuan yang sama. Baiklah, saya anggap anda berdua adalah orang yang kuat menghapal pelajaran. Tapi sadarkah anda, dulu berbeda dengan sekarang. Sekarang ada tambahan pelajaran (walau masih berbentuk wacana), PPKn, apalagi yg dipelajari sekarang adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang tidak terpakai dalam kehidupan kita.
    (Sebelumnya Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris terpakai dalam hidup kita. sisihkan ketiga materi itu, karena kita menggunakannya)
    Mau bukti, misal anda bekerja dengan membuka toko bahan makanan.
    1. Apakah anda memakai UUD 1945 sebagai landasan kejujuran usaha anda? Tidak mungkin toh? Karena kita menggunakan landasan moral dengan Tuhan sebagai acuan kita.
    2. Apakah ekonomi dengan kurva-kurva yang notabene gak jelas itu terpakai dalam usaha dagang kita? Mana ada orang yang mau repot dengan kurva, sementara, mereka bisa berpikiran luas dan jauh kedepan untuk mengembangkan usaha mereka.
    3. Apakah geografi dengan peta, cuaca, udara, dan lain-lainnya juga kita butuhkan?
    4. Apakah anda menggunakan fisika dan kimia serta biologi untuk membuat bahan makanan anda tetap awet? Itu sama saja dengan anda berusaha membunuh orang dong.

    Penyesuaian keadaan? Apakah anda sanggup dengan perubahan mendadak dengan ditambahkannya pelajaran setiap tahun?

    dan satu hal yang ingin saya tekankan,

    Saya Nggak Nolak UAN loh mas, cuman komentar.. SWT banget dah..



    regards,



    mbobcoolz




    N.B. : Cobalah anda mencari informasi tentang Multiple Intellegence. Mungkin anda akan menemukan sesuatu yang menarik.. Dan berikanlah si buah hati tes itu, ajak anak teman anda tes. Pasti anda akan menemukan perbedaan jenis kecerdasan.

  8. #8
    Member
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    ...Kampoeng Udik...
    Posts
    206
    Rep Power
    5

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Kita memerlukan standar, bahkan kalau perlu lebih tinggi dari saat ini. Karena murid-murid jaman sekarang godaan untuk membolos dan tidak belajar jauh lebih mudah ditolelir ketimbang melakukan kewajibannya sebagai seorang siswa yaitu : BELAJAR.

    Dan sebagaimana suatu sistem baru, tentu hal ini memerlukan sebuah penyempurnaan. Yang pasti kita memerlukan standar yang objektif dan tidak bias dalam pendidikan nasional kita.[/quote]

    Quote Originally Posted by hatinurani View Post
    Saya sependapat dengan anda....sungguh suatu hal yg menggelikan jika UAN yg dipersalahkan..kenapa kita sibuk memikirkan suatu standar yg tujuannya untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah bangsa ini...kenapa ngga dibalik bagaimana supaya melewati standar tersebut..yaitu dengan giat belajar..saya pikir pola berpikir untuk selalu menyalahkan lingkungan harus segera dirubah dengan bagaimana kita harus menyesuaikan dengan lingkungan...
    __________________________________________________ ___________


    Saya tidak setuju dengan Anda berdua, untuk pendidikan menurut saya tidak bisa dipaksakan dengan sebuah "standarisasi nilai kelulusan" karena ini namanya tidak mendidik untuk menjadi dewasa tetapi memaksakan keegoisan kita kepada anak-anak karena tidak menghargai proses perkembangan/pendewasaan dari anak itu sendiri.

    Walaupun saya belum punya anak tetapi saya menulis ini karena berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang anak yang mana sering melihat bahwa sebagian orang tua kadang merasa egois dan "memaksa" anak kita harus pintar Matematika, Inggris dll supaya "memenuhi standarisasi yang orang tua inginkan" tanpa melihat bagaimana prosesnya.

    Orang tua akan bangga ketika memperkenalkan anak nya lulus UAN dengan nilai bagus, padahal belum tentu si anak senang karena sebenarnya si anak stress ketika menghadapi UAN dan merasa "dipaksa" untuk belajar, yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana anak "sadar dan merasa sukarela" bahwa belajar itu penting...

    Dulu sebelum adanya standarisasi nilai kelulusan, prestasi siswa sudah bisa diukur dengan Nilai Ebtanas, para siswa yang dididik dengan benar tentu secara sukarela bahwa belajar itu penting... Nilai Ebtanas akan menentukan dia akan diterima di sekolah favorit atau tidak, jadi anak yang ingin mecapai sekolah favorit pasti belajar supaya nilai Ebtanas-nya bagus.

    Selain itu kesuksesan seseorang kebanyakan berasal dari ”smart” bukan ”clever”.

    Bagi saya orang yang smart berbeda dengan orang yang clever, berbahagialah orang yang clever karena memang terlahirkan dengan otak yang ber IQ tinggi sehingga mata pelajaran semua gampang masuk dan dicerna oleh otaknya tetapi sayangnya orang clever kadang bingung apabila akan mengambil keputusan yang tidak ada di ilmu yang selama ini dia pelajari.

    Buktinya sampai saat ini teman-teman saya yang dulu jaman SMP,SMA, kuliah sangat clever ternyata kariernya ada yang kurang bagus karena selalu mengandalkan ke”clever”an-nya dan kurang bisa berpikir ”out of the box”.

    Mereka kalo ditest psikotest hasilnya pasti jauh di atas saya tetapi kalo dites untuk menyelesaikan masalah, presentasi, mengambil keputusan, percaya diri dan meyakinkan orang saya yakin dengan ke ”smart” an yang saya miliki saya pasti lebih unggul.

    Bahkan saya bisa mengatakan anak buah saya sebenarnya banyak yang lebih clever dibandingkan saya dalam artian teori-teori keuangan, akuntansi, penggajian dll mereka lebih unggul karena setiap hari mereka specialisasi di bidang itu, tetapi ya itu tadi dalam dunia kerja clever saja tidak cukup butuh softskill.

    Orang yang ”smart” butuh proses dan bukan terlahirkan karena harus banyak belajar dari kesalahan, belajar dari buku-buku, pengetahuan apa saja dan dari siapa saja, mereka akan banyak berorganisasi dan berkegiatan serta terbiasa mengungkapkan pendapat.

    Nah bisa Anda bayangkan anak-anak yang punya tipikal ”smart” tetapi kurang ”clever” harus dieliminasi oleh UAN ?

    Jadi menurut saya UAN hanya bisa dijadikan tolok ukur ke ”clever”-an anak didik dan menyampingkan potensi-potensi ke ”smart”-an anak didik.

  9. #9
    Senior Member bukanTuhan's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    near
    Posts
    2,108
    Rep Power
    6

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Quote Originally Posted by mbobcoolz View Post
    Begini saja, oke lah,kita harus punya prinsip untuk melewati UAN dengan nilai memuaskan. Tapi saya ingin tanya pendapat anda.
    1. Apakah ilmu yang diujiankan dalam UAN anda pakai dalam kehidupan dan pekerjaan anda? (Kecuali guru, hakim, aparat negara dan arkeolog)
    2. Apakah anda rela mempertaruhkan tiga hari dalam satu minggu? Kita misalkan saja, anda sedang bermain poker dan sedang ada diatas angin. Dan tiba2 seseorang mengajak anda bertaruh semua yang anda miliki, yg sudah anda capai susah payah.. Apakah anda akan maju dan melawannya dengan taruhan segalanya?

    Orang tua memang berjuang untuk membiayai kita sekolah.. Kita juga butuh perjuangan untuk melaksanakan kewajiban kita. Proses belajar juga merupakan sebuah perjuangan. Tidak semua orang bisa dan mempunyai kemampuan yang sama. Baiklah, saya anggap anda berdua adalah orang yang kuat menghapal pelajaran. Tapi sadarkah anda, dulu berbeda dengan sekarang. Sekarang ada tambahan pelajaran (walau masih berbentuk wacana), PPKn, apalagi yg dipelajari sekarang adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang tidak terpakai dalam kehidupan kita.
    (Sebelumnya Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris terpakai dalam hidup kita. sisihkan ketiga materi itu, karena kita menggunakannya)
    Mau bukti, misal anda bekerja dengan membuka toko bahan makanan.
    1. Apakah anda memakai UUD 1945 sebagai landasan kejujuran usaha anda? Tidak mungkin toh? Karena kita menggunakan landasan moral dengan Tuhan sebagai acuan kita.
    2. Apakah ekonomi dengan kurva-kurva yang notabene gak jelas itu terpakai dalam usaha dagang kita? Mana ada orang yang mau repot dengan kurva, sementara, mereka bisa berpikiran luas dan jauh kedepan untuk mengembangkan usaha mereka.
    3. Apakah geografi dengan peta, cuaca, udara, dan lain-lainnya juga kita butuhkan?
    4. Apakah anda menggunakan fisika dan kimia serta biologi untuk membuat bahan makanan anda tetap awet? Itu sama saja dengan anda berusaha membunuh orang dong.

    Penyesuaian keadaan? Apakah anda sanggup dengan perubahan mendadak dengan ditambahkannya pelajaran setiap tahun?

    dan satu hal yang ingin saya tekankan,

    Saya Nggak Nolak UAN loh mas, cuman komentar.. SWT banget dah..



    regards,



    mbobcoolz




    N.B. : Cobalah anda mencari informasi tentang Multiple Intellegence. Mungkin anda akan menemukan sesuatu yang menarik.. Dan berikanlah si buah hati tes itu, ajak anak teman anda tes. Pasti anda akan menemukan perbedaan jenis kecerdasan.

    Dari mana mulainya ya? Jadi bingung. Karena pembahasan Anda sudah menjurus ke sistem pendidikan dan belajar mengajar di negeri ini, bukan lagi UAN.

    1. Pendidikan itu ada dua. Formal dan Non Formal. pendidikan Formal bisa kita dapat di sekolah. SD, SMP, SMU. Kuliah di perguruan tinggi juga termasuk di dalamnya. Nah, pendidikan itu berjenjang, anda tidak mungkin dijejali pelajaran smp saat anda SD dan seterusnya. pendidikan Non Formal bisa diperoleh melalui kursus-kursus keterampilan baik di luar sekolah maupun di dalam sekolah (anda ikut ekstra kurikuler kan?). Dan semua itu membuat pendidikan kita menjadi seimbang jika kita bisa memanfaatkannya.

    2. Kita memiliki sistem pendidikan yang memang sudah tertata dan berjenjang seperti itu. Di seluruh dunia juga demikian. Dan mereka juga memperoleh pelajaran yang sama dengan anda. Matematika, Geografi, Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi, dll. tapi cara mereka belajar dan cara mereka mengajarlah yang berbeda dengan negara kita.

    3. Apa gunanya ilmu kurva permintaan-penawaran, matrix, teorema pitagoras dll dalam kehidupan kita setelah sekolah? Sadarkah anda bahwa semua itu justru adalah kunci untuk menentukan masa depan anda sendiri saat anda duduk di bangku SD, SMP, SMA? Dari mata pelajaran yang anda peroleh di bangku SMP anda bisa menentukan langkah mau ambil jurusan apa setelah kelas 2 SMA. Dan setelah itu anda bisa menentukan langkah mau ambil jurusan dan fakultas apa setelah kuliah nanti?

    4. Janganlah terlalu sempit dalam memandang ilmu yang anda peroleh di bangku sekolah. Karena anda hanya akan menjadi katak dalam tempurung karenanya. Bahkan sampahpun masih bernilai bagi beberapa orang. Apalagi sebuah ilmu. Sadarkah anda bahwa saat anda SMP, anda lebih punya wawasan dari anak SD? Kita memang tidak menggunakan biologi, kimia, fisika dalam mengawetkan makanan, tapi dari ilmu itulah orang-orang bisa membuat pengawet makanan baik alami maupun kimiawi (terlepas dari berbahaya atau tidak). saya pribadi memang tidak membutuhkan ilmu geografi secara langsung, tapi saya membutuhkan informasi cuaca, bencana, iklim yang bisa saya peroleh dari orang-orang yang tekun mempelajari geografi dan sekarang bekerja di BMG. Dan dengan pelajaran Geografi dengan Petanya juga saya tahu dimana itu Papua, selat Sunda, Bali, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Mesir dan Alaska sekalipun. (coba nonton film Denias anda akan tahu arti ilmu geografi yang anda peroleh)

    5. Menghafal adalah salah satu cara belajar, tapi bukan satu-satunya cara belajar. Dan bukankah anda memiliki waktu 3 tahun untuk mempersiapkan waktu 3 hari ujian itu? perlu berapa lama lagi?

    Pesan saya jangan sekali kali meremehkan ilmu pengetahuan, ada pepatah bahwa pendidikan bukanlah segala-galanya tapi dengan pendidikan anda bisa meraih segalanya (di luar nasib dan keberuntungan yang diatur Tuhan). Dan kalau anda ingin bisa mengaplikasikan ilmu yang anda peroleh di bangku sekolah setelah tamat, kenapa tidak bersekolah di SMK?

    hh................keriting deh jari-jari gw.

  10. #10
    Senior Member hatinurani's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    sukabumi
    Posts
    4,340
    Rep Power
    8

    Re: Prahara UAN dan Kecerdasan Anak

    Quote Originally Posted by Rexa View Post
    Kita memerlukan standar, bahkan kalau perlu lebih tinggi dari saat ini. Karena murid-murid jaman sekarang godaan untuk membolos dan tidak belajar jauh lebih mudah ditolelir ketimbang melakukan kewajibannya sebagai seorang siswa yaitu : BELAJAR.

    Dan sebagaimana suatu sistem baru, tentu hal ini memerlukan sebuah penyempurnaan. Yang pasti kita memerlukan standar yang objektif dan tidak bias dalam pendidikan nasional kita.

    __________________________________________________ ___________


    Saya tidak setuju dengan Anda berdua, untuk pendidikan menurut saya tidak bisa dipaksakan dengan sebuah "standarisasi nilai kelulusan" karena ini namanya tidak mendidik untuk menjadi dewasa tetapi memaksakan keegoisan kita kepada anak-anak karena tidak menghargai proses perkembangan/pendewasaan dari anak itu sendiri.

    Walaupun saya belum punya anak tetapi saya menulis ini karena berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang anak yang mana sering melihat bahwa sebagian orang tua kadang merasa egois dan "memaksa" anak kita harus pintar Matematika, Inggris dll supaya "memenuhi standarisasi yang orang tua inginkan" tanpa melihat bagaimana prosesnya.

    Orang tua akan bangga ketika memperkenalkan anak nya lulus UAN dengan nilai bagus, padahal belum tentu si anak senang karena sebenarnya si anak stress ketika menghadapi UAN dan merasa "dipaksa" untuk belajar, yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana anak "sadar dan merasa sukarela" bahwa belajar itu penting...

    Dulu sebelum adanya standarisasi nilai kelulusan, prestasi siswa sudah bisa diukur dengan Nilai Ebtanas, para siswa yang dididik dengan benar tentu secara sukarela bahwa belajar itu penting... Nilai Ebtanas akan menentukan dia akan diterima di sekolah favorit atau tidak, jadi anak yang ingin mecapai sekolah favorit pasti belajar supaya nilai Ebtanas-nya bagus.

    Selain itu kesuksesan seseorang kebanyakan berasal dari ”smart” bukan ”clever”.

    Bagi saya orang yang smart berbeda dengan orang yang clever, berbahagialah orang yang clever karena memang terlahirkan dengan otak yang ber IQ tinggi sehingga mata pelajaran semua gampang masuk dan dicerna oleh otaknya tetapi sayangnya orang clever kadang bingung apabila akan mengambil keputusan yang tidak ada di ilmu yang selama ini dia pelajari.

    Buktinya sampai saat ini teman-teman saya yang dulu jaman SMP,SMA, kuliah sangat clever ternyata kariernya ada yang kurang bagus karena selalu mengandalkan ke”clever”an-nya dan kurang bisa berpikir ”out of the box”.

    Mereka kalo ditest psikotest hasilnya pasti jauh di atas saya tetapi kalo dites untuk menyelesaikan masalah, presentasi, mengambil keputusan, percaya diri dan meyakinkan orang saya yakin dengan ke ”smart” an yang saya miliki saya pasti lebih unggul.

    Bahkan saya bisa mengatakan anak buah saya sebenarnya banyak yang lebih clever dibandingkan saya dalam artian teori-teori keuangan, akuntansi, penggajian dll mereka lebih unggul karena setiap hari mereka specialisasi di bidang itu, tetapi ya itu tadi dalam dunia kerja clever saja tidak cukup butuh softskill.

    Orang yang ”smart” butuh proses dan bukan terlahirkan karena harus banyak belajar dari kesalahan, belajar dari buku-buku, pengetahuan apa saja dan dari siapa saja, mereka akan banyak berorganisasi dan berkegiatan serta terbiasa mengungkapkan pendapat.

    Nah bisa Anda bayangkan anak-anak yang punya tipikal ”smart” tetapi kurang ”clever” harus dieliminasi oleh UAN ?

    Jadi menurut saya UAN hanya bisa dijadikan tolok ukur ke ”clever”-an anak didik dan menyampingkan potensi-potensi ke ”smart”-an anak didik.[/quote]

    saya memahami pendapat anda Bung Rexa,menurut saya pendapat anda diatas lebih kepada pola pendidikan yg lebih mengarah kepada pola pengembangan berfikir anak daripada pola menghapal, saya juga sefaham tentang itu..
    Cuma saya menyoroti kepada perbandingan antara kondisi sekarang (standar sebelum UAN) yg belum menstimulus anak didik untuk giat belajar (membaca) dengan peningkatan standar (UAN) yg membuat murid "dipaksa" untuk giat belajar (membaca)...tentu saja akan lebih baik murid yg belajar khan daripada yg kurang belajar..minimal mereka akan lebih tahu tentang sesuatu daripada yg kurang belajar (membaca)....
    Katakanlah yg benar itu benar dan yg salah itu salah walaupun pahit adanya

Page 1 of 13 1234567891011 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0