emang tetap ada perbedaan, bagi yang mengerti.. masalahnya, karya seni sekarang nie ga ada yg ngerti kecuali pelukisnya sendiri. Maksudku begini, para seniman kebanyakan tdk menggeluti naturalis lagi, tapi lebih kpd aliran temporer. Salah satu penyebabnya? Yaitu itu tadi, komputer membuat gambar yg jauh lebih sempurna daripada goresan kuas, sementara naturalis kan menekankan kesempurnaan tekhnik.
masalah ledakan emosi hanya bisa dimengerti oleh orang yg paham seni, masyarakat awam? pura pura mengerti doang, kweq..weq..wq..
-------------------------------------------------------------------------------------------------
sepanjang pengetahuan sendiri, karya lukisan ekspresionis rasanya cukup bisa dibedakan ketimbang katakanlah naturalis, masyarakat walau cukup awam rasanya bisa pula membedakan lukisan abstrak yang memang membingungkan dengan lukisan naturalis yang dianggap mewakili kesempurnaan teknik seperti yang dimaksud...memang bisa terjadi penggolongan seniman yang bagaimana, tergantung apakah ia melukis dengan harapan bisa dipahami banyak orang, ataukah melulu mengekspresikan batin sendiri dengan segala kegalauan dan juga pergumulannya dimana taksemua orang bisa pula memahami makna ataupun pesan daripada karyanya tsb...contoh dalam bermusik, sebuah group musik terkenal katakanlah Queen misal, karya perdana mereka mungkin tidak begitu masuk hitungan, alias seperti setengahnya ada kesan sedang coba2 atau dalam tahap awal pencapaian identitas diri, sementara baru pada album berikutnya muncul hits2 dengan karakter musik yang amat-sangat kuatnya, dan pada kelanjutan perjalanan mereka bisa pula timbul suatu kegalauan atau kebimbangan dalam menentukan arah... orang awam mungkin belum bisa membedakan pada awal, namun jika terus menerus mendengar cepat atau lambat akan bisa pula merasakan kadar kematangan jatidiri artis yang melantunkan lagu baik itu seorang pemula/kelas medioker dengan yang senior/kelas dunia...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
serius lho, soalnya
zaman sekarang nie lukisan lebih kepada komoditas daripada karya seni. Bisnis lukisan itu ternyata menggiurkan, dan itulah yg menarik bagi hampir semua yg terlibat di dalamnya, bukan karena kenikmatan atas suatu masterpiece..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
kondisi ekonomi yang sulit, dan juga situasi penuh konflik dalam keluarga/lingkungan hidupnya bisa jadi memang membuat seseorang sulit untuk mempertahankan idealisme dan terseret arus seperti kebanyakan artis2 yang mengalami guncangan dan kemudian terlibat narkoba ataupun perselingkuhan misal...jaman sebelum ada tekno seperti sekarang, pelukis di pasar pasang tarip sekitar 25ribu untuk lukis ditempat, sekarang ditengah marak gempuran tekno dan juga krisis ekonomi yang takkunjung reda ada yang keliling kampung untuk sekedar melukis hitam putih senilai 5ribu rupiah belaka...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
so, kalo dulu orang tdk mengerti kecuali diterangkan pelukisnya hanyalah lukisan abstrak, paling tidak surealis yg rumit, atau kubisme.. sekarang? semua aliran aneh dan rumit. ada yg gambar sepatu ditempel ke kanvas, lalu ditimpal permainan warna, ada yg menjalin sarang laba laba dan dimodifikasi sedemikian rupa, bahkan lebih aneh, aku pernah lihat di TIM pameran lukisan dimana lukisannya dibubuhi kalimat kalimat, kweq..weq..wq.. seolah sang pelukis tidak percaya diri kalo gambarnya tdk cukup utk menerangkan arti..
nah, situasi yg djunbd bilang ada perpecahan itu, setau aku, adanya tuduhan bahwa
pelukis sekarang banyak yg tdk lulus bentuk, rupa, tekstur, pencahayaan dan sebagainya kemampuan tekhnis yg semestinya wajib, tapi sudah berani mengagulkan dirinya sebagai pelukis bahkan bikin pameran segala..
kenapa? ya itu tadi, atas nama seni kontemporer, mereka asal nyablak aja bikin yg aneh aneh, lalu mengatakan itu karya seni. Kalo mengikuti rumus kontemporer sih, sah sah aja secara satu garisan kuas juga sudah dikategorikan seni, tapi bagaimana dengan standard kualitas?
hal terakhir inilah yg menjadi kabur, dan itu awalnya disebabkan perkembangan design grafis yg membuat para seniman ngap ngapan dan memberi peluang kepada orang ngaku ngaku seniman dengan dalih kebebasan kontemporer..
------------------------------------------------------------------------------------------------------
itulah jaman, secara tidak langsung produk yang dimaksud juga turut mewakili kondisi jamannya...kondisi melukis ketika sedang tenang tentulah beda jika dikelilingi anak2 yang kelaparan dan terus menangis minta makan dsb...sementara taksedikit pula yang terseret arus kegalauan dalam masyarakat, kurang matang dalam menjalani proses penciptaan seperti taksabar untuk bersanding dengan seniman senior yang lain, sekedar memburu citra dan juga demi supaya laku dijual pula...
------------------------------------------------------------------------------------------------------
salam

Bookmarks