Tuhan Maha Pemaaf, setidaknya Tuhan memberi kesempatan kepada pendurhaka melakukan introspeksi dan bertobat untuk kembali ke jalan kebaikan. Dilain pihak, kita seringkali dengan cepatnya mengutuk dan menghukum orang yang "dianggap" berdosa. Tuhan memberi manusia kebebasan memilih, tetapi kita tidak meneladaniNya. Sebagian besar kita suka memaksa pihak-pihak lain yang dianggap "durhaka". Sepertinya kita lebih bersemangat dari Tuhan.

Jadi seberapa banyakkah di antara kita di lingkungan yang religius memahami arti Rahman dan Rahim yang sering diterjemahkan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sifat ini sungguh indah. Meneladani sifatNya diatas tidak mengharuskan adanya operasi sapu bersih yang marak di awal-awal Ramadlan yang katanya demi menjaga kesucian bulan Ramadlan. Tapi sayangnya, mereka melupakan tatacara islami yang santun. Begitu juga tidak harus dengan mudah mengganggap bahwa yang berbeda dengan kita adalah "laknat"; siapa tahu kitalah yang lebih "laknat" daripada yang kita anggap. Tentu ada batasan-batasan yang berlaku umum. Permasalahannya adalah batasan-batasan ini semakin lama semakin menyempit sehingga toleransi dalam bermasyarakat menghilang karena demi agama. Jaminan kebebasan bertoleransi dilanggar oleh orang-orang yang mengaku religius yang seringkali melakukan manajemen berburuk sangka.