Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 13
Like Tree1Likes

Thread: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia


  1. #1
    Junior Member hidsan23's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Posts
    271
    Rep Power
    4

    Thumbs up Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    Sewaktu masih duduk di bangku SMA, Peter Firmansyah, pria kelahiran Sumedang 4 Februari 1984, terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara.




    Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jeans, kaos, dan topi yang menggunakan merek Peter says denim, bahkan, dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

    Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Peter says denim.

    Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Peter says denim juga tercantum sebagai sponsor. Peter says denim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

    Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

    ”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke klub, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

    Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

    Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

    Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

    Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.




    Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.

    Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.
    ”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

    Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.

    ”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.
    Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

    ”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

    Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

    ”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

    Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

    Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

    Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

    Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.



    ”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.



    Sumber
    Suatu saat jarak terjauh kita adalah guling

  2. #2
    Junior Member lululala's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    349
    Rep Power
    4

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    ooooo jadi ini yg punya petersaysdenim. mahal banget jeansnya bisa sampe 300ribuan . tapi salut sama pebisnis muda gini. berani berkompetisi dengan brand2 lokal lainnya.

  3. #3
    Senior Member
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    1,239
    Rep Power
    0

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    hmm ini kan hot thread di kaskus kemarin .................................................. ..........

  4. #4
    Junior Member sdindo777's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    312
    Rep Power
    0

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    manteb nih orang emang uda punya kemauan dari semenjak sma

  5. #5
    Contributor
    Join Date
    Mar 2012
    Posts
    2,867
    Rep Power
    0

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    wahhhh ... ini baru top ..... Merk Lokal

  6. #6
    Senior Member anaktasik's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Location
    tasikmalaya
    Posts
    1,195
    Rep Power
    0

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    Quote Originally Posted by lululala View Post
    ooooo jadi ini yg punya petersaysdenim. mahal banget jeansnya bisa sampe 300ribuan . tapi salut sama pebisnis muda gini. berani berkompetisi dengan brand2 lokal lainnya.
    bukan hanya brand lokal, tapi juga interlokal

  7. #7
    Junior Member brsjog's Avatar
    Join Date
    Apr 2012
    Posts
    318
    Rep Power
    0

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    Hebbrriiiing euy , hanya butuh 1,5 tahun aja ... ...

  8. #8
    Junior Member oldboy0808's Avatar
    Join Date
    Jul 2012
    Posts
    169
    Rep Power
    3

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    Quote Originally Posted by brsjog View Post
    Hebbrriiiing euy , hanya butuh 1,5 tahun aja ... ...
    Saya juga kaget. Jadi pengen ngikutin jejaknya

  9. #9
    Member Dian Alfia's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Posts
    665
    Rep Power
    4

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    woooo-hooo-hooo!!!
    emang ya, namanya nasib ga akan berubah kalo ga diubah.
    rejeki ga bakalan pernah ketuker

    Mari Budayakan Meninggalkan Jejak Setelah Membaca Thread


  10. #10
    Contributor tamandewi's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    http://tips-cara.info
    Posts
    3,836
    Rep Power
    7

    Re: Peter Says Denim, Brand Lokal yang Mendunia

    hmm boleh juga perjuangan sukses bisnisnya nich....
    salut.....

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO