Page 1 of 13 1234567891011 ... LastLast
Results 1 to 10 of 123
Like Tree19Likes

Thread: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

  1. #1
    Super Moderator rulz's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Location
    Jakarta, Indonesia, Indonesia
    Posts
    1,555
    Rep Power
    16

    Post Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Belakangan ini, banyak thread di KF agak sedikit tendensius dan tak luput berujung pada saling hujat dan menjurus ke areal SARA.

    Kita tahu disini adalah tempat untuk berbagi dan berteman, namun basic line ini sering dilanggar oleh kita sendiri, entah itu karena emosional (terbawa Arus) atau memang sengaja menjadi pengacau.

    Untuk itu, saya ingin berbagi beberapa bahan bacaan tentang etika berinternet. Bahan bacaan ini, saya ambil dari artikel Pepih Nugraha (pengasuh Kompasiana.com) yang memaparkan tentang etika berinternet (Nettique).

    Mudah-mudahan dapat menjadi panduan dan pedoman kita dalam berinternet khususnya berinteraksi di Kompas Forum ini.

    Diantaranya:

    1. Perkara Netiquette (1)
    2. Apakah Kamu Cukup Ber-Netiquette? (2)
    3. Perkara Netiquette: Ingatlah Orang! (3)
    4. Perkara Netiquette: Urusan Moral, Dunia Nyata dan Dunia Maya Sama Saja (4)
    5. Perkara Netiquette: Troller? Abaikan Saja!

    Tanggapi dan respon artikel diatas dengan santai tapi serius

    Semoga Bermanfaat :-)

    Rulz
    Last edited by rulz; 18-01-10 at 04:09 PM.

  2. #2
    Contributor Expired2's Avatar
    Join Date
    Feb 2009
    Posts
    3,194
    Rep Power
    10

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    trims, rulz....

    tapi kliatannya ini memang ada segerombolan begundal yg memang sengaja datang kemari utk ngacak2 forum.
    gemblek likes this.
    truth hurts like hell, and never expired....

  3. #3
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,286
    Rep Power
    21

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    untuk memudahkan yang males klik link:
    --------------------------


    Perkara Netiquette (1)

    NETIQUETTE adalah etika berinternet. Aslinya dua kata yang dijadikan satu, yakni networks dan etiquette. Sebelum internet lahir, kata netiquette tentu belum ada. Orang mengartikan sebagai berprilaku sesuai etiket saat tersambung ke jaringan internet, entah itu saat kita berinteraksi di forum, mailing list, maupun blog. Ternyata, ada etiket yang sejatinya harus dipegang oleh siapapun yang sedang berada di jaringan internet saat mereka berinteraksi. Bagaimana rupa netiquette itu? Prinsipnya sama seperti etiket atau sopan santun pada umumnya, hanya saja ranahnya di dunia maya!

    Dengan sangat menyesal, sore tadi kami harus menghapus (delete) sebuah komentar seorang pembaca Kompasiana yang sangat tidak bernetiket, tidak ada sopan-santunnya! Memberi komentar atau menanggapi tulisan boleh-boleh saja, sebab itu cermin demokratisasi. Tetapi bila komentar disampaikan secara tidak sopan, kasar, sarkastis, nyinyir, mendiskreditkan penulis, dan “nggak nyambung”, kami tidak akan memoderasinya (menayangkannya). Kalaupun sudah tayang seperti kasus tadi, kami tidak segan untuk menghapusnya!

    Seorang pembaca Kompasiana (tidak usah kami sebutkan identitasnya), mengomentari postingan Budiarto Shambazy berjudul Chicago 4 November 2008. Anehnya, komentar yang disampaikan bukan pada masalah yang ditulis, akan tetapi mengomentari penulisnya secara tidak proporsional. Sang penulis menjadi obyek serangan cacimaki. Sangat tidak bernetiket, jauh dari sikap terpelajar, seakan-akan tidak ada seorangpun yang mengajarinya peradaban.

    Sopan santun di dunia maya sama saja seperti di dunia nyata, harus berpegang pada etiket. Masak kepada orang yang belum kenal langsung memaki-maki, di depan umum lagi!

    Kompasiana adalah blog publik, dimana setiap tulisan maupun komentar dimungkinkan untuk ditayangkan, dibaca dan sekaligus dikomentari khalayak banyak. Saat pesta blogger berlangsung, Sabtu 22 November lalu, Kompasiana mulai membuka registrasi lengkap dengan tata-caranya bagi mereka yang berniat untuk menjadi penulis Kompasiana. Mengapa registrasi diberlakukan? Ini semata-mata agar penulis Kompasiana bukanlah anonimi alias “siluman”, tetapi orang yang berani menunjukkan identitasnya secara jelas, bahkan berani menampilkan foto dirinya sendiri!

    Selama ini pembaca yang menukilkan komentar pada postingan tertentu tidak diharuskan melakukan registrasi. Dibiarkan bebas begitu saja, meski pada akhirnya harus dimoderasi. Mungkin ada baiknya juga jka si pemberi komentar pun kelak harus melakukan registrasi agar menjadi anggota Kompasiana terlebih dahulu. Tentu saja sikap ini harus diambil karena kita ingin menciptakan komunitas dengan identitas jelas, bukan mereka yang menyembunyikan identitas karena mungkin kurang percaya diri.

    Kita ingin dan mendambakan komunitas yang berani berpendapat, bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya, dan tetap memegang etiket bergaul di internet. Namun di sisi lain, Kompasiana tetap terbuka untuk dibaca dan dipetik manfaatnya oleh siapapun!

    Mari kita bernetiket! (Bersambung)
    rebarakaz and erna1986 like this.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  4. #4
    Senior Contributor paujan,patah's Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    202.169.62.13/member.php?u=986695
    Posts
    7,417
    Rep Power
    14

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Artikel yg bagus y kdg sy juga sebel dgn pemancing itu
    Last edited by paujan,patah; 18-01-10 at 04:23 PM.
    Kucing Angop 666,you're cleared to take off

  5. #5
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,286
    Rep Power
    21

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Apakah Kamu Cukup Ber-Netiquette? (2)

    Beberapa waktu lalu saya pernah menulis Perkara Netiquette (1) sebagai acuan para blogger dan netter “bermain” di dunia maya. Kini saya tengah menyelesaikan membaca buku Online Journalism: reporting, writing and editing for new media karangan Richard Craig (2005) untuk kepentingan belajar-mengajar. Saya tertarik dengan Netiquette, sebuah bahasan yang sebelumnya sudah saya pelajari. Dalam buku itu Craig mengutip Virginia Shea, penulis buku Netiquette (1994). Sepuluh butir Netiquette ini seharusnya dijadikan semacam pegangan “ten commandments” bagi para blogger atau netter umumnya.

    Untuk mengingat kembali “ten commandment” itu, saya kutip kembali temuan Shea itu di sini. Karena penjelasan Craig bersifat singkat saja saat mengelaborasi 10 Netiquette itu, saya akan uraikan satu persatu dalam postingan berikutnya. Inilah “ten commandments” Netiquette:

    1. Ingat orang

    2. Taat kepada standar prilaku online yang sama yang kamu jalani dalam kehidupan nyata

    3. Ketahuilah dimana kamu berada di ruang cyber

    4. Hormati waktu dan bandwidth orang lain

    5. Buatlah dirimu kelihatan baik beronline

    6. Bagilah ilmu keahlian

    7. Menolong agar api peperangan tetap terkontrol

    8. Hormati privasi orang lain

    9. Jangan salahgunakan kekuasaanmu

    10. Maafkanlah jika orang lain berbuat kesalahan

    Kesepuluh pedoman ber-Netiquette itu perlu saya jabarkan satu persatu dengan bahasa saya sendiri berhubung sangat ringkasnya penjelasan Craig. Tetapi mungkin dalam postingan berikutnya…. (Bersambung)
    gemblek and erna1986 like this.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  6. #6
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,286
    Rep Power
    21

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Perkara Netiquette: Ingatlah Orang! (3)

    Seperti saya janjikan dalam postingan sebelumnya, saya lanjutkan sedikit pembahasan mengenai elaborasi dari “Ten Commandmends” Netiquette yang perlu diketahui dan menjadi pegangan para blogger dan netter. Pertama mengenai diktum ingat orang. Yang harus kamu sadari saat berinternet atau berinteraksi secara online melalui internet, entah itu menulis e-mail, berada di satu forum atau ngeblog, yang harus kamu sadari adalah: yang kamu hadapi tidak semata-mata teks, gambar, foto, grafis, suara, sampai video sebagai “benda mati” semata. Di balik itu semua, kamu sedang berhadapan dengan manusia, dengan orang lain. Manusia seperti kamu juga. Jangan coba-coba sakiti hati mereka!

    Kamu sudah harus pandai memainkan empati di sini. Paling sederhana, gunakan rumus ini: jangan kamu lakukan perbuatan yang kamu tidak suka orang lain melakukannya kepadamu! Sebaliknya, jangan kamu mencap orang lain itu “setan” atau “sialan” hanya karena tidak setuju dengan pendapatmu. Berbeda pendapat, itu biasa, di dunia nyata maupun di dunia maya.

    Di dunia nyata, jika tidak cukup punya nyali sulit bagimu untuk menyembunyikan identitas jika tidak sependapat dengan orang lain. Keberanianmu mungkin surut saat kamu “ngata-ngatain” orang yang tidak sependapat denganmu. Celakanya, di dunia maya (internet) dengan mudahnya kamu menyembunyikan identitas untuk menyerang (pendapat) orang lain. Kamu juga bisa menyerang orang lain terang-terangan, tetapi terus menyembunyikan identitasmu tanpa ampun. Di internet ini memang banyak pilihan, dan itu suka-suka: kamu mau jadi kstaria atau jadi pengecut, boleh-boleh aja…. tinggal pilih.

    Hanya saja, diktum pertama dari sepuluh Netiquette itu mengingatkan bahwa yang kamu hadapi di jagat maya (internet) itu bukan semata-mata mesin, grafis, teks, gambar, suara, maupun video yang tidak bernyawa. Yang kamu hadapi adalah orang, yaitu manusia sepertimu juga. So, ingatlah resep mujarab yang biasa saya pegang sebelum Netiquette ini lahir: jangan kamu lakukan perbuatan yang kamu tidak suka orang lain melakukannya kepadamu!

    Dari diktum pertama Netiquette ini, kamu sekarang mulai menghormati pendapat orang lain di internet, entah itu imel, milis, forum maupun blog seperti di Kompasiana ini. Biarkan orang lain tampil dengan kreasi berpikirnya (sebagian besar inrternet berisi teks). Kita hormati pendapatnya jika pendapatnya itu disampaikan secara santun. Kalau berkenan, kita komentari apa yang dia tulis (bukan mengeritik penulisnya). Jika tidak berkenan, ya biarkan saja dia lewat. Tidak usah memaksakan diri berkomentar. Sebab, komentar yang keluar pastilah sebuah komentar nyinyir karena sudah diawali dengan ketidaksukaan.

    Semudah itulah kita bergaul di internet. Harap diingat, kamu tidak sendirian di internet! (Bersambung)
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  7. #7
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,286
    Rep Power
    21

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Perkara Netiquette: Urusan Moral, Dunia Nyata dan Dunia Maya Sama Saja (4)

    Taat kepada standar prilaku online yang sama yang kamu jalani dalam kehidupan nyata. Demikian diktum kedua dari 10 Netiquette atau sopan-santun dalam berinternet dari Virginia Shea. Menurut Shea, dalam dunia nyata orang cenderung taat aturan, taat hukum, karena mereka takut berurusan dengan hukum. Mereka takut ditangkap, dipenjarakan, jika berbuat salah atau melanggar hukum. Di dunia maya (internet), kesadaran orang akan melanggar hukum itu sangatlah tipis. Bahkan cenderung tidak takut sama sekali. Apa sanksinya? Siapa yang bakal menangkap? Untuk alasan apa ditangkap hanya karena berbuat salah di internet?

    Kalau saya boleh menerjemahkan pikiran Shea mengenai diktum kedua dari Netiquette ini, mestinya ini terkait dengan diktum pertama (ingat orang!), bahwa saat kamu berada di dunia maya, tetaplah kamu sedang tidak sendirian. Kamu berada dengan orang lain meski hanya menghadapi sebuah komputer atau ponsel berinternet di tangan. Nah, karena kamu sering menganggap sedang sendirian di internet dan menganggap bebas melakukan apa saja di internet dengan alasan tidak ada etika dan etiket yang mengaturnya, maka kamu cenderung bisa berbuat seenaknya saja. Berbuat seenaknya itu bisa saja melakukan pelecehan, menulis dengan kata-kata kasar, meng-hack situs atau blog orang lain hanya untuk kepuasaan sendiri, membuat komentar yang tidak nyambung.

    Mestinya, jangan anggap nilai-nilai yang ada di dunia maya tidak lebih rendah dari nilai-nilai yang ada di dunia nyata. Sebagai contoh, kalau di dunia nyata judi dan pornografi menyalahi norma susila, ya jangan juga dilakukan di dunia internet. Sebab jika kamu melakukannya, sanksinya sebenarnya sama saja dengan saat kamu melakukannya di dunia nyata. Kalau pembajakan hak intelektual dianggap kejahatan di dunia nyata, tidak ada beda dengan kejahatan serupa di dunia maya. Bagi saya pribadi, dunia nyata dan dunia maya itu paralel dalam urusan nilai, etika, etiket dan estetika. Melanggar hukum dan norma sebagaimana yang terjadi di dunia nyata, juga menghasilkan akibat buruk (bagi pelakunya) di dunia maya.

    Banyak hal tidak senonoh yang berpotensi melanggar hukum dan norma di internet. Salahsatunya menyampaikan surat beranting (berantai) tanpa jelas siapa pengirimnya kepada imel orang lain. Mengirimkan junk mail berisi iklan-iklan juga termasuk pelanggaran paling mendasar. Jika kamu anggota sebuah milis dan kamu sedang membahas topik tertentu, misalnya “Netiquette”, sebaiknya kamu hanya bicara perkara Netiquette itu saja. Jangan saat orang lain berdiskusi mengenai netiquette, kamu mempostingkan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Netiquette. Katakanlah kamu tiba-tiba mempostingkan “Asyiknya Main Futsal”.

    Tentu saja tidak sanksi yang bakal kamu dapatkan dengan hanya mempostingkan perkara “futsal” di bahasan Netiquette. Hanya saja jika kamu melakukannya, kamu termasuk netter yang tidak sopan dan tidak beretika. Itulah sebabnya, mengomentari sebuah tulisan atau mengomentari komentar itu sendiri, harus tidak keluar dari konteks bahasan, tidak keluar dari topik. Tetaplah pada topik itu, kecuali kamu memang berniat tidak sopan di internet karena merasa tidak ada orang lain yang memperhatikan gerak-gerikmu! (Bersambung)
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  8. #8
    Advisor maspras's Avatar
    Join Date
    Jun 2008
    Location
    lombok
    Posts
    14,286
    Rep Power
    21

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Perkara Netiquette: Troller? Abaikan Saja!

    Pertama kali mendengar kata trolling saat saya memancing di laut dalam, di sekitar Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, beberapa tahun silam, bersama Ilham Mattalatta, adik penyanyi lawas Andi Meriem Mattalatta. Rupanya trolling sering dipakai di dunia memancing ikan di laut dalam. Beberapa kail fiber dipasang di buritan sementara kapal melaju dalam kecepatan tertentu. Kail yang telah dipasangi umpan terbawa di kedalaman tertentu, menggugah ikan barracuda yang lahap mengejarnya. Ketika umpan tersantap, kailpun melengkung sampai membentuk busur, sementara bunyi gulungan senar atau tali kail terulur karena menahan entakan barracuda. Orang yang memancing dengan cara trolling ini tidak disebut troller, tetapi tetap saja fisherman.

    Saya menikmati betul memancing dengan cara trolling ini di dunia nyata, yakni memancing ikan!

    Belakangan ketika dunia internet mewabah dan menggejala sebagai bagian dari gaya hidup (bahkan kebutuhan) sehari-hari, saya kembali menemukan kata trolling ini. Jika dalam dunia memancing trolling berkonotasi baik, trolling dalam dunia internet berkonotasi buruk.

    Dalam dunia internet, trolling diartikan sebagai seseorang yang mempostingkan tulisan atau pesan menghasut dan tidak relevan dengan topik yang dibicarakan di komunitas online seperti forum, chatting, dan bahkan blog. Tujuannya adalah memprovokasi dan memancing emosi para pengguna internet lainnya agar jalannya diskusi yang tengah berlangsung menjadi kacau. Dalam dunia internet, pelaku trolling ini disebut troller. Kalau Anda mencari padanannya dalam dunia nyata, troller bisa suka-suka Anda artikan sebagai provocateur alias provokator!

    Sebagai insan manusia, tentu saja saya memilih trolling di dunia nyata (memancing) daripada trolling di dunia maya (provokator). Trolling di dunia nyata saya pernah melakukannya, trolling di dunia maya sebisa mungkin tidak akan pernah saya melakukannya. Bukan apa-apa, bila saya melakukan trolling di dunia maya sebagai provokator, saya kuatir disebut orang yang tidak bernetiket (netiquette) alias netter yang tidak tahu sopan santun.

    Ketika di dunia nyata kita menemukan orang yang tidak tahu sopan santun, maka ucapan yang pantas untuknya adalah, “Kawan, kau ini hidup dan dibesarkan di hutan mana sehingga tidak ada yang mengajarimu peradaban!”. Sama, ketika di dunia maya kita menemukan orang yang tidak tahu sopan santun, maka teriakan yang pantas untuknya juga, “Kawan, kau ini hidup dan dibesarkan di hutan mana sehingga tidak ada yang mengajarimu peradaban!”

    Kompasiana sebagai bagian dari dunia maya, tidak bisa lepas dari para troller ini. Maka kita bisa melihat dan membaca postingan-postingan yang menghasut bangsa yang hidup tenang di bawah naungan NKRI agar menjadi berpikir separatis. Ada postingan yang mengganggu ketenangan hidup pemeluk agama tertentu dengan mengusik usil keyakinan yang dianut pemeluk agama tersebut. Ada postingan yang menghina suku (etnis) tertentu, padahal etnis yang diperkarakannya sungguh tidak berbuat “dosa” atau ulah aneh sedikitpun. Ada postingan yang menghasut Kompasianer agar membenci tokoh A atau B, dan seterusnya, tanpa dasar kuat. Hanya mengebom begitu saja, mengebom postingan-postingan yang menghasut itu tadi, seakan-akan tanpa dipikir dan dilakukan di luar nalar (untuk mengatakan sebagai “di luar akar sehat”).

    Mengapa mempostingkan sesuatu harus dengan nalar baik? Contoh sederhana, jika Anda pria yang tertarik pada seorang perempuan cantik, unutk menarik hatinya janganlah Anda menjelek-jelekkan (menghina) para pria saingan Anda yang juga tertarik kepada gadis itu. Bukankah sebaiknya Anda menunjukkan kebaikan-kebaikan Anda kepada gadis itu daripada harus menjelek-jelekkan saingan Anda? Kalau dia gadis yang waras, tentu dia akan langsung antipati dan langsung “mengusir” Anda pergi.

    Lagi, ketika Anda menawarkan barang baru kepada seseorang, janganlah menjelek-jelekkan barang lama. Boleh saja Anda mau mendirikan negara baru sebagaimana yang Anda inginkan, tetapi please jangan menjelek-jelekkan negara yang sudah ada dan settle. itu bisa memancing kemarahan warga negaranya. Ini sekadar contoh kecil berpikir dengan nalar yang sehat!

    Idealnya, sesama Kompasianers memang tidak selayaknya saling serang atau berlomba-lomba menjadi troller demi memancing ramainya komentar sebuah postingan. Bukankan diskusi sekeras apapun, kalau itu masih terkait dengan topik yang dibahas atau diskusi yang merujuk ke referensi, tidak dilarang dan bahkan justru dianjurkan? Pertanyaannya, bagaimana menghadapi para troller ini?

    Tim O’Reilly, netter yang pernah mengusulkan adanya kode etik blogger menegaskan, sebaiknya abaikan saja para troller ini. Abaikan. Jangan Hiraukan. Kira-kira demikian usulannya. Artinya, para netter atau blogger (dalam hal ini Kompasianer) jangan terpancing dengan umpan yang dilempar para troller ini baik dalam dalam bentuk postingan maupun komentar. Dengan mengabaikan semua postingan yang mengarah ke hujatan, hasutan, cacimaki, mempertantangkan SARA, dan pencemaran nama baik, niscaya para troller akan frustasi sendiri. Mereka akan senewen sendiri.

    Lengkapnya usulan O’Reilly adlah sebagai berikut:

    1. Bertanggung jawab tidak hanya kepada kata-kata sendiri, tetapi juga komentar-komentar yang Anda izinkan termuat dalam blog Anda.
    2. Menandai komentar-komentar yang mulai bernada makian
    3. Pertimbangkan untuk menghapus komentar-komentar anonim
    4. Abaikan troller
    5. Upayakan percakapan offline dan bicara langsung, atau cari penengah yang bisa mengatasi masalah
    6. Jika Anda tahu seseorang berprilaku buruk, beritahu saja mereka
    7. Jangan katakan sesuatu apapun secara online yang tidak akan Anda katakan secara pribadi.

    Banyak sebenarnya netiket atau etika berinternet yang selayaknya diketahui para netter, termasuk para Kompasianer. Apalagi di dunia maya kita kerap bersinggungan dengan masyarakat yang tingkat peradabannya berbeda, bisa peradaban lebih maju dari kita, atau sebaliknya lebih rendah. Akan tetapi, netiket tidak pernah membedakan tingkat peradaban semacam itu. Bukan apa-apa, saat kita bersepakat untuk menjadi anggota suatu komunitas, katakanlah menjadi Kompasianer, kita tidak berniat mencari musuh, bukan? Yang kita cari adalah teman diskusi, sekeras apapun diskusi kita yang kita lakukan.

    Di dunia internet, situs beken sekaliber Youtube maupun Facebook pun tetap memberlakukan perlakuan keras terhadap para pelanggar netiket ini. Seliberal apapun, Youtube tidak akan pernah menayangkan video cabul atau adegan sadis dan adegan pelecehan terhadap golongan atau agama tertentu. Demikian juga Facebook. Sanksi terhadap pelanggaran berupa penutupan akun kepada netter yang melanggar aturan yang tertuang dalam term of condition tetap diberlakukan.

    Sebagai bagian dari dunia maya, saya rasa Kompasiana pun memberlakukan hal yang sama demi kebaikan bersama.
    argumentasinya yang didebat dan didiskusikan bukan orangnya.. kecuali tong kosong.

  9. #9
    Contributor arsya's Avatar
    Join Date
    Aug 2009
    Location
    dUnIa KhAYaLaN
    Posts
    3,943
    Rep Power
    9

    Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    SETUJUUUUUUUHHHHHH...

    biarkan saja orang mau koar2 di trit nasional.. wong ketauan ko syp yang pinter syp yang ga.. kebanyakan semua kompor.... semakin banyak ngomong semakin ketauan OONnya..

    Makanya gw sering maen di "bawah" aja.. lebih berasa...
    don't judge a person coz you don't walk on that man shoes

  10. #10
    Super Moderator rulz's Avatar
    Join Date
    Jan 2008
    Location
    Jakarta, Indonesia, Indonesia
    Posts
    1,555
    Rep Power
    16

    Smile Re: Nettique (Etika Berinternet): Menanggapi Thread SARA dan Hujatan

    Quote Originally Posted by Expired2 View Post
    trims, rulz....

    tapi kliatannya ini memang ada segerombolan begundal yg memang sengaja datang kemari utk ngacak2 forum.
    Di cuekin aja ya
    Ntar juga cape sendiri

Page 1 of 13 1234567891011 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Content Relevant URLs by vBSEO 3.6.0