Ibuku Menjahit Sayap
...
Ibuku. Ibuku adalah sayap. Ibuku adalah sayap yang cantik. Lebih tepatnya lagi, ibuku adalah pembuat sayap yang cantik. Hampir sepanjang kemampuanku merekam keberadaannya dalam ingatanku, tidak pernah sekalipun terbayang dirinya tanpa sepasang rangka sayap raksasa yang selalu ada di pangkuannya setiap malam, setiap hari dalam hidupnya. Rangka sayap itu begitu besar dan kokoh, dan diatasnya, tersulam dengan rapi ratusan bahkan ribuan helai-helai bulu halus putih yang dijahitkan oleh ibu satu demi satu pada malam demi malam.
Aku ingat, ketika usiaku belum genap delapan tahun, pernah aku bertanya pada ibu untuk apa ibu menjahitkan ratusan bahkan ribuan helai-helai bulu halus putih itu setiap malam pada sepasang rangka sayap raksasa itu. Untuk membuat sayap, begitu katanya, sayap yang bisa membawa terbang, lanjutnya lagi sambil menyunggingkan senyum cantik, senyum paling cantik yang pernah kulihat. Lalu ibu akan memintaku mengambilkan sebuah keranjang kayu yang teronggok di sudut ruangan untuk diletakkan di dekat kakinya yang terus saja menjahit helai-helai bulu halus putih pada rangka sayap itu. Kulongok isi keranjang, isinya helai-helai bulu halus putih lagi, saling bertumpukan seperti kapas yang baru dipetik dari pohonnya.
Lalu aku ingat, ketika itu aku juga sempat bertanya, dari mana Ibu mendapatkan helai-helai bulu itu. Begitu halus, lebih halus dari helai bulu apapun yang pernah kusentuh. Juga, begitu putih dan murni, tidak ada setitikpun noda ataupun bercak diatas halusnya. Dan entah bagaimana caranya dan darimana mendapatkannya, setiap malam, keranjang kayu itu selalu saja dipenuhi helai-helai bulu halus putih yang baru, meskipun pada malam sebelumnya, kesemuanya telah ia jahitkan pada sepasang rangka sayap raksasa itu.
Helai-helai bulu halus ini, datang dari cinta, anakku. Kata ibu ketika itu.
...
bersambung
Bookmarks