Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 12

Thread: Bantu Milih yuk... Orang-orang Hebat yang Menginspirasi Indonesia


  1. #1
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Bantu Milih yuk... Orang-orang Hebat yang Menginspirasi Indonesia

    SAATNYA INDONESIA MEMILIH PERAIH DANAMON AWARD 2010
    Panel Juri tetapkan 10 Finalis;
    Periode Voting Dibuka dari 8 September 21 Oktober 2010

    Panitia Pelaksana Danamon Award 2010 hari ini mengumumkan 10 finalis Danamon Award 2010, yang diantaranya berasal dari Sumatera Barat, Jawa, Bali, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Lingkup kegiatan yang dilakukan pun sangat beragam, diantaranya dalam hal lingkungan hidup, hak azasi manusia dan kesehatan. Para finalis ini terpilih setelah melalui proses seleksi, penjurian dan verifikasi selama bulan Agustus dan awal September, yang melibatkan lebih dari 200 kandidat dari seluruh Indonesia.

    Mulai hari ini hingga 21 Oktober 2010 mendatang, Danamon Award mengundang masyarakat luas untuk mengenal para finalis lebih jauh dan selanjutnya memberi dukungan suara melalui voting online dan sms untuk memilih tiga peraih Danamon Award 2010 terfavorit. "Segenap masyarakat Indonesia bebas memilih finalis favoritnya sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010 melalui situs www.danamonaward.org/finalis-2010 ataupun pesan singkat (SMS) ke nomor 9123 dengan format "DA [nomor kode finalis]", jelas Zsa Zsa Yusharyahnya, Organizing Committee Head Danamon Award. Contoh: ketik "DA 1" untuk memilih finalis nomor satu.

    Panel juri telah menetapkan sepuluh finalis berdasarkan lima kriteria, yaitu: Semangat Bisa dan keberhasilan dalam mengatasi tantangan; hasil (output) dari kegiatan yang dilaksanakannya; kemajuan yang dihasilkan bagi lingkungan sekitar (outcome); dampak meningkatnya pengetahuan dan kemampuan komunitas serta orang-orang yang terlibat, termasuk tingkat ketertarikan para pihak ketiga untuk mendukung dan membantu pengembangannya kedepan (impact); dan keberlanjutan kegiatan (sustainability).

    Panel Juri Danamon Award 2010 terdiri dari Mira Lesmana (Produser film), Prof. Yohanes Surya, Ph.D (Guru besar fisika, Rektor Universitas Multimedia Nusantara), Firmanzah, Ph.D (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), Shinta Dhanuwardoyo (Pengusaha, IT Icon Indonesia) dan Desi Anwar (Wartawan, penulis, presenter, dan produser senior). Disamping para juri, Danamon Award 2010 menghadirkan Panel Penasehat yang mendukung Panel Juri dalam mengevaluasi para kandidat. Panel Penasehat ini terdiri dari jurnalis dan aktivis lingkungan Gouri Mirpuri, praktisi pemberdayaan Ade Suwargo Mulyo, dan Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli Bonaria Siahaan.

    "Profil dari para finalis sangat menarik dan beragam. Masing-masing menunjukkan semangat mewujudkan yang terbaik bagi orang banyak, dan keberhasilan dalam mengatasi rintangan yang berat," kata Mira Lesmana, salah satu juri Danamon Award 2010.

    Adapun profil singkat dari kesepuluh finalis Danamon Award 2010 adalah sebagai berikut:
    1. Pahlawan Pustaka, DA 1

    Dengan sepeda onthel-nya, Kiswanti (43 tahun) rutin berkeliling meminjamkan buku koleksinya secara gratis. Dia bahkan lebih rela dibayar buku dari pada uang. Semangat ingin maju dan memajukan orang lain membuat isteri buruh bangunan ini bisa berbagi ilmu melalui buku, melalui sebuah taman bacaan di Parung, Bogor, yang ia dirikan tahun 2003.

    2. Pahlawan Pustaka, DA 2

    Eky Talaut (55 tahun) asal Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku, ini menciptakan seratus lagu berbahasa daerah dan tiga alat musik berbahan baku bambu. Dengan lagu dan alat musik, ia mengenalkan daerahnya kepada Indonesia dan dunia. Melalui karyanya, kawasan Pulau Kei pun semakin dikenal masyarakat luas.

    3. Komunikator Nasionalis, DA 3

    Erwan Asbun (43 tahun), menjawab sepinya kehidupan di desa terpencil, Baun Bango, Katingan, Kalimantan Tengah yang sebelumnya tanpa sarana komunikasi. Ia mengudarakan Radio Asbun sejak tahun 2005 sebagai sarana informasi dan hiburan. Radio ini bahkan mampu menghilangkan kebiasaan berkelahi massal yang sering terjadi disana.

    4. Pembela Petani, DA 4

    Bersama teman petaninya, Masril Koto (36 tahun) warga Agam, Sumatera Barat ini berupaya mengatasi kesulitan modal para petani dengan mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani. Dari modal Rp500 ribu, LKMA yang diresmikan tahun 2007 tersebut saat ini menjadi model pendanaan bagi para petani di Sumatera Barat.

    5. Jampang Penghijau, DA 5

    H. Chaeruddin / Bang Idin (54 tahun), warga Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini prihatin melihat Kali Pesanggrahan yang jadi tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga. Dia menyusuri hulu kali ini sejauh 136 km untuk membersihkan dan membangun kesadaran warga agar menjaga kebersihan kali. Bersama temannya sesama petani, Bang Idin telah menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali.

    6. Lupus Champion, DA 6

    Walau kondisi kesehatan menurun akibat Lupus yang diderita sejak 1999, Dian Syarief (45 tahun) mampu mengomandani relawan dalam program Care for Lupus dan Care for Low Vision sejak 2003. Ketua Syamsi Dhuha Foundation Bandung ini bersama relawan melakukan berbagai aktivitas dan menerbitkan buku untuk membantu meringankan penderitaan para pengidap Lupus.

    7. Pembuat Mainan, DA 7

    Dengan kondisi kehilangan kaki dan saraf tangan mati, Tarjono Slamet (38 tahun) membangun usaha Mandiri Craft di Bantul, Yogyakarta yang membuat aneka mainan kreatif. Untuk menjalankan usaha, si Pembuat Mainan merekrut 25 karyawan para penyandang polio di Solo, Semarang, Banyuwangi, Magetan dan Gunung Kidul.

    8. Seniman Pemersatu, DA 8

    Melalui pembauran budaya, Soeria Disastra (65 tahun) warga Bandung ini berusaha menjalin ikatan kekeluargaan yang lebih erat antara etnis Tionghoa dan masyarakat sekitar. Ia menjadi penyebar virus kebudayaan Sunda di Kalangan Etnis Tionghoa melalui Paduan Suara Kota Kembang, Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan dan Komunitas Sastra Tionghoa Indonesia.

    9. Pendekar Anak Terlantar, DA 9

    Wayan Nika Msi (60 tahun), guru berstatus pegawai negeri sipil ini menunjukkan kepedulian tinggi terhadap anak terlantar, baik yatim piatu maupun anak tidak mampu. Melalui Panti Asuhan Hindu Dharma Jati I di Klungkung dan Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II di Denpasar, Pendekar Anak Jalanan ini berhasil mendidik 1.400 anak yang kini sukses bekerja di berbagai hotel di Bali dan profesi lainnya.

    10. Pejuang Martabat, DA 10

    Lilik Sulisyowati (51 tahun), aktivis Yayasan Abdi Asih Surabaya, Jawa Timur ini memberi pendampingan dan penyadaran untuk pekerja seks komersial (PSK) di kawasan lokalisasi Dolly Surabaya. Ia membekali mereka keterampilan menjahit, memasak dan kecantikan. Ia juga mencegah pelacuran anak bawah umur dan menyadarkan anak usia SMP pelanggan PSK. Yayasan tersebut digerakan dengan modal awal menjual rumah sendiri.


    Klik VOTE

  2. #2
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Tujuh Ribu Buku dan Tujuh Komputer dari Jualan Jamu yang hanya dibayar Buku



    Pahlawan Pustaka

    Usia : 43 tahun
    Profesi : Ibu Rumah Tangga
    Domisili : Parung, Bogor
    Kegiatannya : Taman Bacaan, Warung Baca Lebak Wangi (Warabal)

    Setelah mampu membeli sepeda, Kiswanti berkeliling meminjamkan buku sambil berjualan jamu gendong buatan sendiri.

    Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Kiswanti bahwa taman bacaan yang dirintisnya bakal berkembang seperti ini. Walau sederhana, kini taman bacaan yang dinamai Warabal (Warung Baca Lebakwangi) berfungsi bagaikan pusat studi yang lengkap. Terletak di Desa Pemagar Sari di Parung Bogor, Warabal memiliki 7.515 judul buku (di luar buku sekolah dan majalah), 7 unit komputer (satu unit di antaranya dengan akses internet) dan motor boks yang siap berkeliling ke 4 kecamatan untuk peminjaman buku. Anggotanya mencapai 1.725 orang, dengan rentang usia antara 5 hingga 50 tahun.

    Aktifitas di Warabal pun sangat beragam, mulai dari PAUD, TPA, belajar mengaji, menjahit, menyulam, tari tradisional, angklung dan komputer. Juga diadakan les bahasa Inggris, pengetahuan alam, dan matematika. Dibantu oleh 15 sukarelawan pengajar yang terdiri dari mahasiswa maupun dosen. Bahkan ada program character building selama dua hari, berupa permainan outbound dan sharing tentang lingkungan yang bertujuan membentuk karakter positif pada anak. Sebagian fasilitas dan kegiatan tersebut gratis. Kalaupun ada biaya, nilainya sangat terjangkau oleh masyarakat kecil.

    Dengan berbagai pekerjaan serabutan, termasuk mencari dan menjual biji melinjo, sejak 1980 (setelah lulus SD) hingga 1987 Kiswanti berhasil mengkoleksi 1.500 buku. Tahun 1987, Kiswanti ke Jakarta, menjadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga Filipina yang memiliki perpustakaan pribadi. Ini membuat semangatnya semakin berkobar. Di tahun ini pula wanita kelahiran 4 Desember 1963 ini bertemu Ngatmin, seorang tukang bangunan. Mereka menikah setelah Ngatmin mendukung cita-citanya mewujudkan perpustakaan.

    Tahun 1994 mereka pindah ke Parung setelah membeli tanah dan membangun rumah di sana. Saat itu Kiswanti langsung menyadari tantangan yang lebih berat: kondisi desa yang masih tertinggal (tidak ada listrik dan telepon), rendahnya kesadaran terhadap pendidikan akibat faktor ekonomi dan perangai anak-anak yang sering berbicara kasar. Untuk memperbaiki hal tersebut perlu pendekatan terhadap masyarakat. Dan upaya tersebut menjadi bertambah sulit karena status yang melekat pada dirinya. "Saya adalah pendatang baru, hanya lulusan SD dan mantan pembantu rumah tangga," ujar ibu dua anak ini.

    Upaya pendekatan pun dilakukan Kiswanti dengan menerapkan kehidupan gotong-royong, menjenguk tetangga yang sakit, membantu menimba air, menyapu jalan, dan mendekatkan diri dengan orang-orang lanjut usia. Selain itu ia mengajak anak-anak bermain di rumahnya, memperkenalkan belajar membaca dan wisata pendidikan keliling kampung dengan mengunjungi SPBU, puskesmas, sawah dan lain-lain. "Anak-anak melakukan wawancara dan yang membuat laporan mendapat hadiah," jelas Kiswanti. Setelah mampu membeli sepeda, Kiswanti berkeliling meminjamkan buku sambil berjualan jamu gendong buatan sendiri.

    Namun, tak semua warga bisa menerima apa yang dilakukannya. Kiswanti sempat mendapat penolakan besar-besaran, karena warga beranggapan untuk mencari makan saja susah, apalagi untuk belajar.

    Tahun 2003 akhirnya Kiswanti berhasil mewujudkan cita-citanya: perpustakan sederhana di rumahnya sendiri. Tapi bukan berarti Warabal tidak mengalami hambatan. Koleksi 1.500 buku di Yogya musnah dilahap banjir pada tahun 2006, padahal buku-buku tersebut rencananya dibawa ke Parung untuk menambah koleksi. Anak pertamanya pun sempat tertunda masuk universitas karena uang tabungannya digunakan untuk menambah buku-buku Warabal.

    Kini, keberadaan Warabal semakin diakui. Operasional Warabal saat ini bersumber dari iuran berbagai kegiatan dan honorarium Kiswanti saat menjadi pembicara. Untuk buku, Warabal mendapat sumbangan dari sejumlah donatur. Tujuan utama Kiswanti melalui Warabal adalah agar anak-anak di lingkungannya mendapat pengarahan, tidak lagi membeda-bedakan suku, saling berempati, gotong-royong dan bersikap santun. "Anak-anak tidak harus pandai, tapi yang penting bisa mengekspresikan diri dan percaya diri," ungkap Kiswanti.

    Tapi selain untuk anak-anak, Kiswanti juga mengajak kaum ibu belajar memasak dari buku, di mana bahan-bahannya dibeli patungan supaya terjangkau. Sedangkan kaum bapak diajak memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam yang caranya dipelajari dari buku. Juga ada gerakan wajib menabung Rp. 5.000/bulan melalui pertemuan kelompok ibu-ibu sebulan sekali yang anggotanya berjumlah 300 orang. Pertemuan tersebut menarik karena sang tuan rumah harus menjadi pembicara setelah sebelumnya membaca buku. Tema buku bebas, bisa tentang tanaman, kesehatan, atau apa saja sesuai keinginan calon pembicara. Pertemuan tersebut diikuti oleh 450 rumah tangga yang dibagi dalam 9 kelompok.

    Menurut Kiswanti, hasil berbagai kegiatan di Warabal terlihat dari anak-anak yang lebih menghargai waktu, tidak lagi memandang teman dari suku, serta pihak sekolah menyatakan bahwa nilai dan sikap anak-anak lebih baik. Yang menggembirakan, keinginan berbagi ilmu juga menular ke sejumlah anak-anak peserta kursus. Mereka yang lebih senior kerap membantu mengajar, termasuk putra-putri Kiswanti - Afief Priadi (20 tahun) dan Dwi Septiani (15 tahun) - yang membantu mengajar bahasa Inggris dan komputer. "Bahkan Dwi bercita-cita menjadi guru," ujarnya bahagia.

    Walau banyak berperan dalam perkembangan Warabal dan pendidikan di lingkungannya, Kiswanti tidak mau menjadi tokoh tunggal. Ia lebih menginginkan adanya peran serta masyarakat. "Intinya pemberdayaan dan kemandirian masyarakat," jelas wanita yang akrab disapa Bude Is ini. Ia pun kini tidak lagi memegang majelis taklim dan tabungan bulanan. Dan Kiswanti bersyukur memiliki masa lalu yang sulit sehingga bisa menjadi pembangkit semangat bagi mereka yang mengalami nasib serupa.

    Kiswanti berhasil membuktikan, dengan segala keterbatasan pada dirinya dan pada lingkungannya, ia berhasil meraih apa yang dicita-citakannya. Memandang segala kelemahan yang dimilikinya sebagai kekuatan untuk berbagi dengan sesama. Membangkitkan gairah untuk menimba ilmu bagi kaum tak berpunya.

    Kamu mau ngasih buku buat nambah koleksi Ibu Kiswanti?
    klik VOTE + komentarnya ya...

  3. #3
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Tiga Alat Musik Bambu diciptakannya... Mantap!


    Usia: 55 tahun
    Domisili: Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku
    Kegiatannya: Mengenalkan daerah Kei, dengan Menciptakan lagu dan alat musik daerah Kei, Maluku Tenggara

    Putra Zakarias Talaut dan Martenci Talaut-Tarantain ini Lahir di Ohoira, 25 April 1955. Pemilik nama lengkap Jeheskel Talaut itu tumbuh di Pulau Tanimbar, Kei, Maluku Tenggara karena mengikuti ayahnya. Eky kecil, pun kemudian pindah ke Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku tanah asal nenek moyangnya sembari menamatkan SD. "Di Tanimbar bila sudah malam, kami bersaudara berkumpul bernyanyi dan bermain gitar hingga malam. Hanya itu hiburan ketika itu di pulau terpencil," kata dia.Kehidupan keras pun dilakoninya, mencabuti rumput liar di kebun ketela menjadi kesehariannya selain berjualan tomat dan cabai.

    Satu hal yang terus dilakukannya entah di rumah, di kebun, di pantai atau di pasar adalah bernyanyi. "Saya selalu bernyanyi dalam keadaan sedih maupun senang," kata Eky Talaut, mengenang. Matanya menerawang kehidupan kanak-kanaknya yang serba sulit. Air nampak mengambang di matanya. "Hidup yang sangat-sangat susah," ujarnya. Suaranya bergetar menahan perasaanya.

    Setamat SMP, ia pun hijrah ke Ambon. Ketiadaan biaya membuat ia harus merantau untuk menghidupi dirinya. Petualangan di Ambon pun dijalaninya dengan keras. Hingga, nasib membawanya sampai bekerja di kapal pencari ikan. "Waktu itu jabatannya Pembantu Stirman Satu," katanya, sambil merasa bingung kalau kedudukannya itu sekarang di dunia maritim disebut apa.

    Toh, buatnya tak penting posisi. Bagainya adalah ada pendapatan yang bisa membuatnya memiliki gaji untuk mengganjal perutnya setiap hari. Ia mengingat, kesenangan pada dunia musik yang ditularkan ayahnya tak sirna. "Ayah saya bahkan membuat biolanya sendiri," katanya. Bernyanyi dan bermain gitar menjadi kesehariannya yang lain.

    Permainan nasib. Semua tak semudah membalik telapak tangan. Petualangannya di Jakarta menembus studio rekaman tak juga mujur dilakoninya. Bahkan, meminta Bob Tutupoly -penyanyi asal Maluku yang tenar saat itu dengan lagu "Widuri"- untuk menjadi mentornya tak membawa sambutan baik.

    Putus asa? Tentu saja tidak dilakukan putra Desa Taar, Kota Tual ini. Ia terus mencari celah mengharap peruntungan lebih baik. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Jakarta bukan tempat yang hangat menyambut kesungguhan hatinya, untuk menjadi penyanyi dan mengikis asumsi bahwa orang Kei hanya bisa "berkelai" saja.

    Surabaya menjadi kota tujuan selanjutnya. Di Kota Pahlawan ini, keberuntungan memihaknya. Sebuah studio musik menawarkannya rekaman. Take vocal dilakukannya di Surabaya, sementara musik diisi di Ambon. Sebanyak 12 lagu daerah pun diciptakannya sendiri. Hingga, di akhir 1970-an, terkenallah ia di Maluku dan sekitarnya dengan single terkenalnya "Did". "Lagu itu tentang kerinduan kepada ibu. Setelah kita berhasil untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu tapi dia sudah meninggal," ujar Eky.

    Maka, kalau sekarang disebut road show, itu dilakukan pula Eky Talaut di Maluku dan Kepulauan Kei. Popularitasnya mulai menanjak. Hingga di Tual, ia bertemu Adonia Rahantoknam, pegawai di Dinas Penidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tual, Maluku Tenggara. "Saya jatuh hati. Kemudian menikahinya dan tinggal di Kota Tual ini dengan berbagai problema kehidupan dan meninggalkan popularitas yang pernah saya genggam," katanya. Segaris senyum muncul di wajah kerasnya. Nampaknya sebuah keputusan yang tak disesalinya. Hingga buah pernikahan mereka lahir, Dita Talaut, Presley Talaut, dan Florense (Neti) Talaut.

    Sebuah tikungan tajam dalam hidupnya dipilihnya. Sosok yang mulai menikmati ketenaran ini memilih kembali ke kampung halamannya. Hidup sangat sederhana. "Rumah ini saya bangun dengan tangan saya sendiri. Benar-benar dari keringat dan tangan ini," kata Eky, sembari mengepalkan tangannya. Rumah di Jalan Gajah Mada, Kota Tual, itu begitu membekas dan menorehkan catatan emas perjalanan hidupnya.

    Lagu-lagu yang diciptakannya sangat membumi dari kehidupan sehari-hari, mulai mengenalkan arah mata angin kepada anak-anak hingga kejadian sehari-hari yang ditemuinya di sekitarnya. Misalkan, pada 1985, ketika sebuah perahu membawa orang-orang menyeberang pulau untuk beribadah karam -hanya tiga orang yang diselamatkan lumba-lumba--, ia pun pada 1986 menciptakan lagu "Masasuhun Ohoi Somlaen" atau "Desa Somlaen Bergelimang Air Mata".

    ***

    Satu hari pada 2002, kisah penciptaan ini bermula. Suara gesekan bambu tertiup angin yang selalu didengar, mengusik Eky Talaut. Gagasan pun muncul seiring keprihatinannya terhadap ketidakberadaan seni musik tradisional, khususnya di daerah asalnya: Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku. "Suara bambu itu terdengar indah. Bahkan daun-daunnyapun yang saling bergesekan terdengar merdu," kata Eky. Tak ada yang menyangka bahwa pria berpembawaan keras ini, memiliki kelembutan dalam hatinya.

    Ia mulai meretas ide itu. Kemudian mulailah perjalanan "spiritualnya" menciptakan alat-alat musik dari bambu. Bilah-bilah bambu itu dicarinya, kemudian diusahakannya memiliki nada-nada sesuai birama dalam standar musik internasional. Proses itu bukan perkara mudah, tidak saja upayanya menaklukkan bambu-bambu itu hingga menghasilkan nada-nada yang sesuai, bahkan telapak tangan pun kerap terluka saat bilah-bilah bambu itu patah atau lepas dari ikatan.

    Upaya membuat bambu yang tak dilirik orang ini, menjadi alat musik tradisional sangat mengobsesinya. "Saya bisa duduk di bawah pohon nangka depan halaman rumah berjam-jam untuk membuat bambu-bambu ini bersuara," katanya, bercerita.

    Semua, sebatang bambu ia beri lubang dan buatkan senar dari kulit bambu. Tak mudah menemukan nada yang diinginkannya. Berkali-kali dicobanya. Kalau tidak bambunya patah, senarnya tak bersuara, atau nadanya tak sesuai dengan standar internasional. Singkat cerita, jerih upaya tak kenal putus asa itu berbuah hasil. Sebilah bambu "ngunit" itu pun akhirnya bersuara dengan cara dipetik. Namun, nada itu tak lengkap. Supaya lengkap ia pun membuat dua lubang dan senar lainnya di sisi lain.

    "Saya bawa alat musik itu ke kantor. Tak ada satupun yang memperhatikan, apalagi memberikan apresiasi," kata Eky. " Tapi saya cuek saja. Setiap ada waktu saya mainkan," kata dia.

    Dalam olah pikirnya, alat musik itu tidak efisien. Karena cara memainkannya jadi agak rumit, karena satu tangan memetik dan satu jemari lainnya membolak-balik bilah bambu itu kesana-kemari. Akhirnya, ia menyempurnakan dengan membaginya menjadi delapan bilah bambu, masing-masing satu nada. Ia membagi masing-masing empat bilah bambu. Alat pertama hasil karya ciptanya itu dinamakannya Leiswanwan, itu berkaitan dengan kapal (perahu) adat di Desa Taar.

    Semangatnya tak kendur. Ia terus mengembangkan alat musik bambu temuannya itu, tanpa bantuan siapapun. Hingga akhir 2006, dua alat musik lainnya diciptakan Eky Talaut. Semuanya dari bambu, yaitu Ekal (dari singakatan namanya) berupa alat musik gesek dengan empat senar dari kulit bambu. "Membuatnya berbunyi pun bukan hal mudah. Saya terus mencoba dengan berbagai alat untuk penggeseknya mulai bambu hingga ijuk tapi tidak berbunyi juga. Akhirnya, bisa bunyi dengan tapi yang saya jalin sendiri," katanya.

    Filosofi adat sangat kuat dalam diri Eky dalam mencipta, sehingga berbagai ornamen pun disesuaikan dengan nilai-nilai adat istiadat yang dijunjungnya. Misalkan dari dua Ekal ciptaannya, satu dengan kepala perahu adat dan satu lagi berkepala ornamen emas Desa Taar.

    Dibuat pula Dehir (nama gerbang Desa Taar), alat musik ini terdiri dari delapan batang bambu yang mampu menyuarakan nada "do-re-mi" dan seterusnya dengan cara memainkannya melalui dipukul. Lengkaplah sudah tiga alat musik bambu ciptaannya.

    Eky Talaut yang tahun ini telah pensiun sebagai pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tual (terakhir golongan III) ini, menunjukkan betapa semangatnya yang tak putus itu berhasil membuahkan hasil. Ketiga alat musiknya itu dipadukan dengan tetabuhan tifa-tifa.

    Khusus mengenai Berce ini. Sebelumnya, di Desa Taar ia dikenal sebagai orang yang tak pernah bergaul, hidupnya hanya di hutan dan laut. Bahkan berhari-hari ia baru ke desa. Sosoknya sangat kaku. Namun, perlahan-lahan Eky Talaut berhasil membujuknya untuk bergabung dengan Sanggar Ekal. "Dia sekarang bisa bergaul dan perlahan-lahan kepercayaan dirinya tumbuh. Saya ingin menerapkan batu akhirnya bisa tembus oleh seni," kata Eky.

    Ia pun memelopori anggota sanggarnya untuk membuat tambak-tambak sebagai mata pencaharian sekaligus menjaga pohon-pohon mangrove di sebuah teluk dekat Desa Taar.

    Dan, atraksi musik bambu hasil inovasi Eky Talaut itu berhasil mencuri perhatian di Pameran dan Kesenian Nasional di Nusa Dua Bali pada 2007, bahkan pada Pesta Seni Maluku II (2009) menjadi juara pertama. Pada ajang Sail Banda 2010 lalu pun, Eky Talaut dan sanggarnya unjuk kebolehan dan menarik perhatian para peserta dari mancanegara.

    Ide itu makin menemukan bentuknya, namun Eky Talaut tetap bersahaja, "Saya hanya sebagai alat Tuhan menciptakan musik bambu ini. Saya berharap suatu saat Leiswanwan, Ekal, dan Dehir menjadi kebanggaan masyarakat Maluku Tenggara, dan Indonesia pada umumnya".

    Saat diwartakan kepada dirinya, bahwa ia masuk 10 Finalis Danamon Award 2010. "Semua berkat Tuhan. Jika sebelumnya tidak ada manusia yang melirik, maka Tuhan menunjukkan kuasanya saat ini," kata pria religius ini.

    klik VOTE + komentarnya untuk Pak Eky biar tambah terkenal di dunia Gan.

  4. #4
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Siaran radionya menghilangkan perkelahian massal yang sering terjadi


    Usia: 43 tahun
    Domisili: Desa Baun Bango, Kamipang, Katingan, Kalteng
    Kegiatannya: Membuat radio sebagai sarana informasi daerah

    Berusaha untuk mengubah nasib, tahun 1990 Erwan merantau ke Kalimantan Tengah, tepatnya ke Katingan, satu kabupaten yang jarak tempuhnya delapan jam dari ibu kota Palangka Raya.

    Awalnya, Erwan bekerja di sebuah perusahaan sawmill di Katingan, ibukota kabupaten di Kalimantan Tengah. Bekerja di perusahaan kayu waktu itu, bisa dibilang lebih dari cukup baginya yang masih bujangan.

    Dengan memiliki penghasilan yang cukup Erwan juga mampu membeli sarana hiburan seperti radio, bahkan televisi atau bahkan mengembangkan hobi lamanya, yaitu merakit radio pun dengan leluasa bisa kerjakan. Ia juga sering ke sebuah stasiun radio di Katingan. Hingga berkenalan dengan Erwin, salah seorang teman sesama penggemar stasiun radio itu.

    Selang tak beberapa lama, perusahaan sawmill tempat Erwan mencari nafkah, terancam bangkrut dan akhirnya tutup, akibat krisis ekonomi yang mendera negeri ini. Meski begitu, Erwan tetap bertahan di Katingan dengan mencari nafkah bekerja sebagai penyiar sebuah stasiun radio di desa Kereng Pangi yang selama ini menjadi idolanya.

    Namun, penghasilan sebagai penyiar baru, ternyata masih jauh dari cukup. Erwan pun mencoba mencari tambahan penghasilan dengan membuka jasa reparasi peralatan elektronik. Pekerjaan ini ia lakoni selama hampir empat tahun.

    Kendati begitu, kehidupan ekonomi Erwan dan istrinya tak juga membaik. Hingga akhirnya Erwan dan istrinya memutuskan untuk pulang ke Desa Baun Bango, kecamatan Kamipang, kampung halaman istrinya. Kala itu, tekadnya cuma satu, berladang. Sebab, hampir semua masyarakat di desa itu mencari nafkah dengan berladang atau sebagai nelayan.

    Hari-hari pertama di desa itu, dilalui Erwan tanpa persoalan. Namun, setelah hari berganti hari, bulan berganti tahun, kesepian dan kejenuhan menyergap diri Erwan. Terlebih saluran informasi seperti stasiun radio, televisi, apalagi koran dan majalah, tak menyentuh desa ini. Jangankan di Baun Bango, di ibukota kecamatan yaitu Kamipang saja, sarana hiburan dan informasi semacam itu tak bisa ia temui.

    Melihat keadaan ini, hati Erwan tergugah. Di tengah kegalauan menyelimuti benaknya itu, timbulah ide untuk membuat sarana informasi sekaligus menjadi saluran hiburan. Sesuai dengan ketermpilan dan pengetahuan yang ia miliki, Erwan bertekad mendirikan stasiun radio. Berbekal dana sebesar Rp6 juta dari tabungan yang dia miliki, Erwan memutuskan membeli peralatan sebuah stasiun radio. Padahal untuk membeli peralatan itu, ia harus pergi ke Palangka Raya, yang jarak tempuhnya 8 12 jam melalui jalan sungai. Bahkan bila air sungai sedang surut, perjalanan bisa mencapai 16 20 jam. Memang, dengan dana sebesar itu perlatan yang ia dapatkan masih jauh dari ideal.Tapi tekad telah bulat. Meski dengan peralatan yang seadanya, toh sejak 1 Juli 2005 stasiun radio itu telah berdiri. Stasiun radio yang kemudian diberi nama Asbun atau asal bunyi itu, awalnya hanya berkekuatan 12 Watt saja atau hanya mampu menjangkau satu desa saja. Jam mengudara pun hanya selama 6 jam sehari, karena saat itu listrik di desa ini hanya menyala selama 6 jam sehari. Baru enam bulan kemudian, listrik menyala hingga 12 jam, sehingga jam mengudara juga bertambah.

    Kendati masih memiliki banyak keterbatasan, namun masyarakat menyambutnya dengan penuh antusias. Tak ayal, rumah Erwan yang berada di RT 04, saban hari menjadi tempat berkumpul warga desa. Biasanya, mereka berkumpul selepas maghrib hingga pukul 22.00 Wita. Melihat antusiasme masyarakat itu, Erwan berusaha menambah daya jangkau radionya, hingga bisa menjangkau seluruh kecamatan. Tapi, hal itu masih terbentur pendanaan. Kekuatan radio pun bertambah menjadi 35 watt, dengan demikian bisa menjangkau tiga desa. Untuk operasional radio, Erwan membiayainya dengan membuka jasa perbaikan peralatan elektronik, serta ditambah dari hasil siaran berita duka, berita kelahiran, serta pengumuman atau undangan pernikahan dan acara pesta.

    Seiring dengan bertambahnya daya jangkau stasiun radio miliknya, permintaan dari masyarakat pun semakin bertambah. Banyak diantara mereka, minta agar Erwan mengudarakan penyuluhan pertanian dan kesehatan, serta hiburan karaoke. Bahkan, kini ada beberapa yayasan baik yang bergerak di bidang lingkungan, pendidikan, maupun kegiatan sosial lainnya yang mengajukan permintaan untuk mengisi acara di radio Asbun. Di antara mereka ada yang bersedia membayar untuk mengganti jam tayang.

    Manfaat lain yang tak disadari oleh Erwan, dengan adanya radio Asbun adalah, semakin berkurang atau malah hilangnya perkelahian massal yang sebelumnya sering terjadi antara satu kampung dengan kampung lainnya, antara satu desa dengan desa lainnya.

    klik VOTE + komentarnya untuk berbagi kebahagiaan dengannya....

  5. #5
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Tidak lulus sekolah dasar bukan halangan bagi Masril Koto membentuk lembaga keuangan


    Usia: 36 tahun
    Domisili: Agam, Sumbar
    Kegiatannya: Mendirikan LKMA untuk petani

    Tidak lulus sekolah dasar bukan halangan bagi Masril Koto membentuk lembaga keuangan khusus petani. Idenya bahkan diadopsi Departemen Pertanian.

    Apa yang dilakukan petani bila tiba-tiba alat bajak sawahnyanya rusak. Ia akan berjalan ke sana ke mari untuk mencari pinjaman yang belum tentu bisa didapat dengan cepat. "Inilah kesulitan ril yang dihadapi petani di lapangan," ungkap Masril Koto (36 tahun).

    Kondisi ini menginspirasi Masril membentuk lembaga keuangan untuk para petani. Menurutnya, lembaga ini perlu karena masalah petani lainnya, seperti soal bibit atau pupuk relative bisa diselesaikan sendiri oleh petani. Untuk pelatihan atau penyuluhan pertanian juga ada dinas pertanian. "Sementara akses modal untuk petani tidak ada," ujar pria yang tidak lulus sekolah dasar ini.

    Sejak 2002, Masril dan teman-temannya sesama petani bergerilya untuk membangun lembaga ini. Mereka mendatangi lembaga terkait untuk mewujudkan ide ini seperti perbankan dan dinas pertanian. "Untuk bertemu dengan lembaga-lembaga ini kami sangat terbantu oleh Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA)," ujar Masril. Yayasan AFTA adalah lembaga yang turun ke kenagarian (desa) di Sumatera Barat (Sumbar) memberikan penyuluhan pertanian.

    Ide ini sempat muncul dan tenggelam dalam diskusi para petani Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, sehingga bisa teralisasi pada tahun 2006 dengan nama Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Prima Tani. Setahun berjalan baik, lembaga ini dikunjungi Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono.

    Kepada Mentan, Masril mengusulkan agar lembaga ini diprakarsai Departemen Pertanian (Deptan) sehingga bisa berjalan dengan lebih baik. Akhirnya ide ini diadopsi Deptan menjadi program nasional dengan mencanangkan pembentukan 10 ribu lembaga keuangan pertanian di seluruh Indonesia. "Saya yang bukan orang sekolahan diundang tim Mentan mendiskusikan hal ini di Jakarta dan di Padang," ujar Masril mengenang.

    Melalui program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) akhirnya Deptan mengucurkan bantuan pembentukan LKMA melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) sebesar Rp 100 juta per unit. Dana ini diambilkan dari Program PMPN Mandiri di bidang pertanian.

    Di Sumbar sendiri berdiri 208 unit yang sampai sekarang berjalan dengan baik. Diluar itu masih ada 50 unit LKMA yang didirikan dengan modal swadaya para petani. "LKMA terkecil saat ini beraset Rp200 juta, sementara yang terbesar hampir mencapai Rp2 miliar," Masril menjelaskan.

    Sangat banyak manfaat yang dirasakan petani dengan berdirinya lembaga ini. Yang utama adalah kemudahan mengakses modal. "Ketika mereka butuh dana bisa langsung meminjam. Termasuk ketika mereka perlu uang untuk biaya sekolah anaknya," ungkap Masril.

    Manfaat lain adalah mengatasi pengangguran anak-anak petani lulusan SMU. Mereka menjadi karyawan di LKMA. Rata-rata tiap LKMA memiliki 5 karyawan. Dengan 200 lebih LKMA di Sumbar cukup lumayan tenaga kerja yang tertampung. Banyak juga karyawan ini yang bisa melanjutkan kuliah dengan meninjam uang dari LKMA dan membayar cicilan pinjaman dari gaji mereka.

    Di sisi pendidikan, para petani dan anggota menjadi tahu cara mengelola lebaga keuangan karena semua diikutkan training saat awal pembentukan. LKMA juga jadi sarana penyebaran informasi yang terkait pertanian dengan mengorganisir petani megikuti training pertanian.

    Tentu banyak kendala yang dihadapi Masril dalam membagun lembaga ini. Yang utama adalah membangun rasa percaya diri para petani. Pada awalnya mereka merasa tidak mampu untuk membuat dan mengelola lembaga keuangan untuk diri sendiri. "Perlu beberapa kali pertemuan untuk memotivasi mereka."

    Selain itu, ketika lembaga telah terbentuk dan berjalan dengan baik, kerap terjadi gesekan antar anggota. Ada yang ingin jadi pengurus, pengelola dan sebagainya. "Hal ini kami atasi dengan pengaturan yang tegas soal pengurus, pengelola dan badan pengawas. Pengurus adalah wakil pemilik saham, pengelola adalah anak-anak para petani. Sementara badan pengawas diambilkan dari tokoh masyarakat setempat," jelas Masril.

    Hasilnya cukup baik. Satu contoh, LKMA Panampuang Prima di Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agm, yang berdiri pada 2008 dengan modal Rp 100 juta, saat ini sudah berkembang menjadi Rp240 juta. "Kami masih kekurangan dana untuk disalurkan. Para petani terpaksa harus antri dulu," ujar Shelfi, A.Md, manajer LKMA Panampuang Prima.

    Masril merasa bangga idenya berjalan baik dan dapat membantu para petani. Tetapi di benaknya masih banyak ide lain yang ingin direalisasikan. Di antaranya membuat asuransi dan dana pensiun untuk para petani. Ia juga ingin membuat skim khusus pembiayaan untuk pertanian organik.

    Masril sendiri saat ini tidak sempat lagi mengurus kebun, sawah dan ternaknya. Hari-harinya disibukkan kegiatan memberikan motivasi pembentukkan dan pengelolaan LKMA di berbagai daerah di Sumbar. Dinas Pertanian Provinsi Sematera Selata, Bangka Belitung, Jawa Barat, Bengkulu, dan Bali bahkan mengundang Masril untuk berbagi cerita pengelolaan LKMA. "Banyak jua undangan langsung dari petani," ujar Masril.

    Bank Indonesia Sumbar juga mengundang Masril untuk memberikan training kepada karyawan lembaga keuangan mikro (LKM) tentang pendekatan baru dalam melayani nasabah.

    Masril layak menjadi contoh. Dengan semangat bisa yang dimilikinya, ia berhasil meralisasikan idenya membantu para petani, kaumnya sendiri.

    klik VOTE + komentarnya biar petani berbagi dan tambah sejahtera.

  6. #6
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Bang Idin, Jawara yang berhasil menanam 40 ribuan pohon di sepanjang bantaran kali


    Usia : 54 tahun
    Profesi : Petani
    Domisili : Karang Tengah, Lebak Bulus, Jaksel
    Kegiatannya : Menghijaukan Kembali Sungai Pesanggrahan

    Kepeloporannya menjaga kelestarian lingkungan hidup bisa "memerdekakan" bantaran kali dari sampah, menghijaukan lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.

    Tokoh sederhana yang selalu mengenakan pakaian khas betawi, lengkap dengan peci dan goloknya ini memiliki kenangan, saat mudahnya dulu memancing ikan di Kali Pesanggrahan. Kicauan burung begitu merdu menghiasi suasana di pinggir kali. Aneka satwa lain juga dapat dengan mudah ditemui.

    Tapi kondisi di akhir 1980-an sangatlah jauh berbeda. Pinggiran Kali Pesanggrahan jadi tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga. Akibatnya air kali menjadi hitam kelam. Kenangan itulah yang kemudian mendorong H. Chaerudin (54 tahun), atau akrab disapa Bang Idin. bertualang, lima hari enam malam, menyusuri Kali Pesanggrahan ke hulunya di Kaki Gunung Pangrango sejauh 136 km dengan berjalan kaki atau berakit batang pisang.

    Ia mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kali. Pohon apa saja yang tak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan-ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang aliran tersumbat.

    Usahanya dimulai dengan membersihkan sampah. Langkah ini ternyata tidak mudah. "Berkali-kali saya bersitegang dengan orang-orang "gedongan" itu. Saya disebut orang gila. Sering saya diinterogasi dan ditangkap aparat," kenang ketua Kelompok Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana yang dibentuknya tahun 1998.

    Tetapi perlakukan yang didapatkannya, tidak membuat darah kependekaran yang mengalir deras dalam nadinya menggelegak. Baginya tidak berarti harus menggunakan bahasa kekerasan untuk menyadarkan orang "gedongan" yang bertabiat kampungan itu. Berbagai cara ia lakukan untuk kemudian "menyadarkan" mereka.

    Akhirnya berkat kesabaran dan tekad kuat, lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Bang Idin kemudian juga mengajak teman-temannya sesama petani penggarap untuk mengikuti langkahnya.

    Kini , mereka berhasil menanam 40 ribuan pohon produktif disepanjang bantaran kali. Burung-burung yang dulunya pergi akhirnya kembali. Mata air yang dulu tertutup sampah, kembali hidup. Air kali Pesanggrahan kini sudah normal kembali. Ikan-ikan bisa hidup dan berkembang biak.

    Yang paling utama, si Jampang Penghijau ini tidak hanya sekedar merehabilitasi dan melakukan konservasi alam. Namun juga berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar bantaran kali, sehingga mereka bisa hidup dari kegiatan bertani dan beternak. Pohon produktif seperti melinjo, kelapa dan durian bisa dipanen. Demikian juga sayur-sayuran yang ditanam di bantaran kali. Sementara pembibitan ikan juga bisa dilakukan di air yang jernih. Sebagian lahan bantaran kali juga digunakan untuk berternak kambing etawa. "Penyelamatan alam itu harus punya nilai kehidupan," usungnya.
    Hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta, kini juga bisa ditemukan.

    Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta seperti buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, bisbul, dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.

    Berbagai penghargaan telah diperoleh Bang Idin dan kelompoknya. Ada Kalpataru, penghargaan penyelamatan air dan lingkungan dari berbagai negara, seperti Abu Dhabi, Jerman, Belanda, dan lain-lain..Bang Idin juga terus menularkan ilmunya sampai ke bantaran sungai yang lain.

    Dukungan dari masyarakat sekitar, terutama dari pemuda-pemuda sudah didapatkan. Kaderisasi juga terus dilakukan. "Relawan yang saya bina dari berbagai disiplin ilmu jumlahnya sudah ratusan. Mereka kemudian dengan pola yang sama saat ini juga sedang berusaha "memerdekakan" bantaran-bantaran sungai yang lain di Indonesia," terangnya.

    Di tangan Bang Idin, Kali Pesanggrahan yang kotor dengan bantaran yang tak terurus berubah menjadi lahan produktif dan alami.

    klik VOTE + komentarnya biar Bang Idin bisa nanam "jutaan pohon" lagi

  7. #7
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Penyakit Lupus Tidak Melunturkan Semangat Berbagi Wanita Cantik ini


    Usia : 45 tahun
    Profesi : Ketua Syamsi Dhuha Foundation (SDF)
    Domisili : Bandung, Jabar
    Kegiatannya : Care for Lupus & Care for Low Vision

    Meski penuh keterbatasan, kami ingin mereka tetap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

    Sepintas Dian Syarief tak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Tampak sehat dan energik. Tapi saat ingin melihat gambar atau foto, dia harus mendekatkan matanya. "Ini gambar apa ya?" ujarnya memastikan.

    Dian Syarief menderita low vision setelah Systemic Lupus Erythematosus menderanya sejak 11 tahun lalu. Penyakit yang lebih dikenal dengan Lupus ini memaksa Dian hidup dengan berbagai pengorbanan. Ia misalnya tidak bisa melihat jam tangan. Dian memencet sebuah tombol di jam tangannya yang bisa bersuara menunjukkan jam saat itu.

    Bahkan tidak hanya itu. Lupus juga memaksa Dian harus dioperasi besar sebanyak 18 kali! "Salah satu operasi itu dilakukan untuk mengangkat rahim saya," katanya.

    Lupus menyerang pada 1999 ketika Dian berusia 33 tahun. Saat itu, perempuan kelahiran Bandung, 21 Desember 1965 tengah bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta.

    Dua tahun pertama, Dian harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani operasi dan sejumlah terapi karena Lupus di tubuhnya telah menimbulkan banyak komplikasi.

    Masa-masa itu sempat membuatnya syok dan bosan. "Bahkan yang membuat saya terpukul ketika efek dari terapi yang saya jalani menyebabkan saya harus kehilangan penglihatan dan tidak bisa berjalan," katanya.

    Karena itulah Dian merasa lima tahun pertama sejak divonis mengidap Lupus merupakan masa yang berat dalam hidupnya. Dia harus berjuang menyembuhkan diri meski sempat beberapa kali fisik dan mentalnya berada pada titik yang paling rendah.

    Namun sejak 2004, Dian mulai mampu mengembalikan diri. Sedikit demi sedikit dia mulai bangkit. Bahkan tidak hanya memikirikan upaya untuk sembuh, Dian pun mulai membantu orang lain yang bernasib sama dengan dirinya. "Saya mulai berbagi dan memberi motivasi kepada orang lain," katanya.

    Titik balik ini dipicu kesadaran Dian karena berkali-kali masuk ruang operasi. Setiap tersadar setelah operasi, setiap itu pula dia bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup. "Waktu itu terlintas di pikiran saya, mungkin ini kesempatan bagi saya untuk membantu orang lain," katanya.

    Maka, Dian mulai berpikir untuk tidak hanya cukup berucap syukur kepada Sang Pencipta. Lebih jauh, Dian ingin berbuat sesuatu yang nyata bagi orang lain. Pada tahun 2004, bersama suaminya, Eko Pratomo, dia mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF), sebuah LSM nirlaba yang memberi perhatian khusus kepada para Odapus (orang dengan Lupus) dan penderita low vision. "Saya ingin sisa hidup saya dapat berarti bagi orang lain," ujarnya.

    Menurut Dian, melalui program Care For Lupus, SDF ingin membesarkan hati para Odapus (orang dengan Lupus) dan keluarga yang mendampinginya, melalui berbagai aktifitas yang bermanfaat. Selain itu, kegiatan juga ditujukan kepada masyarakat luas.

    "Bahkan cita-cita kami ingin memberikan kesempatan pada semua orang, bukan hanya Odapus, untuk mensyukuri segala karunia yang telah Allah berikan. Caranya, dengan melakukan berbagai aktifitas yang dapat bermanfaat bagi diri pribadi, sekaligus juga bagi orang lain," katanya.

    Di antara kegiatan SDF adalah memberi pelatihan dan motivasi kepada para penderita Lupus sehingga bisa bangki kembali dari keputusasaan. Beberapa alumni pelatihan misalnya, telah mendapatkan sertifikasi di bidang shiatsu sehinga bisa bekerja kembali. "Meski penuh keterbatasan, kami ingin mereka tetap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain," ungkap Dian.

    SDF juga melakukan advokasi untuk para penderita Lupus yang mengalami tekanan di tempat mereka bekerja. Misalnya memberi penjelasan ke perusahaan bersangkutan untuk bisa memahami kondisi penderita Lupus yang mungkin saat bekerja tiba-tiba pingsan, atau memiliki penglihatan yang terbatas.

    Dian bersama SDF juga mencetak komik untuk memberi pemahaman kepada masyarakat luas tentang apa dan bagaimana penyakit Lupus. "Komik kami pilih agar lebih komunikatif sehingga bisa dipahami semua orang, bahkan oleh anak-anak," ujarnya.

    Kegiatan lain yayasan ini adalah memfasilitasi berbagai penelitian ilmiah. Selain itu, sejak tahun 2006, SDF mengupayakan obat murah bagi Odapus. Pada tahun ini SDF juga telah mengajukan kenaikan plafon Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi OKM (Odapus Kurang Mampu) kepada Kementerian Kesehatan RI.

    Kini, ada sekitar 330 yang sudah bergabung bersama SDF. 300 orang di antaranya adalah odapus dan 30 orang mengidap low vision. Mereka tersebar di seluruh Indonesia, seperti Medan, Pontianak, Makasar, dan Denpasar. Demikianlah, dengan tantangan berupa keterbatasan keseatan, Dian bisa berbuat lebih bagi Odapus dan masyarakat luas.

    Sedikit demi sedikit, sepak terjang SDF mulai terdengar baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Pada Mei 2007, SDF diundang menghadiri 'The 8th International Congress on SLE' di Shanghai - China.

    Juni lalu, satu abstrak SDF berjudul 'How to Make Friend with Lupus' juga diterima panitia the 9th International Congress on SLE di Vancouver, British Columbia - Canada. Dian tidak hanya didaulat mempresentasikan konsepnya, tapi juga diganjar penghargaan internasional bernama International Lifetime Achievement Awards.

    klik VOTE dunk + komentarnya Biar semangatnya terus menyala...

    thq

  8. #8
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Pembuat mainan kreatif yang seluruh karyawannya juga para penyandang difabel


    Usia : 38 tahun (29 Desember 1972)
    Profesi : Pembuat Mainan Anak
    Domisili : Bantul, Yogyakarta
    Kegiatannya : Difabel Mandiri, Kreasi Tangan Terampil Penyandang Cacat

    Cacat fisik tak menghalangi Tarjono Slamet menjalankan usaha pembuatan mainan kreatif. Seluruh karyawannya juga para penyandang difabel.

    Penderitaan adalah pelajaran kehidupan. Itulah yang dialami Tarjono Slamet (38). Tahun 1990, Tarjono harus kehilangan kaki kirinya yang terpaksa diamputasi. Dia juga harus menerima kenyataan bahwa 10 jari tangannya tak bisa lagi digerakkan lantaran mengalami kerusakan syaraf.

    Begitu lulus dari Sekolah Teknik Menengah (STM) tahun 1989, Tarjono diterima bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN) bagian instalasi. Ia ditugaskan di wilayah Klaten Jawa Tengah. Belum genap setahun bekerja, Tarjono dan dua orang temannya kesetrum listrik tegangan tinggi. Meski ketiganya selamat, semuanya mengalami cacat seumur hidup, termasuk Tarjono yang harus kehilangan kaki dan fungsi jari-jari tangannya.

    Lelaki kelahiran Pekalongan 29 Desember 1972 itu butuh waktu dua tahun lebih untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Meski sudah setahun belajar di Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Yogyakarta, dan mengikuti sejumlah pendidikan serta keterampilan khusus bagi orang cacat, semangat hidup Tarjono tak juga datang. "Saya butuh waktu yang lama untuk bisa bangkit," kata Tarjono mengenang.

    Kebersamaan dengan sesama penderita cacat akhirnya menggugah Slamet untuk kemudian bangkit dari keputusasaan. Ia juga makin tekun menggeluti latihan keterampilan yang diajarkan di Yakkum. Bahkan, Tarjono sempat dikirim ke Selandia Baru, Australia dan Belanda untuk mengikuti berbagai kursus termasuk pelatihan fund rising.

    Sepulang dari Australia, Tarjono Slamet memutuskan memulai hidup baru menjadi enterpreneur dan pekerjaan sebagai staf Yakkum ditinggalkannya. Dengan bekal keterampilan yang dimiliki dan modal warisan serta uang sisa gaji, Trajono mendirikan CV Mandiri Craft yang memproduksi aneka macam kerajinan kayu seperti alat peraga pendidikan dan puzzle.

    Tarjono merekrut 25 orang yang semuanya penyandang cacat sebagai karyawan. Tak banyak kesulitan memulai usaha karena mayoritas karyawannya adalah alumni Yakkum yang sudah dibekali keterampilan membuat aneka macam kerajinan. Tidak heran jika kemampuan produksi CV Mandiri Craft juga cukup besar mencapai 650 unit per bulannya, jumlah yang setara dengan kapasitas produksi suatu perusahaan yang dikerjakan oleh tenaga tanpa cacat fisik.

    Soal pemasaran, bukan masalah serius bagi Si Pembuat Mainan ini. Pengalaman pernah belajar fund rising ke Eropa dan Australia membuka jaringan pemasaran untuk barang produksinya. Sebagian besar produk Mandiri Craft memang dieskpor, utamanya ke Eropa dan Amerika.

    Dengan pangsa ekspor itu, tak heran jika Tarjono mampu membayar semua karyawannya dengan upah di atas ketentuan pemerintah. Semua karyawan Mandiri Craft digaji di atas Upah Minimum Provinsi atau UMP. "Ini sudah menjadi cita-cita saya yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan teman-teman senasib. Saya ingin agar penyandang cacat bisa sejajar dengan orang normal," katanya tegar.

    Di saat usaha maju dan jumlah karyawan bertambah, musibah kembali datang. Gempa bumi 27 Mei 2006 mengancurkan seluruh peralatan pruduksinya. Satu kontainer barang produksi siap impor, hancur. Bahkan satu karyawannya meninggal.

    Musibah ini menjadi tantangan tersendiri untuk Tarjono. Berat rasanya memulai dari nol kembali. Namun setelah trauma mereda, akal sehat Trajono kembali berjalan. Akibat gempa itu, kata dia, lebih dari 1000 orang mengalami cacat fisik. Mereka tentu butuh penghasilan untuk tetap bertahan hidup karena tak mungkin selamanya menggantungkan diri kepada orang lain. Atas dasar itu, Tarjono bertekad kembali membangun Mandiri Craft yang tinggal puing-puing itu.
    Berbekal bantuan dari masyarakat Jepang dan negara lain, tahun 2007 Tarjono mulai merintis Mandiri Craft lembaran baru. CV Mandiri Craft ia bubarkan. Sebagai gantinya, ia mendirikan Yayasan Penyandang Cacat Mandiri. Usahanya tetap sama yaitu memproduksi aneka mainan dari kayu.

    Tantang yang dihadapi saat ini adalah persaingan yang lumayan ketat dalam pemasaran produk. "Apalagi pasar ekspor, terutama Eropa masih terimbas kiris di sana," ujar Tarjono. Saat ini 80 persen produknya dijual untuk pasar Indonesia seperti ke Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali.

    Masih rendahnya pasar ekspor membuat omset usaha saat ini menurun hingga sebesar Rp 50-an juta per bulan. Sementara saat pasar ekspor sedang bagus, Tarjono bisa membukukan omset hingga Rp 150 juta per bulan. "Menghadapi ini, kami berupaya melakukan efiseinsi, terutama dari sisi bahan utama dan bahan pendukung," jelasnya.

    Meski demikian, produk Yayasan Penyandang Cacat Mandiri tetap mengutamakan kualitas, baik dari sisi kayu maupun cat yang digunakan. "Kami menggunakan cat non tosik sehingga tidak membahayakan anak-anak. Dengan kualitas yang baik, pelanggan tetap setia pada produk kami," jelas Tarjono.

    Saat ini, yayasan itu memiliki 55 karyawan yang semuanya adalah penyandang cacat fisik. Mulai dari produksi, administrasi hingga keuangan, semuanya ditangani oleh karyawan yang difabel secara fisik. Tarjono yang menjabat sebagai manager, mempunyai dua lokasi workshop yaitu di Jalan Parangtritis KM 7,5 di Jalan Parangtritis KM 9.

    "Di Yogyakarta ini masih banyak penyandang cacat yang belum terakomodasi, apalagi setelah gempa 27 Mei. Saya ingin berbagi dengan mereka karena saya ingin kami para penyandang cacat ini sejajar dengan orang-orang normal lainnya," kata Tarjono mantap. Hidup dengan kondisi fisik terbatas tak menghalangi Tarjono untuk maju dan memajukan orang lain.

    butuh klik VOTE + komentarnya dari semua. Biar karya dan semangatnya terus berkembang di mana saja.

  9. #9
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Baginya, sastra sebagai cara meningkatkan kualitas manusia dan bangsa Indonesia


    Usia : 65 tahun
    Profesi : Wiraswasta
    Domisili : Bandung, Jabar
    Kegiatannya : Pembauran Akulturasi Budaya Sunda - Tionghoa

    Soeria menjadikan sastra sebagai media harmonisasi antar warga Tionghoa - Indonesia.

    Soeria Disastra adalah seorang putra Tionghoa yang lahir di Bandung, 28 Mei 1943. Namun melalui sastra, Soeria mampu memperlihatkan betapa perbedaan di antara Tionghoa dan Indonesia tidak membuatnya berjarak. Bahkan, Soeria mampu memadukan harmonisasi di antara keduanya.

    Terlahir dengan nama Bu Ru Liang, Soeria dibesarkan di lingkungan keluarga Tionghoa. Meski begitu, bukan berarti Soeria menjadi seorang yang eksklusif. 'Eksklusifitas' yang dirasakan Soeria tak lain karena keluarganya - seperti halnya keluarga Tionghoa lain di Indonesia - merasa takut akibat hawa politik yang meminggirkan mereka sehingga kerap tidak mau menonjolkan identitas.

    Inklusifitas dibuktikan dengan pergaulan Soeria kecil. Ia tak merasa canggung bergaul dengan warga pribumi. "Pergaulan yang erat dengan warga pribumi membuat saya kerap menggunakan bahasa Indonesia," kata Soeria.

    Keakraban dengan bahasa Indonesia ini terus berlanjut karena Soeria kecil ternyata kerap melahap buku sastra Sunda atau sastra Indonesia lainnya, dan sajian kesenian asli tanah Sunda semisal wayang golek. Maka, kecakapannya berbahasa Indonesia semakin terasah, seiring juga kecintaannya yang semakin besar terhadap bahasa Tionghoa dan Bahasa Sunda.

    Setelah lulus SMA pada 1961, ia mengajar di sekolah menengah selama beberapa tahun, kemudian beralih profesi menjadi usahawan. Sambil berbisnis, ia belajar di Akademi Bahasa Asing, dan selanjutnya menyelesaikan program S1 Jurusan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing, Yayasan Pariwisata Indonesia, Bandung (1987).

    Di sela-sela itu, Soeria menuangkan pemikiran dan perasaannya ke dalam bentuk karya sastra. Prosa dan puisinya dapat dibaca di Harian Indonesia, beberapa majalah sastra dalam bahasa Tionghoa, dan beberapa buku antologi prosa dan puisi bahasa Tionghoa dan Indonesia.

    Soeria pun mendorong warga Tionghoa untuk aktif di Klub Pecinta Sastra Bandung. Klub ini merupakan salah satu seksi dari Perhimpunan Penulis Tionghoa Indonesia (Yin Hua). "Tujuan lembaga ini untuk menggugah apresiasi masyarakat terhadap hasil karya sastra baik di antara masyarakat Tionghoa maupun antara masyarakat Tionghoa dengan komunitas lainnya," kata sosok yang layak disebut Seniman Pemersatu ini.

    Selain menulis karya sastra, Soeria pun menggeluti bidang kesenian lainnya dengan mendirikan Paduan Suara Kota Kembang Bandung pada 1995. Dengan anggota sekitar 100 orang, kelompok ini terdiri dari alumni Sekolah Tionghoa Qiao Zhong (baca: Chiao Cong), tempat Soeria pernah menimba ilmu. Sekolah yang didirikan pada 1947 ini ditutup pada 1966 dalam gelombang anti-Tionghoa setelah G-30-S. "Hingga kini, kelompok ini sering diundang untuk mengisi acara-acara kesenian di Kota Bandung dan sekitarnya," ujar Soeria.

    Di penghujung 90, reformasi politik Indonesia yang mendorong keterbukaan turut membantu meringankan langkah Soeria. Bersama sejumlah budayawan Bandung, dia mulai berani menggelar sejumlah pertunjukkan yang memadukan kesenian Sunda dan Tionghoa. Misalnya, Soeria bertemu dengan Erwan Juhara, Ketua Umum Yayasan Jendela Seni Bandung - sebuah wadah pembinaan dan pengembangan virus seni budaya bangsa. "Kami menggelar sejumlah pertemuan penulis Sunda dan mendiskusikan rencana kegiatan pengembangan penulis Sunda dan Tionghoa," katanya.

    Aktivitas lainnya, misalnya, pada 17 Agustus 2001, Soeria memadukan musik tradisional Tionghoa dan Sunda dalam satu pagelaran. Kegiatan ini didukung oleh sejumlah pengusaha dan budayawan. "Pertunjukkan ini terasa begitu mengharukan karena belum pernah ada sebelumnya," kata Soeria.

    Menurut Soeria, dari berbagai kesempatan itu terlihat betapa warga Tionghoa memiliki keinginan yang tinggi untuk berbaur dengan warga pribumi. "Karena mereka lahir dan besar di sini, warga Tionhoa merasa bagian dari orang Sunda, merasa sebagai warga Indonesia," katanya.

    Selain itu, didukung oleh pengusaha Karmaka Suryaudaya, Soeria menggelar pertemuan budayawan Sunda dengan masyarakat Tionghoa. Kegiatan ini mendorong Soeria mendirikan Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan pada akhir Juli 2002. Salah satu kegiatan lembaga ini adalah menggelar lomba menulis Carpon Mini Sunda (Cerita pendek mini Sunda) yang dibukukan menjadi "Ti Pulpen tepi ka Pajaratan Cinta" (2002).

    Soeria terus gencar menyebarkan pemikiran yang mendorong pembauran di kalangan warga Tionghoa - Indonesia. Tulisannya diramu dalam prosa dan puisi yang sebagian di antaranya sudah dibukukan dengan judul "Senja di Nusantara, Antologi Prosa dan Puisi" pada 2004. Soeria pun menerjemahkan sejumlah puisi baru Tiongkok yang dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul "Tirai Bambu" (2006).

    Soeria juga menerjemahkan kumpulan 65 puisi Tiongkok modern Salju dan Nyanyian Bunga Mei karya Mao Ze Dong (1893-1976) yang rencananya akan diluncurkan dalam waktu dekat.

    Tampaknya, memasuki usia ke-67, Soeria tak lelah menjadikan sastra sebagai media agar harmonisasi di antara warga Tionghoa - Indonesia terus terjaga. Seperti yang ditulisnya di Senja di Nusantara: "Sampai di sini kita telah mencapai suatu kesadaran, betapa pentingnya sastra bagi manusia, bagi bangsa, khususnya bagi usaha meningkatkan kualitas manusia dan bangsa Indonesia untuk mencapai toleransi, keterbukaan, kesadaran akan pluralisme, kecerdasan dan kebijaksanaan."

    Klik VOTE + komentarnya ya...

    Tq.

  10. #10
    Newbie
    Join Date
    Oct 2010
    Posts
    11
    Rep Power
    0

    Nenek Lilik, Melawan Bodyguard Gang Dolly sampai Giginya Rontok


    Usia : 51 tahun
    Profesi : Aktivis Yayasan Abdi Asih
    Domisili : Surabaya, Jatim
    Kegiatannya : Memberi Pendampingan dan Penyadaran bagi para PSK di kawasan Lokalisasi Dollly Surabaya

    Hati Vera menjerit saat didatangi anak perempuan 15 tahun pengidap infeksi menular seksual.

    Pagi baru menginjak pukul 9.00 tapi terik sang surya di kota Surabaya terasa menyengat. Namun, di sebuah rumah sempit yang terletak di ujung jalan Dukuh Kupang Timur XIII, seorang wanita setengah baya tetap berjuang mempertahankan eksistensinya sebagai "Srikandi Gang Dolly".
    Dengan usia menapak 51 tahun, Lilik "Vera" Sulistyowati tak lagi muda. Tapi semangatnya tetap membara kendati air matanya sesekali menetes ketika mengenang awal mula dia memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang tertindas di Gang Dolly, Surabaya, komplek pelacuran yang cukup tersohor di Asia Tenggara.

    Sejak kecil Vera sudah tertarik untuk membantu orang yang sedang dalam kesusahan. Ia sering mencuri jatah beras ayahnya yang anggota ABRI, untuk dibagikan pada orang-orang yang kelaparan. "Tak jarang ia kena marah bila aksi ini diketahui orang tuanya
    Vera terusik "masuk" ke Gang Dolly setelah membaca berita di koran bahwa wanita di sini sering disiksa, diperlakukan tidak manusiawi, bahkan ada yang menjadi korban pembunuhan. "Hati saya terketuk untuk mengulurkan tangan dan mengentaskan mereka agar diberikan hak yang sama seperti wanita pada umumnya," ucapnya tegas.

    Ia tengah hamil delapan bulan saat ditinggal suaminya pada tahun 1987 karena kecelakaan lalu lintas. Setelah itulah dia mulai menjamah Gang Dolly. Kala itu ia perjuang agar hak-hak pekerja seks komersial (PSK) diberikan sebagaimana mestinya. Salah satunya saat diberikan suntikan pinicylin dengan hanya 1 jarum untuk sepuluh orang.

    Namun usahanya tak semudah seperti membalikkan telapak tangan karena dia harus menghadapi bodyguard komplek tersebut. Saat dia masuk untuk mengulurkan tangannya pada wanita lemah di sana, bukan sapaan yang diterimanya, tetapi pukulan keras yang membuat beberapa gigi depannya tanggal. Ganjalan lain juga datang dari keluarga dan orang dekat. Orang tuanya memisahkan Vera dari anak-anaknya. Bahkan ada yang menganggapnya gila atau malah memanfaatkan perempuan Dolly.

    Meski banyak tantangan ia tetap gigih, bahkan sampai menyamar menjadi penjual jamu dan bartender. Dengan penyaraman ini ia bisa melihat permasalahan dengan lebih nyata. Langkah pemberdayaan yang dilakukannya ketika itu adalah dengan mengadakan arisan bersama dengan para mucikari. "Dengan arisan ini diharapan tidak ada lagi kecemburuan sosial dan pembunuhan di sana karena permasalahan bisa diselesaikan dengan baik," katanya.

    Pada tahun 1991, timbul kesadaran untuk mendirikan lembaga yang mewadahi aktifitasnya di Dolly. "Dengan adanya lembaga, kegiatan bisa dilakukan lebih efektif dan melibatkan berbagai pihak terkait," ujar Vera Setelah itulah Yayasan Abdi Asih berdiri dan menjalankan aksi sosialnya.

    "Saya tidak menyuruh para PSK untuk keluar dari kompleks pelacuran tetapi ayo belajar. Meski kini mereka bergelimang uang tetapi masa depan adalah yang utama dan mereka termotivasi untuk belajar tata boga, menjahit serta kecantikan. Hal ini sebagai bekal agar mereka bisa mandiri setelah tua nanti," tegasnya.

    Vera juga tergelitik untuk mencegah terjadinya pelacuran anak di bawah umur. Hati Pejuang Martabat perempuan Dolly ini menjerit saat didatangi anak remaja usia15 tahun yang tertular IMS. Bapak dan ibunya minggat entah kemana dan dia harus menghidupi adik-adiknya sehingga harus rela menjual dirinya meski taruhannya organ wanitanya rusak. Vera terus membimbingnya dan pada suatu hari dia lebih terbuka untuk menceritakan apa yang menimpa dirinya.
    Untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan sosial anak-anak yang kurang beruntung, Vera rela begadang di kuburan hingga pagi menjelang. "Betapa sedihnya saya, laki-laki kecil yang malang bersodomi di atas makam, gadis kecil yang menjajakan tubuhnya. Untuk lebih dekat dengan mereka, saya rela ngobrol bersamanya hingga jam 1 dinihari. Mau jadi apa generasi muda bangsa ini jika saya hanya duduk di belakang meja," cerita Vera, lirih..

    Melalui Yayasan Abdi Asih, Vera memberikan lapangan pekerjaan bagi anak-anak putus sekolah untuk menggunting bahan perca untuk dibuat selimut. Bola-bola tahu hasil praktek tata bahkan dipasarkan di swalayan. Upahnya lumayan, Rp 20 ribu/hari dengan tambahan makan. Dengan begitu anak-anak ini bisa kembali ke bangku sekolah. Abdi Asih telah menelurkan lebih dari seribu siswa didik dari kalangan PSK, ibu-ibu yang menghadapi masalah rumah tangga serta remaja putus sekolah.

    Selain dari hasil berjualan jasa boga dan menjahit baju anak-anak dan selimut, Vera memperoleh pendanaan untuk traficking dari lembaga di Amerika, Save the Children yang dicairkan melalui Dinas Sosial Kota Surabaya.

    Vera mengaku menemukan kebahagiaan sejati ketika menghantarkan anak-anak saya ke gerbang keberhasilan. Ia tidak menyesal saat tiga rumah yang dimilikinya dulu terjual untuk membiayai aktivitasnya di Dolly. Itu terbayar saat melihat anak-anak itu bisa hidup mapan. Saya juga masih ingin menghabiskan sisa hidup saya di tempat yang sempit ini," ujar nenek dengan 3 cucu ini.

    butuh klik VOTE + komentarnya dari semua.

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO