SAATNYA INDONESIA MEMILIH PERAIH DANAMON AWARD 2010
Panel Juri tetapkan 10 Finalis;
Periode Voting Dibuka dari 8 September – 21 Oktober 2010
Panitia Pelaksana Danamon Award 2010 hari ini mengumumkan 10 finalis Danamon Award 2010, yang diantaranya berasal dari Sumatera Barat, Jawa, Bali, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Lingkup kegiatan yang dilakukan pun sangat beragam, diantaranya dalam hal lingkungan hidup, hak azasi manusia dan kesehatan. Para finalis ini terpilih setelah melalui proses seleksi, penjurian dan verifikasi selama bulan Agustus dan awal September, yang melibatkan lebih dari 200 kandidat dari seluruh Indonesia.
Mulai hari ini hingga 21 Oktober 2010 mendatang, Danamon Award mengundang masyarakat luas untuk mengenal para finalis lebih jauh dan selanjutnya memberi dukungan suara melalui voting online dan sms untuk memilih tiga peraih Danamon Award 2010 terfavorit. "Segenap masyarakat Indonesia bebas memilih finalis favoritnya sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010 melalui situs www.danamonaward.org/finalis-2010 ataupun pesan singkat (SMS) ke nomor 9123 dengan format "DA [nomor kode finalis]", jelas Zsa Zsa Yusharyahnya, Organizing Committee Head Danamon Award. Contoh: ketik "DA 1" untuk memilih finalis nomor satu.
Panel juri telah menetapkan sepuluh finalis berdasarkan lima kriteria, yaitu: Semangat Bisa dan keberhasilan dalam mengatasi tantangan; hasil (output) dari kegiatan yang dilaksanakannya; kemajuan yang dihasilkan bagi lingkungan sekitar (outcome); dampak meningkatnya pengetahuan dan kemampuan komunitas serta orang-orang yang terlibat, termasuk tingkat ketertarikan para pihak ketiga untuk mendukung dan membantu pengembangannya kedepan (impact); dan keberlanjutan kegiatan (sustainability).
Panel Juri Danamon Award 2010 terdiri dari Mira Lesmana (Produser film), Prof. Yohanes Surya, Ph.D (Guru besar fisika, Rektor Universitas Multimedia Nusantara), Firmanzah, Ph.D (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), Shinta Dhanuwardoyo (Pengusaha, IT Icon Indonesia) dan Desi Anwar (Wartawan, penulis, presenter, dan produser senior). Disamping para juri, Danamon Award 2010 menghadirkan Panel Penasehat yang mendukung Panel Juri dalam mengevaluasi para kandidat. Panel Penasehat ini terdiri dari jurnalis dan aktivis lingkungan Gouri Mirpuri, praktisi pemberdayaan Ade Suwargo Mulyo, dan Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli Bonaria Siahaan.
"Profil dari para finalis sangat menarik dan beragam. Masing-masing menunjukkan semangat mewujudkan yang terbaik bagi orang banyak, dan keberhasilan dalam mengatasi rintangan yang berat," kata Mira Lesmana, salah satu juri Danamon Award 2010.
Adapun profil singkat dari kesepuluh finalis Danamon Award 2010 adalah sebagai berikut:
1. Pahlawan Pustaka, DA 1
Dengan sepeda onthel-nya, Kiswanti (43 tahun) rutin berkeliling meminjamkan buku koleksinya secara gratis. Dia bahkan lebih rela dibayar buku dari pada uang. Semangat ingin maju dan memajukan orang lain membuat isteri buruh bangunan ini bisa berbagi ilmu melalui buku, melalui sebuah taman bacaan di Parung, Bogor, yang ia dirikan tahun 2003.
2. Pahlawan Pustaka, DA 2
Eky Talaut (55 tahun) asal Desa Taar, Kota Tual, Provinsi Maluku, ini menciptakan seratus lagu berbahasa daerah dan tiga alat musik berbahan baku bambu. Dengan lagu dan alat musik, ia mengenalkan daerahnya kepada Indonesia dan dunia. Melalui karyanya, kawasan Pulau Kei pun semakin dikenal masyarakat luas.
3. Komunikator Nasionalis, DA 3
Erwan Asbun (43 tahun), menjawab sepinya kehidupan di desa terpencil, Baun Bango, Katingan, Kalimantan Tengah yang sebelumnya tanpa sarana komunikasi. Ia mengudarakan Radio Asbun sejak tahun 2005 sebagai sarana informasi dan hiburan. Radio ini bahkan mampu menghilangkan kebiasaan berkelahi massal yang sering terjadi disana.
4. Pembela Petani, DA 4
Bersama teman petaninya, Masril Koto (36 tahun) warga Agam, Sumatera Barat ini berupaya mengatasi kesulitan modal para petani dengan mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani. Dari modal Rp500 ribu, LKMA yang diresmikan tahun 2007 tersebut saat ini menjadi model pendanaan bagi para petani di Sumatera Barat.
5. Jampang Penghijau, DA 5
H. Chaeruddin / Bang Idin (54 tahun), warga Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini prihatin melihat Kali Pesanggrahan yang jadi tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga. Dia menyusuri hulu kali ini sejauh 136 km untuk membersihkan dan membangun kesadaran warga agar menjaga kebersihan kali. Bersama temannya sesama petani, Bang Idin telah menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali.
6. Lupus Champion, DA 6
Walau kondisi kesehatan menurun akibat Lupus yang diderita sejak 1999, Dian Syarief (45 tahun) mampu mengomandani relawan dalam program Care for Lupus dan Care for Low Vision sejak 2003. Ketua Syamsi Dhuha Foundation Bandung ini bersama relawan melakukan berbagai aktivitas dan menerbitkan buku untuk membantu meringankan penderitaan para pengidap Lupus.
7. Pembuat Mainan, DA 7
Dengan kondisi kehilangan kaki dan saraf tangan mati, Tarjono Slamet (38 tahun) membangun usaha Mandiri Craft di Bantul, Yogyakarta yang membuat aneka mainan kreatif. Untuk menjalankan usaha, si Pembuat Mainan merekrut 25 karyawan para penyandang polio di Solo, Semarang, Banyuwangi, Magetan dan Gunung Kidul.
8. Seniman Pemersatu, DA 8
![]()
Melalui pembauran budaya, Soeria Disastra (65 tahun) warga Bandung ini berusaha menjalin ikatan kekeluargaan yang lebih erat antara etnis Tionghoa dan masyarakat sekitar. Ia menjadi penyebar virus kebudayaan Sunda di Kalangan Etnis Tionghoa melalui Paduan Suara Kota Kembang, Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan dan Komunitas Sastra Tionghoa Indonesia.
9. Pendekar Anak Terlantar, DA 9
Wayan Nika Msi (60 tahun), guru berstatus pegawai negeri sipil ini menunjukkan kepedulian tinggi terhadap anak terlantar, baik yatim piatu maupun anak tidak mampu. Melalui Panti Asuhan Hindu Dharma Jati I di Klungkung dan Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II di Denpasar, Pendekar Anak Jalanan ini berhasil mendidik 1.400 anak yang kini sukses bekerja di berbagai hotel di Bali dan profesi lainnya.
10. Pejuang Martabat, DA 10
Lilik Sulisyowati (51 tahun), aktivis Yayasan Abdi Asih Surabaya, Jawa Timur ini memberi pendampingan dan penyadaran untuk pekerja seks komersial (PSK) di kawasan lokalisasi Dolly Surabaya. Ia membekali mereka keterampilan menjahit, memasak dan kecantikan. Ia juga mencegah pelacuran anak bawah umur dan menyadarkan anak usia SMP pelanggan PSK. Yayasan tersebut digerakan dengan modal awal menjual rumah sendiri.
Klik VOTE


LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote



Bookmarks