Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 14
Like Tree2Likes

Thread: Beginilah Nasib Mantan Atlet Peraih Medali Emas di Indonesia


  1. #1
    Senior Member
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    1,239
    Rep Power
    0

    Beginilah Nasib Mantan Atlet Peraih Medali Emas di Indonesia

    JAKARTA Marina Segedi. Mantan atlet pencak silat ini pernah menjadi pahlawan bagi bangsanya. Ia telah mempersembahkan medali emas saat SEA Games di Filipina, 1981, untuk Indonesia.



    Kini Marina tidak lagi jaya. Ia bukan atlet lagi, dan tentu saja, usianya sudah paruh baya, 47 tahun. Sang juara itu pun harus berjuang keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini ia beralih menjadi sopir taksi.



    Setiap hari pagi-pagi buta, Marina harus membelah jalanan. Saat kebanyakan orang masih pulas dalam tidurnya, ia sudah harus berangkat ke pool taksi Blue Bird yang terletak di Buaran, Jakarta Timur. Kemudian mencari penumpang menjelajah seantero Jakarta.

    Maklum hidup Marina sekarang bisa dibilang pas-pasan. Rumah belum dimilikinya.Apalagi setelah ia berpisah dengan suaminya, Rainer Nurdin, pada 1990. Perempuan yang juga menjadi juara tingkat Asia di Singapura itu, terpaksa harus menghidupi sendiri kedua anak perempuannya yang masih kecil, yaitu Ayu Yulinasari dan Rima Afriani Caroline.

    Sejak saat itu ia pun mulai kerja apa saja untuk mencari nafkah. Awalnya Marina bekerja sebagai sopir taksi, pada 1991. Namun 3 tahun kemudia ia berhenti. "Setelah berhenti, saya bekerja apa saja. Pernah dagang kue, nasi, sampai jadi peran pembantu di film. Dan Januari 2011 saya masuk lagi ke Blue Bird," ujar Marina kepada detik+.

    Sekalipun pernah mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia, tidak banyak yang diterima Marina dari pemerintah. Ia mengaku hanya sempat mendapat beasiswa Supersemar selama 1 tahun dari Presiden Soeharto saat itu. Beasiswa yang diterimanya per bulan Rp 100 ribu. Setelah itu tidak ada perhatian apa-apa lagi.

    Perhatian pemerintah mampir pada Marina ketika tidak sengaja ia bertemu dengan pegawai Kemenpora bernama Karsono, Juni 2011. Pagi itu Karsono yang tinggal di Kompleks Inkopol, Kranji, Bekasi, naik taksi yang dikemudikan Marina.

    Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, Karsono mengetahui sopir taksi yang ditumpanginya ternyata mantan atlet pencak silat yang berprestasi. Marina merupakan peraih medali emas di SEA Games dan kejuaraan Pencak Silat tingkat Asia di Singapura.

    "Pak Karsono kemudian bertanya apakah medali-medali itu masih ada. Saya jawab semuanya masih ada. Begitu juga dengan dokumentasi saat saya meraih penghargaan itu," kenang Marina.

    Setibanya di Kemenpora, Karsono minta Marina ikut masuk. Marina diajak ke lantai 7 untuk bertemu dengan Yuni Purwanti, yang bertugas mengurusi para mantan atlet.


    Kemenpora memang memiliki program tunjangan rumah untuk mantan atlet yang berprestasi. Sayang tidak banyak atlet yang tahu soal program itu. Marina beruntung karena kebetulan bertemu Karsono yang memberitahu dan membantunya untuk mendapatkan tunjangan tersebut.
    Marina kemudian diminta membawa medali berikut piagam penghargaan yang pernah ia dapatkan untuk mengurus tunjangan rumah. Wanita blasteran Jerman-Jawa itu selama ini memang masih menumpang di rumah orang tuanya di daerah Bintara, Bekasi Barat.

    Namun proses untuk mendapatkan tunjangan rumah sebesar Rp 125 juta memang tidak mudah. Paling tidak ia harus menunggu 3 bulan untuk ditetapkan sebagai mantan atlet yang berhak mendapat tunjangan itu. "Kata Bu Yuni tunjangan itu harus melalui persetujuan beberapa pihak. Jadi saya disuruh berdoa saja," cerita Marina kepada detik+.

    Akhirnya pada 9 September 2011, tunjangan rumah dari Kemenpora diterima Marina. Tentu saja tunjangan itu membuatnya senang. Paling tidak tunjangan itu bisa dimanfaatkan Marina sebagai bekal jika sudah tidak lagi menjadi sopir taksi.

    Hidup pas-pasan juga dialami Hapsani, peraih medali perak dan perunggu di SEA Games 1981 dan 1983. Bahkan mantan atlet lari estafet 4 x 100 meter ini terpaksa menjual medali yang diperolehnya ke pasar loak di Jatinegara Jakarta Timur, pada 1999.

    "Suami saya terpaksa menjual medali-medali itu untuk beli makanan. Sebab saat itu suami saya menganggur," jelas Hapsani yang kini telah berusia 50 tahun.

    Kondisi perekonomian Hapsani dan suaminya, Muhammad Hatta, memang sangat memprihatinkan. Meski usia keduanya sudah senja, namun hingga saat ini mereka belum juga memiliki rumah. Pasangan ini masih menumpang di rumah orang tua Hapsani di daerah Salemba, Jakarta Pusat.

    Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Hapsani bergantung dari penghasilan suami yang bekerja serabutan. Selain itu ia juga berupaya mencari tambahan dengan menjadi pelatih atletik untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Penghasilan yang didapat itu tentu saja tidak seberapa.

    Kisah Marina dan Hapsani merupakan gambaran nyata betapa tragisnya nasib sejumlah mantan atlet yang dulu pernah berjasa mengharumkan nama bangsa. Mereka terpaksa hidup pas-pasan, membanting tulang untuk menyambung hidup usai pensiun sebagai atlet nasional.

    Selain Marina dan Hapsani, sebenarnya masih banyak mantan atlet berprestasi yang nasibnya sengsara. Hanya saja pemerintah mengaku kesulitan untuk mencari informasi keberadaan mereka.

    "Kami sulit mencari tahu keberadaan mereka sebab alamatnya sudah berubah. Kami berharap masyarakat yang mengetahui ada mantan atlet berprestasi yang hidupnya susah segera laporkan ke Kemenpora," kata Menpora Andi Mallarangeng.

    Ketua Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) Icuk Sugiarto menilai pemerintah kurang serius memperhatikan nasib para atlet. Bila pemerintah serius, sebenarnya mudah saja menemukan atau mencari tahu nasib para mantan atlet yang dulu pernah meraih prestasi.

    "IANI saja yang berdiri sejak 2005 memiliki database nama-nama atlet dari tahun 1951 sampai sekarang. Kan aneh kalau pemerintah yang punya infrastruktur justru tidah tahu data para atletnya. Apalagi atlet-atlet yang dulu berprestasi," ujar Icuk, yang juga mantan atlet bulutangis.

    Menurut catatan IANI, pada 2007 terdata setidaknya atlet yang pernah meraih medali emas di tingkat SEA Games jumlahnya 1.500 orang. Untuk tingkat Asean Games jumlahnya sekitar 90 orang, dan tingkat dunia jumlahnya kurang dari 75 orang. Belum lagi peraih medali perak dan perunggu.

    Tulisan detik+ berikutnya: Laporan Utama 'Surat Rahasia Sri Mulyani' dan Laporan Khusus 'Nasib Tragis Pahlawan Olahraga' antara lain 'Susahnya Cap Tiga Jari Suswanti', 'Jangan Terlantar Setelah Pensiun' dan 'Hujan Medali Berhenti, Sukses Tetap Milik Susi' bisa Anda dapatkan di detiKios for Ipad yang tersedia di apple store.



    Simak juga trit trit punya priyatin yg masuk topik pilihan
    Spoiler for silahkan buka:


    Yang lebih parah lagi atlet tinju bahkan sebagian ada yg bunuh diri

    Spoiler for berita nya gan:



    PALEMBANG – Mantan petinju Sumatera Selatan (Sumsel), Sardiman alias Mandek (32), dinihari kemarin sekitar pukul 02.30 WIB ditemukan tewas mengenaskan.

    Saat ditemukan, leher korban terjerat rantai samsak tinju dan tergantung di tiang besi depan rumahnya, Jalan RHA Amfait Jaya, Lorong Perjuangan No 12, RT 3/05,Kelurahan 20 Ilir,Kecamatan Ilir Timur (IT) I,Palembang. Belum diketahui secara pasti apa penyebab kematian korban. Apakah murni tewas akibat bunuh diri atau akibat lain.

    Namun kuat dugaan kematian mantan petinju yang pernah mengharumkan nama Sumsel ini akibat bunuh diri. Dia nekat mengakhiri hidup lantaran takut dikeroyok rekan- rekannya yang dendam. Pasalnya, Sabtu 20 Maret lalu korban terlibat pertengkaran dengan tetangganya,Aris Yasin (43),hingga mengakibatkan Aris luka tusuk di tangan kiri dan luka bacok di mulut.

    Keributan itu dipicu dendam lama terkait perebutan lahan parkir. Atas peristiwa itu,korban dilaporkan ke Polsekta Ilir Timur I Palembang dengan kasus penganiayaan dan ditetapkan sebagai tersangka. Nah, diduga takut diperiksa polisi dan khawatir dikeroyok rekan-rekannya, akhirnya korban mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.

    Jasad korban pertama kali ditemukan adik kandungnya dan tetangga korban dalam posisi tergantung. Oleh aparat Polsekta Ilir Timur I Palembang jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang untuk divisum.

    Rumiah,66,ibu kandung korban membenarkan satu minggu lalu korban sempat ribut dengan tetangga.” Memang Pak,Mandek tu ribut sampe bekapakan.Dio jugo takut balek kareno waktu kejadian banyak wong yang datang ke rumah bawa parang dan pisau panjang,” ujarnya ditemui di rumah duka, Kamis 25 Maret.

    Menurut Rumiah, sejak kecil almarhum tidak pernah membuat keributan.Apalagi sejak 1998 dia turun ke arena tinju bersama teman- temannya.”Anak aku itu satu leting dengan Chris Jhon waktu bertinju tahun 1990,”jelasnya. Ibu lima anak ini menjelaskan, sudah banyak prestasi yang disandang korban.

    Terakhir mendapat penghargaan sabuk emas.Tetapi, sejak tidak lagi naik ring tinju, tidak ada lagi perhatian baik dari pelatih maupun pemerintah. ”Dari awal Mandek galak menang, sampe sekarang dak ado pemerintah yang jingok,apalagi yang nak kasih bonus atau penghargaan lainnya kepada orang tua,” ungkap warga asli Kuningan, Jawa Barat ini.

    Mantan petinju nasional,Johny Riberu yang dihubungi Seputar Indonesia mengaku mengetahui kabar meninggalnya korban dari telepon Sekum Pertina Pengprov Sumsel, Daud Rotasi yang menanyakan nama Sardiman. Awalnya Johny mengira yang dimaksud Daud adalah Katiman, salah seorang petinju yang pernah dilatihnya.

    Namun setelah dijelaskan, barulah Johny mengingat sosok yang ditanyakan koleganya tersebut. Menurut Johny,nama Sardiman memang pernah beredar sebagai petinju Sumatera Selatan di tahun 1990-an. Bahkan petinju yang terkenal kalem ini tidak lama menapaki jenjang tinjua matir. Dia lebih banyak bertanding di tinju profesional meski hanya bersifat lokal Sumsel saja.

    ”Seingat saya, dia ini petinju yang cukup bagus dan pernah menjuarai open tournament di Lahat. Beberapa kali Kejurda juga dia ikuti.Tapi sebagai pelatih saya tidak sempat menangani petinju satu ini,” ujar pelatih petinju Sumsel ini.

    Kapolsekta Ilir Timur I AKP M Kadarislam Kasim Sik didampingi Kanit Reskrim Iptu AK Sembiring membenarkan almarhum terlibat tindak pidana penganiayaan Pasal 351 KUHP dengan korban Aris Yasin (30) tetangga korban.

    “Memang almarhum telah ditetapkan sebagai tersangka sesuai laporan korban Aris nomor polisi (nopol) LP/192/III/IT I Palembang tertanggal 20 Maret 2010. Karena tersangka telah meninggal dunia akhirnya kasus penganiayaan yang ada di SP3-kan,”jelas Sembiring.

    Terkait ada indikasi korban tewas dibunuh karena kasus yang menjeratnya, langsung dibantah Sembiring. Menurut dia sesuai hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan hasil visum RSMH tidak ditemukan luka bekas penganiayaan.” Korban meninggal dunia karena jeratan rantai samsak,” katanya.
    Last edited by priyatin; 23-11-11 at 12:13 PM.

  2. #2
    Junior Member Nentautako's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    308
    Rep Power
    7

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    taxinya muyus banget mo... toyota limo paling baru euuuyy.....

  3. #3
    Senior Member
    Join Date
    Aug 2011
    Posts
    2,181
    Rep Power
    6

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    sunguh tragis ya gan mereka sudah mengharumkan namabangsa tapi kini mereka hidup menderita ...

  4. #4
    Member SMARTNEWZ's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Boyolali
    Posts
    775
    Rep Power
    0

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    sangat tragis sekali, padahal waktu itu telah mengharumkan nama Indonesia di Kancah Asia.

  5. #5
    Junior Member INERTSEVEN's Avatar
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    475
    Rep Power
    0

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    ane suka thread ente bro... semua bagus,, keep posting aja bro....

  6. #6
    Junior Member afitzone's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Tegal, Jawa Tengah
    Posts
    129
    Rep Power
    0

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    bagus bagus tu.....harus diperjuangkan......

  7. #7
    Junior Member lululala's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Posts
    347
    Rep Power
    4

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    Quote Originally Posted by INERTSEVEN View Post
    ane suka thread ente bro... semua bagus,, keep posting aja bro....
    iyah bagus2 dari maren...

    btw,kasihan jg yaa jerih payah dulu jadi juara sekarang malah begini.. kenapa gak jaid pelatih aja sih?
    priyatin likes this.

  8. #8
    Senior Member
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    1,239
    Rep Power
    0

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    Quote Originally Posted by lululala View Post
    iyah bagus2 dari maren...

    btw,kasihan jg yaa jerih payah dulu jadi juara sekarang malah begini.. kenapa gak jaid pelatih aja sih?
    kalo pendidikan memadai mestinya jadi pegawai negri lah.. biar dapet pensiun

  9. #9
    Junior Member stroom's Avatar
    Join Date
    Oct 2011
    Posts
    322
    Rep Power
    0

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    Sekalipun pernah mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia, tidak banyak yang diterima Marina dari pemerintah. Ia mengaku hanya sempat mendapat beasiswa Supersemar selama 1 tahun dari Presiden Soeharto saat itu. Beasiswa yang diterimanya per bulan Rp 100 ribu. Setelah itu tidak ada perhatian apa-apa lagi.
    mudah mudahan gak ada yang salah faham dengan Rp 100ribu tsb.....
    uang segitu zaman dulu gak sama lho gan dengan zaman sekarang hehe.....

  10. #10
    Contributor tamandewi's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    http://tips-cara.info
    Posts
    3,823
    Rep Power
    7

    Re: Beginilah nasib mantan atlet peraih medali emas di Indonesia

    wah kasihan juga ya....mestinya lebih dapat penghargaan lah...untung dikasih tau ada tunjangan rumah

Page 1 of 2 12 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
©2008 - 2013 PT. Kompas Cyber Media. All Rights Reserved.

Content Relevant URLs by vBSEO