Monumen 11 September berhasil menarik lebih dari 2 juta pengunjung sejak dibuka pada 11 September 2011.
Sekarang ini, bencana dan kematian telah menjadi salah satu tujuan wisatawan yang menjadi bagian dari budaya modern masyarakat global.
Turisme jenis ini, lebih mengejar pada pengalaman baru yang lebih menekankan intelektualisasi liburan pada studi dan pelajaran.
"Kebanyakan dari mereka menginginkan adanya penambahan pengetahuan yang didapat dari jenis wisata yang mereka ikuti," kata Kartum Setiawan, pendiri Komunitas Jelajah Budaya yang dihubungi Beritasatu.com beberapa waktu lalu.
Menurut Kartum, fenomena perkembangan Dark Tourism sangat dipengaruhi oleh unsur edukasi dari wisata itu sendiri serta peran media sebagai pemberi ide awal untuk wisatawan berniat mencobanya.
"Masyarakat sekarang ini merupakan masyarakat yang rasional, yang lebih membutuhkan jenis wisata yang bukan dibuat-buat," katanya menambahkan.
Di dunia terdapat banyak destinasi atau lokasi yang merupakan tempat kematian atau bencana, yang telah mengundang jutaan wisatawan datang menyaksikan.
Diantara situs Dark Tourism yang paling terkenal di dunia adalah lokasi pembantaian kalangan Yahudi di kamp konsentrasi Auswitch.
Tempat ini kabarnya menyedot sekitar 1,3 juta pengunjung setiap tahun dari seluruh penjuru dunia.
Selain Auswitch, lokasi runtuhnya Menara Kembar di kota New York yang sekarang dikenal wisatawan dengan nama Ground Zero, merupakan salah satu situs yang populer bagi wisatawan dari seluruh dunia.
Sekarang, monumen nasional 11 September merupakan salah satu atraksi New York City yang paling populer, dan berhasil menarik lebih dari 2 juta pengunjung sejak dibuka pada 11 September 2011.
Selain kedua lokasi diatas, masih banyak lokasi lain yang menjadi saksi dari tragedi dan kekejaman dari masa lalu yang masih menarik dikunjungi sampai sekarang. Sebut saja misalnya, ladang kuburan massal di Kamboja, Anne Frank's House, Arlington National Cemetery dan lain-lain.
"Selain sisi mendatangkan wisatawan, peran Dark Tourism juga penting untuk mendokumentasikan sejarah. Indonesia sendiri memiliki banyak rekam jejak yang terkait dengan konsep Dark Tourism. Ambil contoh misalnya soal Pembantaian Westerling, peristiwa Kapitan China di kawasan Glodok atau Bencana Tsunami di Aceh," kata pria yang juga peneliti di Museum Bank Mandiri ini.
Lebih lanjut Kartum mengatakan, bukanlah rahasia jika sampai sekarang masih banyak orang datang ke Aceh untuk melihat langsung sisa tsunami yang merenggut nyawa sekitar dua ratus ribu masyarakat Aceh itu.
Tak beda dengan Aceh, sekarang ini sebagian besar wisatawan yang datang ke Yogya tak akan melewatkan kunjungan ke lereng Merapi, untuk menyaksikan secara langsung akibat semburan lava gunung berapi teraktif di dunia itu.
Menurut alumnus jurusan Sejarah Universitas Indonesia ini, semua peristiwa memiliki paduan unsur yang sangat menarik berupa human interest dengan kisah yang selalu tertanam dalam ingatan, kerusakan dan kematian yang sangat banyak, yang didalamnya juga terdapat unsur fakta.
Sumber : Lokasi Wisata Dark Tourism Menyebar di Seluruh Dunia | Dark-tourism | Beritasatu.com


LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote

Bookmarks